Lalo’a dan Manusia yang Terlalu Rakus pada Laut


Tradisi masyarakat adat Liya sebagai ingatan ekologis tentang perikanan berkelanjutan, batas moral manusia, dan masa depan kehidupan di bumi

Oleh: Sumiman Udu

Rumah Ingatan: Ada sesuatu yang pelan-pelan hilang dari manusia modern: rasa malu kepada alam. Kita hidup di zaman ketika laut dipuji sebagai sumber ekonomi, tetapi jarang dihormati sebagai sumber kehidupan. Kita membangun narasi besar tentang kemajuan, tetapi pada saat yang sama membiarkan pesisir rusak, ikan terus berkurang, habitat laut hancur, dan kearifan lokal dipinggirkan. Kita seperti bangsa yang sibuk menghitung hasil tangkapan, tetapi lupa menghitung seberapa besar luka yang kita tinggalkan pada laut. Dalam keadaan seperti itu, tradisi Lalo’a dari masyarakat adat Liya seharusnya dibaca bukan sekadar sebagai warisan budaya, melainkan sebagai teguran peradaban.

Lalo’a adalah ingatan. Ia bukan hanya adat. Ia bukan sekadar kebiasaan turun-temurun yang dijalankan tanpa makna. Lalo’a adalah bentuk kesadaran kolektif bahwa laut tidak boleh diperlakukan sesuka hati. Ia lahir dari pengetahuan panjang masyarakat adat Liya dalam membaca tanda-tanda alam, mengenali siklus hidup biota laut, dan memahami batas antara kebutuhan dan kerakusan. Dalam Lalo’a, manusia tidak ditempatkan sebagai penguasa mutlak atas laut, tetapi sebagai bagian dari tata kehidupan yang lebih besar. Laut dihormati, dijaga, dan diperlakukan sebagai sumber kehidupan bersama.

Di sinilah kebesaran tradisi itu. Ketika dunia modern sibuk merumuskan konsep sustainable fisheries atau perikanan berkelanjutan dalam bahasa proyek, kebijakan, dan seminar internasional, masyarakat adat Liya telah lebih dulu mempraktikkannya dalam kehidupan nyata. Mereka tahu bahwa mengambil terus-menerus tanpa memberi kesempatan alam untuk pulih sama saja dengan merampok masa depan. Mereka paham bahwa keberlanjutan bukan soal jargon, melainkan soal watak. Soal kedewasaan manusia untuk menahan diri.

Sayangnya, justru kemampuan menahan diri itulah yang kini menjadi barang langka. Manusia modern terlalu mudah tergoda oleh logika pasar. Semua hal diukur dengan keuntungan. Laut dilihat sebagai ruang eksploitasi. Ikan dipandang semata sebagai komoditas. Terumbu karang dinilai dari potensi ekonominya. Pesisir diubah menjadi arena investasi. Dalam logika seperti ini, alam kehilangan kehormatannya. Yang tersisa hanyalah hasrat untuk mengambil sebanyak-banyaknya sebelum orang lain mendahului. Kita menyebutnya pertumbuhan. Kita menyebutnya pembangunan. Padahal sering kali itu hanyalah nama yang lebih sopan untuk kerakusan.

Lalo’a berdiri berseberangan dengan watak rakus itu. Ia mengajarkan bahwa menjaga lebih mulia daripada menghabiskan. Ia menanamkan pemahaman bahwa hasil laut bukan hanya milik manusia hari ini, tetapi juga hak generasi yang belum lahir. Tradisi ini mengandung etika yang sangat dalam: bahwa kehidupan hanya dapat berlangsung bila manusia tahu batas. Dan justru dalam soal batas inilah peradaban modern tampak paling gagal. Kita ingin hasil besar, tetapi menolak pengendalian diri. Kita ingin laut terus memberi, tetapi enggan memberi laut waktu untuk pulih. Kita ingin hidup berkelanjutan, tetapi tetap memelihara cara hidup yang merusak dasar keberlanjutan itu sendiri.

Karena itu, Lalo’a tidak boleh dibaca hanya sebagai romantisme masa lalu. Ia adalah kritik keras terhadap cara berpikir modern yang memisahkan manusia dari tanggung jawab ekologisnya. Ia mengingatkan bahwa krisis lingkungan yang kita alami hari ini bukan semata krisis sumber daya, melainkan krisis moral. Laut rusak karena manusia kehilangan hikmah. Alam dieksploitasi karena manusia merasa dirinya pusat dari segala-galanya. Pengetahuan ilmiah berkembang pesat, tetapi kebijaksanaan untuk hidup secukupnya justru merosot tajam.

Dalam konteks perikanan berkelanjutan, Lalo’a memberi pelajaran yang sangat penting. Keberlanjutan tidak cukup dibangun dengan aturan formal, teknologi tangkap, atau program konservasi dari atas. Semua itu penting, tetapi akan rapuh tanpa fondasi etis. Yang paling dibutuhkan sebenarnya adalah cara pandang baru, atau lebih tepatnya cara pandang lama yang diwariskan kembali: bahwa laut bukan benda mati yang bebas dihabiskan, melainkan sahabat kehidupan yang harus dirawat. Masyarakat adat Liya telah menunjukkan bahwa menjaga laut bukan sekadar aktivitas ekonomi atau kewajiban sosial, tetapi bagian dari martabat hidup mereka.

Kita perlu jujur mengatakan bahwa dunia hari ini terlalu sering meremehkan pengetahuan lokal. Kearifan adat dianggap kuno, tidak ilmiah, dan tidak efisien. Sementara itu, sistem yang merusak justru dipeluk karena tampak modern. Ini adalah kebutaan yang sangat berbahaya. Sebab di saat manusia merasa paling maju, sesungguhnya ia sedang kehilangan kompas. Ia mampu memetakan dasar laut dengan teknologi canggih, tetapi gagal membaca batas moral dirinya sendiri. Ia mampu meningkatkan hasil tangkap, tetapi tidak mampu menjamin kelestarian kehidupan. Ia bangga dengan pertumbuhan ekonomi, tetapi diam terhadap kemiskinan ekologis yang terus diwariskan.

Tradisi Lalo’a seharusnya membuat kita berhenti sejenak dan bertanya: untuk siapa laut ini dijaga, dan dari siapa laut ini harus diselamatkan? Jawabannya mungkin pahit. Laut sering kali harus diselamatkan justru dari manusia yang merasa paling berhak atasnya. Dari manusia yang datang dengan nama pembangunan, tetapi membawa kerusakan. Dari manusia yang berbicara tentang kesejahteraan, tetapi menghancurkan sumber penghidupan jangka panjang. Dari manusia yang menganggap adat sebagai penghalang, padahal adat itulah benteng terakhir yang menjaga keseimbangan.

Masa depan umat manusia sangat bergantung pada kesediaannya belajar dari kearifan seperti Lalo’a. Ini bukan soal kembali ke masa lampau, melainkan soal menyelamatkan masa depan dengan ingatan yang benar. Sebab tidak semua yang tua itu usang, dan tidak semua yang modern itu bijak. Ada tradisi yang justru lebih visioner daripada kebijakan negara. Ada masyarakat adat yang lebih paham keberlanjutan daripada banyak perencana pembangunan. Ada nilai-nilai lokal yang lebih jujur dalam menjaga kehidupan daripada banyak pidato global tentang lingkungan.

Lalo’a mengajarkan bahwa keberlanjutan dimulai dari kesadaran untuk tidak serakah. Dari keberanian untuk membatasi diri. Dari kerelaan untuk meninggalkan sebagian demi keberlangsungan bersama. Nilai semacam ini sangat penting, bukan hanya untuk masyarakat adat Liya, tetapi untuk dunia yang sedang berada di tepi krisis ekologis. Jika manusia terus hidup dalam ilusi bahwa alam akan selalu tersedia untuk ditaklukkan, maka yang menunggu di depan bukanlah kemajuan, melainkan kehancuran yang dipercepat oleh kesombongan sendiri.

Sudah waktunya kearifan lokal ditempatkan kembali di jantung pembicaraan tentang masa depan bumi. Bukan sebagai pelengkap, bukan sebagai hiasan identitas budaya, tetapi sebagai sumber pengetahuan dan etika yang sungguh-sungguh hidup. Sebab di dalam tradisi seperti Lalo’a, kita menemukan sesuatu yang kini sangat langka: kebijaksanaan untuk menjaga kehidupan sebelum semuanya terlambat.

Dan mungkin, di tengah dunia yang terlalu rakus pada laut, suara masyarakat adat Liya melalui Lalo’a sedang berkata kepada kita dengan sangat tenang, tetapi sangat dalam: jika manusia tidak belajar menghormati batas, maka ia akan menjadi makhluk pertama yang menghancurkan rumah hidupnya sendiri.

Biodata Penulis
Sumiman Udu adalah akademisi dan penulis yang menaruh perhatian pada isu kebudayaan, kearifan lokal, sastra, dan relasi manusia dengan lingkungan. Ia aktif menulis gagasan tentang masyarakat adat, ingatan peradaban, dan nilai-nilai lokal sebagai fondasi etis bagi masa depan kehidupan yang lebih berkelanjutan.

Komentar