Ketika Pangan Bukan Sekadar Makanan: Al-Qur’an, Kearifan, dan Ingatan yang Menjaga Bumi

Oleh: Sumiman Udu



Rumah Ingatan : Ada masa ketika manusia memandang makanan bukan sekadar sesuatu yang dimakan, tetapi sesuatu yang dihormati. Nasi di meja bukan hanya hasil kerja tangan, melainkan pertemuan panjang antara hujan, tanah, benih, cahaya, doa, dan kesabaran. Ikan yang tiba di dapur bukan sekadar tangkapan, melainkan buah dari laut yang dijaga, musim yang dibaca, batas yang dihormati, dan kearifan yang diwariskan. Pada masa itu, pangan bukan hanya urusan perut, tetapi juga urusan jiwa. Bukan hanya soal kenyang, tetapi soal hubungan manusia dengan alam, dengan sesama, dan dengan Tuhan.

Hari ini, ingatan itu perlahan pudar. Kita hidup di zaman ketika makanan sering kehilangan wajah sucinya. Pangan diperlakukan sekadar komoditas, sekadar angka pasar, sekadar barang yang bisa ditimbun, diboroskan, dibuang, dan diperebutkan. Alam dilihat sebagai gudang yang tak akan habis. Laut dianggap hanya tempat mengambil. Tanah dianggap sekadar objek produksi. Hutan dipandang sebagai ruang kosong yang menunggu ditebang. Dalam cara pandang seperti itu, manusia modern tampak cerdas, tetapi sesungguhnya sedang sakit: ia kehilangan hikmah.

Di titik inilah Al-Qur’an seakan datang mengetuk kembali pintu batin manusia. Ia mengingatkan bahwa kehidupan tidak dibangun di atas kerakusan, melainkan di atas keseimbangan. Bahwa rezeki bukan untuk dibinasakan dengan nafsu, melainkan untuk dijaga dengan syukur. Bahwa alam bukan musuh yang harus ditaklukkan, tetapi ayat-ayat Tuhan yang harus dibaca dengan hormat. Dalam bahasa yang hening namun tegas, Al-Qur’an meletakkan dasar-dasar peradaban yang tahu batas, tahu cukup, tahu berbagi, dan tahu memelihara.

Firman Allah dalam QS. Al-An‘am [6]: 141 mengandung kebijaksanaan yang begitu dalam: makanlah dari buahnya ketika ia berbuah, tunaikan haknya pada hari memetik hasilnya, dan jangan berlebih-lebihan. Betapa jernih pesan ini. Ada izin untuk memanfaatkan, tetapi sekaligus ada kewajiban untuk berbagi. Ada perintah memanen, tetapi juga ada larangan melampaui batas. Seolah-olah Tuhan hendak mengajarkan bahwa setiap hasil bumi membawa dua wajah sekaligus: nikmat dan tanggung jawab. Bahwa setiap panen bukan hanya kabar gembira bagi diri sendiri, tetapi juga ujian tentang apakah manusia masih ingat kepada yang lain.

Dalam ayat itu, kita seperti diajak memahami bahwa keberlanjutan bukan istilah asing. Ia sudah lama hidup di dalam napas wahyu. Jangan habiskan semuanya. Jangan rakus mengambil. Jangan memutus mata rantai kehidupan hanya karena hari ini kita merasa kuat. Sebab yang paling berbahaya dalam peradaban bukanlah kekurangan sumber daya, melainkan hilangnya rasa cukup. Ketika rasa cukup mati, lahirlah kerakusan. Ketika kerakusan tumbuh, hancurlah keseimbangan. Dan ketika keseimbangan runtuh, manusia mulai memakan masa depannya sendiri.

Al-Qur’an juga menegur manusia dengan sederhana, tetapi sangat dalam: makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Demikian firman Allah dalam QS. Al-A‘raf [7]: 31. Ayat ini pendek, tetapi sesungguhnya ia adalah kritik abadi terhadap tabiat manusia yang tak pernah puas. Dunia hari ini bukan hanya mengalami krisis pangan, tetapi juga krisis malu di hadapan makanan. Begitu banyak yang lapar, tetapi begitu banyak pula yang membuang. Begitu banyak yang kekurangan, tetapi begitu banyak pula yang menumpuk lebih dari yang diperlukan. Dalam keadaan seperti itu, pemborosan bukan sekadar kesalahan gaya hidup, melainkan kegagalan rohani. Ia adalah tanda bahwa manusia telah lupa bahwa setiap rezeki memiliki martabat.

Kita juga membaca peringatan yang getir dalam QS. Ar-Rum [30]: 41: kerusakan di darat dan di laut terjadi karena ulah tangan manusia. Ayat ini terdengar seperti cermin yang diletakkan tepat di depan wajah zaman kita. Laut yang rusak, terumbu karang yang patah, ikan yang hilang, sungai yang kotor, tanah yang letih, hutan yang gundul, udara yang tercemar—semuanya tidak datang tiba-tiba. Ia bukan kutukan dari langit, tetapi akibat dari kesombongan manusia yang merasa boleh mengambil tanpa batas. Dalam bahasa Al-Qur’an, kerusakan bukan sekadar bencana ekologis; ia adalah konsekuensi moral.

Karena itu, konservasi sesungguhnya bukan semata soal kebijakan, peraturan, atau program pembangunan. Konservasi adalah cara manusia bertobat kepada bumi. Ia adalah pengakuan bahwa selama ini kita terlalu banyak mengambil dan terlalu sedikit menjaga. Ia adalah kesediaan untuk menahan diri, merawat, memulihkan, dan belajar kembali mendengar bahasa alam. Dalam konservasi, manusia sedang belajar rendah hati. Ia mengakui bahwa dirinya bukan pusat semesta, melainkan hanya satu bagian kecil dari jaringan kehidupan yang jauh lebih besar.

Al-Qur’an lalu menghadirkan satu kata kunci yang amat indah: mizan, keseimbangan. Dalam QS. Ar-Rahman [55]: 7–9, Tuhan menunjukkan bahwa alam diciptakan dengan ukuran dan harmoni, dan manusia diperintahkan agar tidak merusak keseimbangan itu. Barangkali inilah inti dari seluruh krisis peradaban kita: manusia modern kehilangan rasa hormat terhadap keseimbangan. Ia ingin hasil tanpa jeda, panen tanpa musim, keuntungan tanpa batas, konsumsi tanpa pengendalian. Padahal hidup hanya bertahan selama keseimbangan dijaga. Laut memberi jika laut dipelihara. Tanah subur jika tanah dihormati. Hutan melindungi jika hutan tidak dikhianati.

Baca Juga: Kawu, Lumbung Protein yang Tersisa di Ujung Ingatan

Dalam banyak masyarakat adat, nilai-nilai seperti ini masih hidup sebagai ingatan bersama. Mereka membaca musim, mengenali tanda alam, mengetahui kapan mengambil dan kapan berhenti. Mereka paham bahwa ada masa laut harus dibiarkan pulih, ada ruang alam yang tidak boleh diganggu, ada jenis-jenis pangan yang harus diperlakukan dengan hormat. Kearifan lokal semacam itu sering dianggap kuno oleh logika modern, padahal justru di situlah tersimpan pengetahuan peradaban. Ia mengandung kedewasaan yang tidak lahir dari laboratorium semata, tetapi dari pengalaman panjang hidup berdampingan dengan ciptaan Tuhan.

Rumah Ingatan Peradaban perlu terus mengulang satu kenyataan sederhana ini: bahwa masa depan manusia tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi juga oleh ingatan. Ingatan tentang batas. Ingatan tentang syukur. Ingatan tentang cukup. Ingatan tentang berbagi. Ingatan bahwa makanan bukan benda mati, melainkan hasil dari kehidupan yang saling bertaut. Jika ingatan ini hilang, maka manusia akan terus memproduksi kemajuan sambil menghancurkan pondasi hidupnya sendiri.

Kita perlu kembali belajar dari kisah Nabi Yusuf dalam QS. Yusuf [12]: 47–49. Di sana pangan dikelola bukan dengan kepanikan, melainkan dengan kebijaksanaan. Masa subur tidak dihabiskan dalam pesta, tetapi disiapkan untuk menghadapi masa sulit. Ada visi jauh ke depan. Ada kecerdasan membaca waktu. Ada kemampuan menahan diri di tengah kelimpahan. Betapa dalam pelajaran ini untuk manusia hari ini: bahwa peradaban yang matang bukanlah peradaban yang menghabiskan semuanya ketika sedang berkuasa, melainkan peradaban yang tahu menyisakan kehidupan untuk hari esok.

Pada akhirnya, yang sedang dipertaruhkan bukan hanya soal apa yang kita makan, tetapi siapa diri kita sebagai manusia. Apakah kita makhluk yang hanya pandai menguasai, atau makhluk yang juga tahu menjaga? Apakah kita hanya ingin kenyang hari ini, atau juga ingin memastikan anak-cucu kita masih dapat merasakan bumi yang layak dihuni? Apakah kita memandang pangan sekadar barang, atau sebagai rahmat yang menuntut tanggung jawab?

Barangkali di sinilah Al-Qur’an bertemu dengan inti terdalam kearifan. Keduanya sama-sama mengajarkan bahwa kehidupan tidak dapat bertahan dengan kerakusan. Kehidupan hanya mungkin dijaga oleh manusia yang tahu bersujud, tahu bersyukur, dan tahu membatasi dirinya sendiri. Sebab hanya orang yang mengenal batas yang mampu memelihara dunia. Dan hanya peradaban yang mau menjaga sumber pangannya dengan cinta yang akan tetap memiliki masa depan.

Maka, ketika kita berbicara tentang pangan berkelanjutan, sesungguhnya kita sedang berbicara tentang akhlak. Ketika kita berbicara tentang konservasi, sesungguhnya kita sedang berbicara tentang iman yang bekerja dalam tindakan. Dan ketika kita berbicara tentang bumi, sesungguhnya kita sedang berbicara tentang rumah besar tempat Tuhan menitipkan kehidupan untuk dijaga, bukan untuk dihabiskan.

Karena itu, menjaga pangan bukan hanya kerja petani, nelayan, atau negara. Ia adalah tugas batin seluruh manusia. Sebab setiap butir yang kita makan, setiap ikan yang kita hidangkan, setiap air yang kita minum, sesungguhnya membawa pertanyaan yang sama: masihkah kita cukup bijaksana untuk hidup tanpa merusak sumber kehidupan itu sendiri?

Jika jawabannya belum, maka barangkali kita memang harus kembali. Kembali kepada wahyu. Kembali kepada kearifan. Kembali kepada ingatan. Sebab hanya dengan itulah manusia dapat belajar lagi menjadi penghuni bumi yang layak dipercaya oleh langit.

Baca Juga:  Jangan Kecilkan Buton dengan Nama yang Kecil


Komentar