Bahasa dan Peradaban: Dari Buton ke Dunia—Mengukur Akar di Tengah Arus Global

Oleh: Sumiman Udu


Di tengah derasnya arus globalisasi yang menyeragamkan cara bicara dan berpikir, bahasa-bahasa daerah di Sulawesi Tenggara seperti Wolio, Cia-Cia, Muna, dan Tolaki menghadapi ancaman senyap: ditinggalkan oleh generasi mudanya sendiri. Fenomena ini bukan sekadar pergeseran linguistik, tetapi menandai krisis yang lebih dalam—tergerusnya akar peradaban dan karakter lokal di tengah dominasi bahasa global yang kian menguat.


Rumah Ingatan: Ada paradoks yang diam-diam tumbuh di jazirah Sulawesi Tenggara: di satu sisi, dunia semakin dekat; di sisi lain, rumah sendiri semakin jauh. Bahasa-bahasa daerah—yang dahulu menjadi napas kehidupan sehari-hari—kini perlahan surut, terdesak oleh bahasa nasional dan global yang dianggap lebih menjanjikan masa depan.

Di tanah Buton, Wakatobi, Muna, hingga daratan Tolaki, bahasa bukan sekadar alat komunikasi. Ia adalah sistem pengetahuan. Bahasa Wolio, Cia-Cia, Muna, hingga Tolaki tidak hanya menyimpan kosakata, tetapi juga menyimpan struktur berpikir. Dalam satu ungkapan adat Buton, misalnya, tersimpan konsep kepemimpinan, etika, dan kosmologi yang tidak bisa diterjemahkan secara utuh ke dalam bahasa lain. Bahasa menjadi arsip hidup peradaban.

Namun hari ini, arsip itu mulai lapuk—bukan karena usia, tetapi karena ditinggalkan.

Generasi muda di Sulawesi Tenggara semakin fasih dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, tetapi semakin canggung dalam bahasa ibunya sendiri. Di ruang keluarga, bahasa daerah mulai digantikan. Di sekolah, ia nyaris tak mendapat tempat yang layak. Di ruang digital, ia kalah cepat, kalah populer, kalah “menjual.”

Fenomena ini bukan hanya terjadi di Sulawesi Tenggara. Ia adalah bagian dari gejala global.

Di berbagai belahan dunia, bahasa-bahasa lokal menghadapi nasib yang serupa. Bahasa-bahasa pribumi di Amerika Latin, bahasa Aborigin di Australia, hingga bahasa minoritas di Eropa perlahan menyusut. UNESCO bahkan mencatat bahwa ribuan bahasa di dunia terancam punah dalam satu abad ke depan. Setiap bahasa yang hilang bukan hanya kehilangan bunyi, tetapi juga kehilangan cara unik dalam memahami realitas.

Bandingkan, misalnya, dengan bahasa seperti Inggris, Mandarin, atau Spanyol yang kini mendominasi dunia. Bahasa-bahasa ini tidak hanya bertahan, tetapi juga berekspansi—didukung oleh kekuatan ekonomi, politik, dan teknologi. Mereka menjadi bahasa ilmu pengetahuan, bisnis, dan diplomasi global. Sementara itu, bahasa-bahasa lokal seperti Wolio atau Muna harus berjuang sekadar untuk tetap digunakan di rumah.

Di sinilah ketimpangan peradaban menjadi nyata: tidak semua bahasa memiliki peluang yang sama untuk hidup.

Namun, apakah itu berarti bahasa daerah harus menyerah?

Tidak sesederhana itu.

Bahasa global memang menawarkan akses—akses terhadap pengetahuan, pekerjaan, dan jaringan internasional. Tetapi bahasa daerah menawarkan sesuatu yang tidak bisa digantikan: akar. Tanpa akar, akses hanya akan melahirkan generasi yang terapung—bergerak cepat, tetapi tanpa arah yang jelas.

Dalam konteks Sulawesi Tenggara, bahasa daerah adalah fondasi pembentukan karakter. Ia mengajarkan kesantunan dalam bertutur, hirarki dalam berinteraksi, serta relasi harmonis antara manusia dan alam. Nilai-nilai ini tidak selalu hadir dalam bahasa global yang cenderung netral dan fungsional.

Baca Juga: Ketika Pangan Bukan Sekadar Makanan: Al-Qur’an, Kearifan, dan Ingatan yang Menjaga Bumi

Kita bisa melihat perbedaannya secara tajam: bahasa global membentuk manusia sebagai individu kompetitif, sementara bahasa lokal cenderung membentuk manusia sebagai bagian dari komunitas. Keduanya penting, tetapi kehilangan salah satunya akan menciptakan ketimpangan dalam diri manusia itu sendiri.

Di titik ini, kita tidak bisa lagi melihat bahasa daerah sebagai sekadar warisan, tetapi sebagai strategi peradaban.

Negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan, dan Prancis memberikan contoh menarik. Mereka tetap mempertahankan bahasa nasional dan lokalnya sebagai identitas utama, sambil tetap aktif dalam percakapan global. Bahasa mereka tidak ditinggalkan demi modernitas, tetapi justru menjadi kendaraan utama untuk mencapainya.

Pertanyaannya: mengapa kita tidak melakukan hal yang sama?

Sulawesi Tenggara memiliki kekayaan linguistik yang luar biasa. Tetapi kekayaan itu belum sepenuhnya diolah menjadi kekuatan. Bahasa Wolio bisa menjadi bahasa sastra modern. Bahasa Cia-Cia bisa hadir dalam konten digital. Bahasa Muna dan Tolaki bisa menjadi medium pendidikan karakter yang kontekstual. Semua ini mungkin—jika ada kemauan untuk keluar dari pola pikir lama yang memisahkan tradisi dan modernitas.

Dalam perspektif Al-Qur'an, keragaman bahasa adalah bagian dari tanda-tanda kebesaran Tuhan. Surah Ar-Rum ayat 22 menegaskan bahwa perbedaan bahasa adalah ayat bagi mereka yang berilmu. Artinya, setiap bahasa memiliki nilai intrinsik yang tidak bisa diukur hanya dengan utilitas ekonomi atau popularitas global.

Sementara dalam Surah Al-Hujurat ayat 13, manusia diciptakan berbangsa-bangsa agar saling mengenal. Bahasa daerah, dalam hal ini, adalah pintu pertama untuk mengenal diri sebelum mengenal yang lain. Tanpa itu, proses “mengenal” menjadi dangkal—sekadar pertukaran informasi, bukan pertemuan makna.

Baca Juga: Lalo’a dan Manusia yang Terlalu Rakus pada Laut

Rumah Ingatan Peradaban harus membaca situasi ini dengan jernih. Ia tidak boleh hanya menjadi ruang nostalgia yang meratapi kehilangan. Ia harus menjadi ruang kritik—yang berani mengatakan bahwa kita sedang berada di ambang kehilangan besar jika tidak bertindak.

Lebih dari itu, ia harus menjadi ruang eksperimentasi.

Bahasa daerah di Sulawesi Tenggara harus masuk ke dunia generasi Z: menjadi bahasa dalam video pendek, puisi digital, musik, bahkan meme. Ia harus hidup dalam bentuk yang cair dan adaptif. Jika tidak, ia akan tetap suci—tetapi mati.

Kita tidak bisa melawan arus global. Tetapi kita bisa menentukan bagaimana kita berdiri di dalamnya.

Apakah sebagai peniru yang kehilangan identitas?
Ataukah sebagai subjek peradaban yang mampu berdialog dengan dunia tanpa kehilangan akar?

Dari Buton ke dunia, dari Wolio ke bahasa global, pertarungan ini bukan tentang mana yang lebih unggul. Ia tentang keseimbangan.

Karena peradaban yang besar bukanlah peradaban yang melupakan asal-usulnya.

Melainkan yang mampu membawa asal-usul itu berjalan sejauh mungkin—tanpa pernah benar-benar meninggalkannya.

Baca Juga: Jangan Kecilkan Buton dengan Nama yang Kecil


Komentar