Langsung ke konten utama

Postingan

Unggulan

Negeri yang Terlalu Banyak Sultan

Renungan Rumah Ingatan Peradaban tentang Orang Buton dan Kekalahan yang Dipelihara Di banyak sudut tanah Buton, kita tumbuh dengan cerita kebesaran. Tentang kesultanan yang pernah disegani. Tentang benteng terbesar di dunia. Tentang para lakina, kapitalao, bonto, dan para pemimpin yang pernah mengatur laut-laut Nusantara dengan keberanian dan kecerdasan. Tetapi ada satu pertanyaan yang jarang diajukan dengan jujur: mengapa bangsa dengan ingatan sejarah sebesar itu justru sering kalah dalam banyak medan kehidupan modern? Kalah dalam membangun persatuan. Kalah dalam membangun ekonomi kolektif. Kalah dalam membangun pendidikan yang kuat. Bahkan kadang kalah melawan ego kecil di kampung sendiri. Mungkin jawabannya pahit: sebab terlalu banyak orang merasa dirinya adalah sultan, tetapi terlalu sedikit yang bersedia menjadi rakyat yang bekerja. Di tanah Buton, silsilah sering kali lebih penting daripada karya. Nama keluarga lebih cepat diperkenalkan daripada kemampuan. Banyak orang ...

Postingan Terbaru

Membaca Ulang Makna Kurban: Ibrahim, Ismail, dan Jalan Peradaban Manusia

Haji dan Pembangunan Bangsa: Ketika Ibadah Menjadi Energi Sosial Peradaban

Membangun Percakapan: Ruang Kecil Demokrasi Menuju Indonesia Emas

Dosen, UU Nomor 14 Tahun 2005, dan Jalan Panjang Indonesia Emas

Jodoh dan Strategi Bermain Layang-Layang

Negara Jangan Menjadikan UMKM Penonton di Tengah Proyek MBG

Pesta Babi dan Hutan Adat: Suara Peradaban dari Tanah Papua

Kabuenga: Ruang Publik untuk Menjaga Kesucian Kekerabatan

Meniru yang Hebat: Jalan Sunyi Peradaban Menuju Kemandirian

Kedaulatan Finansial dan Harkat Martabat Bangsa