Negeri yang Terlalu Banyak Sultan


Renungan Rumah Ingatan Peradaban tentang Orang Buton dan Kekalahan yang Dipelihara


Di banyak sudut tanah Buton, kita tumbuh dengan cerita kebesaran. Tentang kesultanan yang pernah disegani. Tentang benteng terbesar di dunia. Tentang para lakina, kapitalao, bonto, dan para pemimpin yang pernah mengatur laut-laut Nusantara dengan keberanian dan kecerdasan.

Tetapi ada satu pertanyaan yang jarang diajukan dengan jujur:
mengapa bangsa dengan ingatan sejarah sebesar itu justru sering kalah dalam banyak medan kehidupan modern?

Kalah dalam membangun persatuan.
Kalah dalam membangun ekonomi kolektif.
Kalah dalam membangun pendidikan yang kuat.
Bahkan kadang kalah melawan ego kecil di kampung sendiri.

Mungkin jawabannya pahit: sebab terlalu banyak orang merasa dirinya adalah sultan, tetapi terlalu sedikit yang bersedia menjadi rakyat yang bekerja.

Di tanah Buton, silsilah sering kali lebih penting daripada karya. Nama keluarga lebih cepat diperkenalkan daripada kemampuan. Banyak orang hidup dari nostalgia kebesaran leluhur, tetapi lupa membangun kebesaran untuk anak cucunya sendiri.

Padahal sejarah tidak pernah diwariskan melalui darah semata. Ia diwariskan melalui kerja, disiplin, pengorbanan, dan keberanian menghadapi zaman.

Kita terlalu lama hidup dalam bayang-bayang kebesaran masa lalu. Seolah menjadi keturunan bangsawan otomatis membuat seseorang layak dihormati. Padahal dunia modern tidak lagi bertanya: “anak siapa engkau?” Dunia sekarang bertanya: “apa yang bisa engkau kerjakan?”

Ironisnya, hampir semua merasa dirinya keturunan pemimpin. Semua ingin duduk di depan. Semua ingin menjadi pengarah. Semua ingin dihormati. Tetapi sedikit yang mau menjadi pelaksana yang tekun. Sedikit yang rela bekerja diam-diam membangun jalan panjang peradaban.

Akibatnya, banyak organisasi orang Buton pecah sebelum tumbuh. Banyak gerakan berhenti sebelum matang. Banyak kerja kolektif runtuh karena perebutan posisi simbolik. Orang lebih sibuk mempertahankan gengsi daripada mempertahankan tujuan bersama.

Ini seperti sebuah pasukan yang dipenuhi jendral, tetapi tidak memiliki prajurit. Semua ingin memberi komando, tetapi tak ada yang mau menjaga dapur perjuangan.

Dalam banyak percakapan di kampung-kampung, kita bahkan masih menemukan kebanggaan feodal yang dipelihara secara diam-diam. Ada yang merasa lebih mulia karena garis keturunan. Ada yang sulit menerima dipimpin oleh orang yang dianggap “bukan siapa-siapa.” Ada yang lebih rela melihat sesama gagal daripada menerima keberhasilan orang lain.

Padahal peradaban besar lahir bukan karena darah bangsawan, tetapi karena kemampuan membangun kepercayaan sosial.

Lihatlah bangsa-bangsa maju. Mereka tumbuh karena budaya kerja sama. Karena kemampuan menghargai profesionalisme. Karena kesediaan menempatkan kapasitas di atas kebanggaan genealogis.

Sementara kita kadang masih sibuk mengukur martabat manusia dari cerita masa lalu.

Rumah Ingatan Peradaban percaya bahwa salah satu penyakit paling sunyi dalam masyarakat Buton hari ini adalah romantisme sejarah tanpa transformasi sosial. Kita bangga pada benteng, tetapi gagal membangun universitas besar. Kita bangga pada gelar adat, tetapi lemah membangun koperasi dan industri. Kita bangga pada kisah sultan, tetapi anak-anak muda kita pergi merantau karena kampung tidak mampu menyediakan ruang hidup yang layak.

Yang lebih menyedihkan, sering kali sesama orang Buton saling menjatuhkan bukan karena perbedaan visi besar, tetapi karena perebutan pengaruh kecil. Ada ketakutan melihat orang lain tumbuh. Ada kegelisahan jika ada satu nama terlalu bersinar. Maka fitnah menjadi senjata, iri hati menjadi kebiasaan, dan persatuan hanya muncul di spanduk acara.

Padahal leluhur Buton dahulu besar bukan hanya karena struktur kesultanannya, tetapi karena kemampuan membangun tata kelola sosial yang kuat. Kesultanan Buton bertahan lama karena ada disiplin, pembagian peran, etika politik, dan kesadaran kolektif menjaga negeri.

Hari ini, yang diwarisi justru simbol kebesarannya, sementara etos peradabannya perlahan hilang.

Kita ingin dihormati seperti sultan, tetapi tidak mau memiliki tanggung jawab seperti sultan. Kita ingin dipanggil keturunan pejuang, tetapi enggan berjuang melawan kemalasan, kebodohan, dan perpecahan di zaman sekarang.

Barangkali sudah waktunya orang Buton berhenti bertanya tentang siapa leluhurnya, lalu mulai bertanya: warisan apa yang akan ditinggalkan untuk generasi berikutnya?

Karena sejarah tidak membutuhkan terlalu banyak jendral. Sejarah membutuhkan orang-orang yang mau bekerja bersama, meski tanpa gelar kebangsawanan.

Dan mungkin, kemenangan orang Buton di masa depan baru akan lahir ketika kita tidak lagi sibuk menjadi sultan dalam kepala masing-masing, tetapi bersedia menjadi tukang batu bagi rumah besar bernama peradaban.

Komentar