Pesta Babi dan Hutan Adat: Suara Peradaban dari Tanah Papua

Oleh: Sumiman Udu 

Khas Rumah Ingatan Peradaban


Di tengah dunia modern yang sibuk membangun gedung, membuka tambang, dan memperluas industri, ada suara-suara kecil dari kampung adat di Papua yang sering tidak terdengar. Suara itu bukan lahir dari ruang seminar, bukan pula dari pidato para elite pembangunan. Ia lahir dari api batu bakar, dari nyanyian adat, dari langkah kaki masyarakat kampung yang berjalan menyusuri hutan leluhur mereka.

Suara itu berkata sederhana:
“Hutan adalah kehidupan.”

Bagi masyarakat adat Papua, hutan bukan sekadar kumpulan pohon. Hutan adalah ibu yang memberi makan, ayah yang menjaga kehidupan, sekaligus sekolah tempat manusia belajar tentang keseimbangan. Di sanalah mereka menemukan sagu, umbi-umbian, daun obat, rotan, air bersih, hewan buruan, dan seluruh sumber kehidupan yang menopang keberadaan mereka selama ratusan tahun.

Karena itu, ketika masyarakat adat menggelar pesta babi, sesungguhnya mereka tidak hanya sedang merayakan kebersamaan. Mereka sedang memperbaharui hubungan manusia dengan alam. Mereka sedang mengingatkan dunia bahwa kehidupan tidak dapat dipisahkan dari hutan.

Banyak orang luar melihat pesta babi hanya sebagai tradisi makan bersama. Padahal, di balik ritual itu terdapat filsafat ekologis yang sangat dalam. Babi dalam masyarakat Papua bukan hanya hewan ternak. Ia adalah simbol kehormatan, simbol solidaritas, simbol keseimbangan sosial, bahkan simbol hubungan spiritual antara manusia dan tanah leluhur.

Untuk memelihara babi, masyarakat membutuhkan hutan yang sehat. Hutan menyediakan sumber makanan, sumber air, dan ruang hidup. Artinya, keberadaan pesta babi secara tidak langsung bergantung pada kelestarian alam. Maka menjaga tradisi sama artinya dengan menjaga hutan.

Di titik inilah pesta babi menjadi bentuk perlawanan budaya.

Perlawanan terhadap siapa?
Perlawanan terhadap cara pandang modern yang melihat hutan hanya sebagai komoditas ekonomi.

Hari ini, banyak hutan adat di Papua mulai terancam oleh ekspansi industri kayu, pertambangan, dan pembukaan lahan skala besar. Pohon ditebang atas nama investasi. Gunung dibelah atas nama pembangunan. Sungai dikotori atas nama pertumbuhan ekonomi. Alam perlahan dipindahkan dari ruang sakral menjadi sekadar angka produksi.

Padahal, masyarakat adat memiliki cara pandang berbeda. Mereka tidak melihat hutan sebagai barang mati. Hutan adalah bagian dari kehidupan itu sendiri. Ada roh leluhur di dalamnya. Ada masa depan anak cucu di dalamnya. Ada sejarah dan identitas yang melekat pada setiap pohon dan sungai.

Karena itu, ketika masyarakat adat mempertahankan hutannya, mereka sebenarnya sedang mempertahankan martabat manusia.

Pandangan ini mengingatkan kita pada praktik konservasi masyarakat pesisir di Desa Kulati, Tomia, Wakatobi. Di sana, masyarakat mengenal konsep semacam “bank ikan.” Laut tidak dieksploitasi setiap waktu. Ada wilayah yang dijaga, ada masa tertentu yang dihormati, ada kesepakatan adat yang membatasi pengambilan sumber daya laut.

Masyarakat memahami bahwa laut harus diberi waktu untuk hidup kembali. Ikan harus berkembang biak. Karang harus tetap sehat. Sebab jika manusia rakus hari ini, generasi berikutnya akan kehilangan masa depan.

Filosofi itu sejatinya sama dengan cara masyarakat adat Papua menjaga hutan. Hutan adalah tabungan kehidupan antargenerasi. Pohon-pohon yang berdiri hari ini bukan hanya milik manusia yang hidup sekarang, tetapi juga milik anak-anak yang belum lahir.

Di sinilah masyarakat adat sesungguhnya sedang mengajarkan makna peradaban yang sering dilupakan manusia modern.

Peradaban bukan hanya tentang teknologi tinggi, jalan raya besar, atau gedung pencakar langit. Peradaban sejati adalah kemampuan manusia menjaga keseimbangan hidup. Kemampuan menghormati alam sebagai sumber kehidupan bersama.

Ironisnya, masyarakat adat sering dicap tertinggal. Padahal, justru merekalah yang masih menyimpan etika ekologis paling murni. Ketika dunia modern menghasilkan krisis iklim, polusi, banjir, dan kerusakan lingkungan, masyarakat adat tetap menjaga hubungan harmonis antara manusia dan alam.

Mereka memahami batas antara kebutuhan dan keserakahan.

Mungkin karena itu, hutan adat Papua masih berdiri sebagai salah satu benteng terakhir ekologi dunia. Di sana masih ada sungai yang jernih, udara yang bersih, dan tanah yang belum sepenuhnya kehilangan kesuciannya.

Namun ancaman terus datang.

Jika hutan adat hilang, maka yang hilang bukan hanya pepohonan. Yang hilang adalah bahasa-bahasa lokal, pengetahuan pengobatan tradisional, ritual adat, lagu-lagu kampung, dan seluruh ingatan peradaban yang hidup bersama alam.

Sebab sesungguhnya, setiap pohon di hutan adat menyimpan cerita tentang manusia.

Dan pesta babi, dengan seluruh nilai sosial dan spiritualnya, adalah cara masyarakat adat menjaga cerita itu tetap hidup.

Di tengah dunia yang semakin bising oleh kerakusan, masyarakat adat Papua sedang menyampaikan pesan yang sangat sunyi namun mendalam:
bahwa bumi bukan warisan yang boleh dihabiskan, melainkan titipan yang harus dijaga.

Barangkali, dunia modern perlu belajar kembali kepada kampung-kampung adat. Belajar bahwa kemajuan tidak selalu berarti menaklukkan alam. Sebab manusia tidak akan pernah benar-benar maju apabila kehilangan hutannya.

Bagi masyarakat adat hutan itu adalah supermarket yang menyediakan segalanya, di Wakatobi motika dan kaindea adalah supermarket itu, hanya saja perlahan menghilang karena perubahan paradigma atau generasi muda kehilangan makna hutan. Semoga pesta babi di Papua adalah ruang refleksi manusia dalam menjaga etika ekologis dan etika budaya yang disampaikan kepada dunia. 

Dan dari tanah Papua, melalui pesta babi dan hutan adat, peradaban itu masih terus berbicara kepada dunia.

Komentar