Teripang yang Hampir Hilang, Ingatan yang Hampir Putus
Oleh: Sumiman Udu
Tentang topulu, fehai, dan martabat laut adat Kadie Liya
Topulu bukan makhluk yang gemerlap. Ia tidak memesona seperti ikan-ikan karang yang berwarna, tidak pula sepopuler hasil laut lain yang setiap hari diperebutkan pasar. Namun justru dalam kesunyiannya itulah ia menyimpan pelajaran besar: bahwa tidak semua yang menopang hidup harus tampak megah. Ada kekayaan yang tumbuh tanpa suara. Ada rezeki yang lahir dari kesabaran. Ada kehidupan yang hanya dapat dipelihara oleh manusia yang tahu batas antara mengambil dan merusak.
Di wilayah adat Kadie Liya, topulu sesungguhnya bukan sekadar biota laut. Ia adalah bagian dari ingatan ruang, ingatan musim, dan ingatan tentang laut yang dibaca melalui pengalaman turun-temurun. Orang-orang tua mengenali jenis-jenisnya, tahu di mana ia hidup, tahu dasar perairan yang disukainya, tahu musim ketika ia mudah dijumpai, dan tahu bahwa laut bukan sekadar tempat mencari, melainkan tempat belajar menahan diri. Sebab laut, sebagaimana kehidupan, tidak pernah benar-benar ramah kepada manusia yang tamak.
Hari ini, kita sedang berhadapan dengan kenyataan yang pelan-pelan menyakitkan: topulu mulai menjauh dari ingatan. Ia makin sulit ditemukan. Jenis-jenis yang dahulu akrab di wilayah laut adat kini seperti menyingkir ke ruang yang semakin jauh, seolah-olah laut sedang menyembunyikan hartanya dari tangan manusia yang terlalu serakah. Ini bukan semata-mata karena perubahan musim. Bukan pula hanya karena alam sedang berhemat. Ini terjadi karena manusia terlalu tergesa mengubah laut menjadi pasar, dan terlalu cepat mengubah rezeki menjadi rampasan.
Eksploitasi yang berlebihan telah mengajarkan satu kebiasaan buruk: mengambil hari ini seolah-olah besok tidak perlu ada. Kita memanen tanpa jeda, memungut tanpa memberi waktu hidup untuk pulih, memburu tanpa sempat bertanya apakah laut masih sanggup melahirkan kembali. Dalam logika pasar, topulu hanya dilihat sebagai harga. Ia diukur dengan nilai tukar, bukan dengan nilai hidup. Maka yang lahir kemudian adalah tragedi yang selalu sama: yang bernilai diburu sampai habis, yang habis lalu diratapi, dan yang diratapi sering kali tinggal nama.
Padahal, ketika satu jenis topulu menghilang dari perairan adat, yang hilang bukan hanya satu komoditas. Yang ikut hilang adalah bahasa tentang laut, pengetahuan tentang habitat, cerita tentang ruang hidup, dan hubungan batin masyarakat dengan perairannya sendiri. Kepunahan selalu lebih sunyi daripada yang kita kira. Ia tidak datang seperti ledakan. Ia datang sedikit demi sedikit, sampai pada satu hari anak-anak muda hanya mengenal topulu sebagai cerita dari mulut orang tua. Mereka mendengar namanya, tetapi tidak pernah melihat tubuhnya. Mereka mewarisi istilahnya, tetapi tidak lagi mewarisi pengalaman hidup bersamanya.
Dan bukankah itu salah satu bentuk kemiskinan yang paling menyedihkan?
Kita tidak miskin karena laut tidak memberi.
Kita miskin karena kehilangan cara yang benar untuk menerima pemberian laut.
Di sinilah fehai harus dibaca kembali, bukan sebagai sisa masa lalu, melainkan sebagai kecerdasan peradaban yang belum selesai. Fehai adalah jeda yang bermartabat. Ia adalah pengetahuan bahwa alam memerlukan waktu untuk bernapas. Ia adalah etika untuk menahan tangan agar kehidupan tidak putus. Dalam dunia yang dipenuhi hasrat panen cepat, fehai mengajarkan kesabaran sebagai bentuk tertinggi dari kecerdasan ekologis. Ia berkata kepada manusia: tidak semua yang bisa diambil harus diambil sekarang.
Fehai bukan larangan yang lahir dari ketakutan, melainkan dari cinta yang matang terhadap kehidupan. Di dalamnya ada penghormatan pada siklus. Ada pengakuan bahwa laut mempunyai ritmenya sendiri. Ada keyakinan bahwa keberlimpahan yang dijaga jauh lebih mulia daripada hasil besar yang diperoleh dengan rakus. Fehai adalah bentuk lain dari doa masyarakat adat kepada laut: bahwa manusia bersedia menahan diri, agar kehidupan tetap beranak-pinak bagi generasi yang belum lahir.
Baca Juga: Kawu, Lumbung Protein yang Tersisa di Ujung Ingatan
Kalau topulu dikelola dengan fehai, maka ia tidak hanya menjadi hasil laut, tetapi juga dapat menjadi jalan menuju kemandirian Kadie Liya. Sebab kemandirian sejati tidak pernah lahir dari eksploitasi yang membabi buta. Ia lahir dari kemampuan menjaga sumber daya agar tidak habis oleh tangan sendiri. Ia lahir dari kesadaran bahwa kekayaan terbesar masyarakat adat bukan hanya pada banyaknya isi laut, tetapi pada adanya aturan moral untuk merawatnya. Laut yang dijaga dengan adat akan memberi lebih lama daripada laut yang dikuasai dengan keserakahan.
Sudah terlalu lama masyarakat pesisir didorong untuk percaya bahwa pembangunan hanya berarti semakin banyak yang dijual keluar. Akibatnya, orang lupa bahwa ada perbedaan besar antara memanfaatkan dan menghabiskan. Kita dipaksa memuja angka-angka ekonomi, tetapi jarang diajak memikirkan luka ekologi yang ditinggalkan. Kita bangga pada hasil sesaat, tetapi menutup mata terhadap kehampaan yang perlahan tumbuh di dasar laut. Padahal laut yang kosong bukan hanya masalah ekologi. Ia adalah pertanda rusaknya akal budi manusia.
Rumah Ingatan Peradaban perlu mengatakan ini dengan jernih: bahwa krisis topulu adalah cermin dari krisis yang lebih besar, yakni krisis cara pandang kita terhadap hidup. Kita terlalu mudah menggadaikan yang lestari demi yang segera. Kita terlalu cepat melupakan bahwa peradaban pesisir dibangun bukan oleh kerakusan, melainkan oleh kemampuan membaca tanda-tanda alam, menghormati batas, dan menunda hasrat demi keberlanjutan.
Kadie Liya sesungguhnya tidak miskin. Lautnya kaya. Pengetahuannya kaya. Adatnya kaya. Yang terancam bukanlah kekayaan itu sendiri, melainkan kesanggupan manusia untuk menjaga kekayaan itu dengan bermartabat. Jika topulu terus diburu tanpa aturan, maka yang habis bukan hanya teripang, melainkan juga kepercayaan masyarakat terhadap masa depannya sendiri. Sebab masyarakat yang kehilangan sumber dayanya perlahan akan kehilangan keberanian untuk berdiri di atas kaki sendiri.
Karena itu, menyelamatkan topulu bukan pekerjaan kecil. Ia adalah pekerjaan kebudayaan. Ia adalah pekerjaan ingatan. Ia adalah usaha untuk mengembalikan laut kepada martabatnya, dan masyarakat adat kepada daulatnya. Kita memerlukan keberanian untuk berkata bahwa tidak semua permintaan pasar harus dituruti. Kita memerlukan kebijaksanaan untuk menghidupkan kembali fehai, agar laut punya ruang untuk memulihkan tubuhnya. Kita memerlukan cinta yang cukup besar kepada generasi mendatang, agar mereka tidak hanya mewarisi cerita tentang topulu, tetapi juga mewarisi kehadirannya.
Mungkin beginilah laut sedang menegur kita: bahwa ia tidak pernah menolak manusia, tetapi ia bisa menjauh dari manusia yang lupa diri. Bahwa ia selalu memberi, tetapi ia juga dapat menutup pintunya bagi tangan yang tak tahu syukur. Dan bahwa setiap makhluk yang hilang dari laut sesungguhnya membawa pergi sebagian dari kemanusiaan kita.
Topulu adalah makhluk kecil, tetapi ia menyimpan pertanyaan besar: apakah kita masih layak disebut penjaga laut, jika kita membiarkan kehidupan kecil di dalamnya lenyap oleh kerakusan kita sendiri?
Bila jawabannya belum, maka fehai harus dihidupkan kembali.
Bukan besok.
Bukan ketika semuanya sudah habis.
Tetapi sekarang, ketika ingatan itu masih mungkin diselamatkan.
Sebab jika suatu hari topulu benar-benar lenyap dari wilayah adat Kadie Liya, maka yang mati bukan hanya satu jenis sumber daya laut. Yang mati adalah sebagian dari hikmah, sebagian dari tata nilai, dan sebagian dari wajah peradaban pesisir yang selama ini menjaga manusia tetap dekat dengan alamnya.
Dan ketika itu terjadi, kita akan sadar, meski terlambat, bahwa yang paling mahal dari laut bukan apa yang bisa dijual, melainkan apa yang harus dijaga.
Baca Juga : Lalo’a dan Manusia yang Terlalu Rakus pada Laut






Komentar
Posting Komentar