Negeri yang Terlalu Banyak Sultan
Renungan Rumah Ingatan Peradaban tentang Orang Buton dan Kekalahan yang Dipelihara Di banyak sudut tanah Buton, kita tumbuh dengan cerita kebesaran. Tentang kesultanan yang pernah disegani. Tentang benteng terbesar di dunia. Tentang para lakina, kapitalao, bonto, dan para pemimpin yang pernah mengatur laut-laut Nusantara dengan keberanian dan kecerdasan. Tetapi ada satu pertanyaan yang jarang diajukan dengan jujur: mengapa bangsa dengan ingatan sejarah sebesar itu justru sering kalah dalam banyak medan kehidupan modern? Kalah dalam membangun persatuan. Kalah dalam membangun ekonomi kolektif. Kalah dalam membangun pendidikan yang kuat. Bahkan kadang kalah melawan ego kecil di kampung sendiri. Mungkin jawabannya pahit: sebab terlalu banyak orang merasa dirinya adalah sultan, tetapi terlalu sedikit yang bersedia menjadi rakyat yang bekerja. Di tanah Buton, silsilah sering kali lebih penting daripada karya. Nama keluarga lebih cepat diperkenalkan daripada kemampuan. Banyak orang ...









