Bahasa, Kearifan Lokal, dan Cahaya Qurani: Jalan Pulang Manusia


Oleh: Sumiman Udu



Rumah Ingatan: Di tengah dunia yang semakin ramai oleh kata-kata, manusia justru sering kehilangan makna. Kita hidup dalam zaman ketika bahasa diproduksi tanpa henti: di layar telepon, di ruang politik, di pasar digital, di media sosial, di ruang-ruang akademik, bahkan di ruang paling privat dalam hidup kita. Kata-kata berlimpah, tetapi kedalaman sering menipis. Kita berbicara semakin cepat, tetapi tidak selalu semakin bijaksana. Kita menyampaikan banyak hal, tetapi tidak selalu sungguh-sungguh memahami apa yang kita ucapkan. Di sinilah persoalan besar manusia modern bermula: bahasa yang seharusnya menjadi rumah makna, perlahan berubah menjadi alat lalu lintas informasi yang kering.

Padahal, sejak awal peradaban, bahasa bukan sekadar alat komunikasi. Bahasa adalah rumah tempat manusia mengenal dirinya. Melalui bahasa, manusia menyebut dunia, membedakan yang baik dan buruk, merawat ingatan, menyampaikan kasih sayang, mengucapkan doa, menahan amarah, menegur kesalahan, dan membangun harapan. Bahasa adalah jembatan antara batin dan dunia. Ketika bahasa rusak, bukan hanya percakapan yang rusak, tetapi juga cara manusia memahami hidupnya sendiri.

Karena itu, pembicaraan tentang bahasa sesungguhnya bukan pembicaraan kecil. Ia adalah pembicaraan tentang kemanusiaan. Manusia menjadi manusia bukan hanya karena ia hidup, tetapi karena ia mampu memberi makna pada hidupnya. Dan makna itu dibangun, diwariskan, serta dirawat melalui bahasa. Di situlah bahasa menjadi lebih dari sekadar bunyi. Ia menjadi rumah batin, rumah kebudayaan, dan rumah nilai.

Namun rumah itu tidak berdiri di ruang kosong. Ia bertumpu pada warisan yang lebih dalam: kearifan lokal dan cahaya wahyu. Pada titik inilah kita perlu kembali merenungkan hubungan antara bahasa, kearifan lokal, dan Al-Qur’an. Ketiganya, jika dibaca dengan jernih, sesungguhnya dapat menjadi jalan pulang manusia.

Bahasa yang Berakar

Setiap komunitas memiliki bahasa yang bukan sekadar sistem kata, tetapi sistem pengalaman. Bahasa daerah, ungkapan adat, cerita rakyat, petuah keluarga, dan sastra lisan adalah bentuk-bentuk hidup dari cara suatu masyarakat memahami dunia. Di dalamnya tersimpan tata krama, rasa hormat, cara memandang alam, cara memandang perempuan, cara mengingat leluhur, hingga cara menerima hidup sebagai amanah.

Di Sulawesi Tenggara, kita melihat kekayaan itu dengan sangat jelas. Bahasa Wolio, Muna, Cia-Cia, Tolaki, Moronene, dan ragam-ragam lokal lainnya bukan sekadar sarana bertutur. Ia menyimpan sejarah, menyimpan tata hidup, menyimpan relasi manusia dengan kampung, laut, gunung, dan sesamanya. Dalam satu ungkapan adat, kadang tersimpan lebih banyak kebijaksanaan daripada paragraf panjang dalam bahasa yang dingin. Dalam satu nasihat orang tua, kadang ada dunia moral yang tidak mungkin digantikan oleh kalimat formal yang seragam.

Kearifan lokal hidup di sana. Ia tidak selalu ditulis dalam buku besar, tetapi hidup dalam cara orang memanggil sesamanya, dalam cara masyarakat memandang pantangan, dalam cara orang tua mengajarkan malu, hormat, sabar, dan tanggung jawab. Kearifan lokal bukan romantisme masa lalu. Ia adalah hasil dari pengalaman panjang manusia yang hidup dekat dengan alam, dekat dengan komunitas, dan dekat dengan kenyataan bahwa hidup harus dijalani dengan batas.

Di dunia modern, kita sering tergoda memandang kearifan lokal sebagai sesuatu yang tertinggal. Padahal justru di saat dunia modern bergerak terlalu cepat, kearifan lokal mengingatkan bahwa hidup tidak boleh kehilangan akar. Ia mengajarkan bahwa manusia bukan pusat segala-galanya. Ada adat yang harus dihormati, ada sesama yang harus dijaga martabatnya, ada alam yang tidak boleh diperlakukan sesuka hati, dan ada bahasa yang tidak boleh dipakai sembarangan.

Al-Qur’an dan Bahasa Petunjuk

Jika kearifan lokal mengajarkan manusia bagaimana membumi, maka Al-Qur’an mengajarkan manusia bagaimana menengadah. Al-Qur’an adalah petunjuk, tetapi petunjuk itu datang melalui bahasa. Bukan bahasa yang mati, melainkan bahasa yang hidup, menggugah, menegur, menghibur, dan menerangi. Al-Qur’an berbicara kepada akal, tetapi juga kepada hati. Ia bukan hanya teks yang dibaca, tetapi cahaya yang harus dihidupi.

Dalam Al-Qur’an, bahasa tidak hanya menyampaikan hukum, tetapi membentuk kesadaran. Ia mengajarkan bahwa manusia tidak boleh berlaku zalim, tidak boleh sombong, tidak boleh merusak bumi, tidak boleh melupakan yang lemah, dan tidak boleh hidup tanpa arah. Ia juga mengingatkan bahwa manusia mudah lupa. Maka wahyu datang untuk mengingatkan. Di sinilah Al-Qur’an menjadi jalan pulang: ia memanggil manusia keluar dari kelalaian menuju kesadaran.

Menariknya, banyak nilai Qur’ani justru menemukan bentuk praksis yang sangat dekat dalam kearifan lokal. Nilai amanah, adab, keseimbangan, penghormatan kepada orang tua, tanggung jawab sosial, dan larangan merusak lingkungan hidup sering kali telah lama berdenyut dalam tradisi masyarakat. Artinya, Al-Qur’an dan kearifan lokal tidak harus dipertentangkan. Keduanya dapat saling menyapa. Al-Qur’an memberi cahaya nilai, sementara kearifan lokal memberi bentuk hidup yang membumi.

Ketika keduanya bertemu dalam bahasa yang hidup, lahirlah manusia yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga jernih secara batin. Ia tidak hanya tahu apa yang benar, tetapi juga tahu bagaimana menjalankan kebenaran itu dalam hidup sehari-hari.

Krisis Bahasa, Krisis Arah

Masalah besar manusia hari ini adalah keterputusan. Kita semakin jauh dari bahasa yang membentuk batin kita, semakin jarang mendengar nasihat yang lahir dari kebudayaan sendiri, dan semakin mudah terhanyut dalam bahasa dunia yang cepat tetapi miskin keheningan. Kita tahu banyak istilah baru, tetapi semakin sedikit kata-kata yang menuntun pulang. Kita punya banyak kanal komunikasi, tetapi kehilangan percakapan yang sungguh-sungguh menyentuh nurani.

Di sinilah kita perlu jujur: krisis bahasa hari ini juga adalah krisis arah. Ketika bahasa hanya menjadi alat promosi, alat pencitraan, alat menyerang, atau alat memanipulasi, manusia pelan-pelan kehilangan rumah moralnya. Kata-kata tidak lagi dipakai untuk merawat, tetapi untuk melukai. Bahasa tidak lagi menjadi ruang pemahaman, tetapi arena kebisingan.

Padahal bahasa seharusnya menjadi jalan pemulihan. Ia seharusnya menolong manusia kembali mengenali dirinya. Bahasa yang baik tidak selalu rumit; ia justru jujur, jernih, dan memuliakan. Bahasa yang sehat lahir dari batin yang tidak tercerabut. Dari sini kita memahami betapa pentingnya merawat bahasa yang berakar pada kearifan lokal dan disinari nilai-nilai Qur’ani.

Jalan Pulang Manusia

Pada akhirnya, manusia tidak hanya butuh kemajuan. Ia juga butuh jalan pulang. Pulang kepada bahasa yang membuatnya merasa utuh. Pulang kepada kearifan yang membuatnya tidak liar. Pulang kepada wahyu yang membuatnya tidak tersesat. Pulang kepada tradisi yang membuatnya ingat bahwa ia bukan makhluk tanpa asal-usul. Pulang kepada Tuhan yang membuat hidup kembali memiliki makna.

Rumah Ingatan, bagi saya, adalah salah satu ruang untuk pekerjaan besar itu. Rumah Ingatan bukan sekadar tempat menyimpan masa lalu, tetapi tempat menyalakan kembali cahaya dari warisan yang nyaris padam. Dari sana kita belajar bahwa bahasa bukan hanya alat bicara, melainkan alat menjaga manusia. Dari sana kita belajar bahwa kearifan lokal bukan benda kuno, melainkan sumber kejernihan hidup. Dan dari sana kita belajar bahwa Al-Qur’an bukan hanya dibaca untuk suara, tetapi untuk membentuk jiwa.

Bila bahasa dirawat, bila kearifan lokal dihidupkan, dan bila nilai-nilai Qur’ani dijadikan cahaya dalam hidup bersama, maka manusia tidak akan mudah kehilangan arah. Ia boleh bergerak jauh ke masa depan, tetapi tidak tercerabut dari akar. Ia boleh hidup di zaman digital, tetapi tetap memiliki batin yang teduh. Ia boleh terbuka kepada dunia, tetapi tidak malu kepada warisan budayanya sendiri.

Jalan pulang itu masih ada.
Ia ada dalam bahasa ibu yang mulai jarang kita dengar.
Ia ada dalam petuah orang tua yang mulai kita abaikan.
Ia ada dalam cerita-cerita kampung yang hampir hilang.
Ia ada dalam ayat-ayat suci yang menunggu dibaca dengan hati.
Dan ia ada dalam keberanian kita untuk kembali memuliakan kata-kata.

Sebab pada akhirnya, manusia yang kehilangan bahasa yang bermakna, akan mudah kehilangan dirinya. Tetapi manusia yang kembali kepada bahasa yang jernih, kearifan yang membumi, dan cahaya Qur’ani, akan selalu menemukan jalan pulang.

Baca Juga: Bahasa dan Peradaban: Dari Buton ke Dunia—Mengukur Akar di Tengah Arus Global

Komentar