Negara Jangan Menjadikan UMKM Penonton di Tengah Proyek MBG
Oleh: Sumiman Udu
Di tengah gemuruh proyek besar negara, ada suara kecil yang sering tenggelam: suara warung rakyat, suara gerobak kopi, suara dapur UMKM, dan suara usaha-usaha kecil yang setiap hari mempertahankan hidup bangsa dari bawah. Ketika negara menggelontorkan anggaran ratusan triliun untuk program MBG, publik tentu berharap bahwa proyek sebesar itu tidak hanya menghasilkan statistik, tetapi juga menghadirkan denyut ekonomi bagi rakyat kecil.
Bangsa ini sesungguhnya berdiri di atas kekuatan UMKM. Data menunjukkan bahwa UMKM menyumbang lebih dari 60 persen Produk Domestik Bruto nasional dan menyerap sekitar 97 persen tenaga kerja Indonesia. Jumlahnya mencapai lebih dari 65 juta unit usaha yang tersebar dari kota besar hingga desa-desa terpencil.
Itulah sebabnya, ketika negara berbicara tentang pembangunan, sesungguhnya negara sedang berbicara tentang nasib UMKM.
Namun sering kali, proyek-proyek besar justru menciptakan jarak dengan rakyat kecil. Dana negara berputar di lingkaran kontraktor besar, perusahaan besar, dan rantai distribusi yang jauh dari ekonomi akar rumput. Sementara UMKM hanya menjadi penonton di tanahnya sendiri.
Padahal, proyek sebesar MBG seharusnya menjadi peluang terbesar dalam sejarah kebangkitan ekonomi rakyat.
Bayangkan jika bahan pangan program MBG dibeli dari petani lokal. Sayur dari kebun rakyat. Ikan dari nelayan desa. Telur dari peternak kecil. Beras dari penggilingan lokal. Kopi dan makanan ringan dari UMKM sekitar sekolah dan kantor layanan publik. Maka uang negara tidak berhenti di pusat kekuasaan ekonomi, tetapi mengalir hingga ke lorong-lorong kampung.
Di situlah pembangunan memiliki jiwa.
Karena pembangunan yang kehilangan rakyat hanya akan melahirkan gedung besar tanpa kehidupan sosial yang sehat. Negara mungkin bisa mencatat pertumbuhan ekonomi tinggi, tetapi rakyat kecil tetap hidup dalam kecemasan harian.
Rumah Ingatan Peradaban percaya bahwa kekuatan bangsa bukan pertama-tama terletak pada megaproyek, tetapi pada kemampuan negara menjaga ekonomi kecil tetap hidup. Sebab usaha kecil bukan sekadar urusan dagang. Ia adalah ruang martabat manusia.
Di warung kecil itu ada biaya sekolah anak. Di gerobak kopi itu ada harapan keluarga. Di dapur UMKM itu ada perjuangan perempuan menjaga kehidupan.
Ketika UMKM hidup, maka masyarakat memiliki daya tahan sosial. Ketika UMKM runtuh, maka negara sedang menciptakan ketergantungan ekonomi yang berbahaya.
Karena itu, proyek MBG tidak boleh hanya dipahami sebagai program konsumsi negara. Ia harus menjadi ekosistem ekonomi rakyat. Negara harus memastikan rantai pasok MBG dipenuhi oleh pelaku usaha lokal. Koperasi desa harus dilibatkan. UMKM pangan harus diberi ruang. Pelatihan kualitas produk harus diperkuat. Perizinan dipermudah. Akses modal dibuka. Digitalisasi UMKM dipercepat.
Jika tidak, maka proyek besar hanya akan menjadi parade angka tanpa pemerataan.
UMKM sendiri juga harus bergerak. Mereka tidak boleh hanya menunggu bantuan pemerintah. Momentum proyek MBG harus dibaca sebagai peluang ekonomi baru. UMKM harus mulai memperbaiki kualitas produk, menjaga kebersihan dan standar produksi, memperkuat kemasan, membangun merek, serta memanfaatkan teknologi digital.
Gerobak kopi di depan toko bisa tumbuh menjadi ruang komunitas. Dapur rumahan bisa menjadi penyedia pangan lokal. Usaha percetakan kecil bisa menjadi bagian dari kebutuhan administrasi proyek. Petani desa bisa menjadi pemasok utama kebutuhan pangan.
Pembangunan yang sehat adalah pembangunan yang membuat rakyat ikut bertumbuh bersama negara.
Bangsa besar bukan bangsa yang hanya mampu membangun proyek bernilai triliunan rupiah. Bangsa besar adalah bangsa yang mampu memastikan bahwa uang negara benar-benar berputar hingga ke tangan rakyat kecil.
Karena sesungguhnya, ekonomi nasional tidak hanya hidup di gedung-gedung tinggi ibu kota. Ia hidup di pasar desa, di warung sederhana, di pelabuhan kecil, di kebun rakyat, dan di tangan para pelaku UMKM yang setiap hari bekerja tanpa sorotan.
Mereka mungkin tidak tampil di panggung besar pembangunan. Tetapi merekalah fondasi sesungguhnya dari republik ini.






Komentar
Posting Komentar