Pak Saeka dan Jalan Panjang Membangun Peradaban Pendidikan



Catatan tentang STIE 66 Kendari, SMA Satria, dan Mimpi yang Tidak Pernah Padam

Oleh: Sumiman Udu 

Rumah Ingatan Peradaban

Di banyak tempat, gedung sekolah hanya dipahami sebagai bangunan. Dinding, kursi, meja, papan tulis, dan halaman upacara. Tetapi sesungguhnya, sekolah bukan sekadar bangunan fisik. Ia adalah ruang harapan. Tempat sebuah generasi dipersiapkan untuk menghadapi masa depan.

Karena itu, setiap sekolah besar hampir selalu lahir dari orang-orang yang memiliki mimpi besar.

Di Kota Kendari, nama Pak Saeka menjadi salah satu bagian penting dari sejarah perjuangan pendidikan. Di balik berdirinya dan megahnya gedung STIE 66, terdapat kisah panjang tentang kerja keras, keyakinan, dan keteguhan hati menghadapi berbagai keterbatasan.

Membangun lembaga pendidikan bukan pekerjaan mudah. Ia bukan sekadar mendirikan gedung, melainkan membangun kepercayaan masyarakat. Membangun sekolah berarti menanam harapan di tengah ketidakpastian zaman. Dan sering kali, perjuangan itu dimulai dari keadaan yang sangat sederhana.

Bapak Drs. H. Saeka Latiho memahami satu hal penting:
bahwa pendidikan adalah jalan paling panjang untuk mengubah nasib masyarakat.

Pada masa ketika akses pendidikan tinggi masih terbatas, terutama bagi banyak anak muda di Sulawesi Tenggara, hadirnya STIE 66 Kendari menjadi ruang baru bagi mereka yang ingin melanjutkan mimpi. Kampus itu lahir bukan dari kemewahan modal besar, tetapi dari keberanian untuk percaya bahwa pendidikan harus diperjuangkan.

Ada masa-masa sulit yang harus dilalui. Keterbatasan fasilitas, tantangan pendanaan, hingga keraguan banyak orang terhadap masa depan lembaga pendidikan swasta. Namun sejarah sering menunjukkan bahwa lembaga besar justru dibangun oleh orang-orang yang tidak menyerah pada keadaan.

Pak Saeka tidak hanya membangun sekolah. Ia membangun mentalitas.

Ia percaya bahwa anak-anak muda daerah tidak boleh kalah hanya karena lahir jauh dari pusat kekuasaan dan ekonomi nasional. Bahwa generasi Sulawesi Tenggara memiliki hak yang sama untuk bermimpi besar.

Karena itu, perjuangan pendidikan selalu membutuhkan keberanian moral. Sebab orang yang memilih jalan pendidikan sesungguhnya sedang menanam pohon yang mungkin buahnya baru dinikmati puluhan tahun kemudian.

Di situlah letak keikhlasan seorang pendidik dan perintis lembaga pendidikan.

SMA Satria kemudian hadir sebagai bagian dari mimpi panjang itu. Sebuah ruang pembentukan karakter, disiplin, dan masa depan generasi muda. Sekolah bukan hanya tempat mengejar nilai, tetapi tempat menempa sikap hidup.

Pak Saeka tampaknya memahami bahwa bangsa yang kuat tidak cukup hanya memiliki sumber daya alam. Bangsa besar membutuhkan manusia yang terdidik, berkarakter, dan percaya pada kemampuan dirinya sendiri.

Hari ini mungkin banyak orang melihat gedung, alumni, dan keberhasilan lembaga pendidikan itu. Tetapi tidak semua orang melihat sejarah sunyi di belakangnya: malam-malam penuh kecemasan, perjuangan mencari dukungan, keyakinan yang diuji keadaan, dan mimpi yang dipertahankan di tengah keraguan.

Peradaban memang sering lahir dari orang-orang yang bekerja dalam diam.

Kisah Pak Saeka adalah pelajaran penting bagi generasi muda:
bahwa mimpi besar tidak selalu dimulai dari keadaan besar. Kadang ia lahir dari keyakinan sederhana bahwa pendidikan dapat mengubah kehidupan manusia.

Di tengah zaman yang semakin materialistik, perjuangan membangun sekolah sesungguhnya adalah perjuangan membangun masa depan bangsa. Sebab sekolah bukan hanya tempat belajar membaca dan berhitung, melainkan tempat lahirnya cara berpikir, moralitas, dan cita-cita.

Rumah Ingatan Peradaban percaya bahwa sejarah pendidikan daerah perlu terus ditulis dan dikenang. Karena bangsa yang melupakan perjuangan para pendidiknya perlahan akan kehilangan arah peradabannya sendiri.

Pak Saeka telah memperlihatkan bahwa keteguhan hati dapat melahirkan warisan besar. Bahwa keyakinan mampu mengubah keterbatasan menjadi kekuatan. Dan bahwa pendidikan adalah bentuk paling mulia dari investasi kemanusiaan.

Suatu hari nanti, mungkin gedung-gedung akan berubah. Generasi akan berganti. Tetapi semangat perjuangan itu akan tetap hidup dalam ingatan banyak orang:
bahwa pernah ada seseorang yang percaya pendidikan dapat mengubah nasib daerahnya, lalu mengabdikan hidupnya untuk keyakinan itu.

Komentar