Stoisisme dan Kearifan Buton: Ketika Marcus Aurelius Bertemu Ajonga Yinda Malusa
Oleh: Sumiman Udu
Rumah Ingatan Peradaban
Di tengah dunia yang semakin gaduh, manusia modern menghadapi satu persoalan yang sama dengan manusia ribuan tahun lalu: bagaimana tetap tenang ketika hidup tidak berjalan sesuai harapan. Harga kebutuhan naik, pekerjaan tidak menentu, politik memecah belah, media sosial membanjiri pikiran dengan kemarahan dan kecemasan. Dalam situasi seperti itu, filsafat Stoik atau Stoisisme kembali mendapatkan tempat di berbagai belahan dunia.
Stoisisme mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak ditentukan oleh apa yang terjadi di luar diri kita, melainkan oleh bagaimana kita meresponsnya. Para filsuf Stoik seperti Marcus Aurelius, Epictetus, dan Seneca menekankan kebijaksanaan, keadilan, keberanian, pengendalian diri, serta kemampuan membedakan antara hal yang dapat dan tidak dapat kita kendalikan.
Namun sesungguhnya, jauh sebelum masyarakat Indonesia mengenal istilah Stoisisme, banyak masyarakat lokal telah mempraktikkan nilai-nilai yang serupa. Di Buton, nilai-nilai itu hidup dalam adat, sastra, petuah kesultanan, dan kabanti yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Ketika Laut Mengajarkan Dikotomi Kendali
Salah satu ajaran paling terkenal dalam Stoisisme adalah membedakan antara apa yang dapat kita kendalikan dan apa yang tidak dapat kita kendalikan. Kita dapat mengendalikan usaha, sikap, dan keputusan. Kita tidak dapat mengendalikan cuaca, badai, atau keputusan orang lain.
Bukankah ini juga pelajaran yang telah lama dipahami nelayan Buton?
Mereka dapat memperbaiki perahu, menyiapkan jaring, membaca arah angin, dan memilih waktu berlayar. Tetapi mereka tidak dapat memerintah ombak agar tenang. Karena itu, masyarakat maritim Buton tumbuh dengan kesadaran bahwa ikhtiar adalah kewajiban, sedangkan hasil adalah wilayah Tuhan.
Di sinilah laut menjadi sekolah filsafat yang sesungguhnya.
Kebajikan Lebih Tinggi daripada Kekuasaan
Stoisisme mengajarkan bahwa kebajikan adalah kebaikan tertinggi. Kekayaan, jabatan, dan popularitas hanyalah hal-hal luar yang tidak menentukan kualitas manusia.
Kesultanan Buton juga meninggalkan warisan yang serupa. Dalam berbagai petuah politik dan moral, seorang pemimpin tidak diukur dari kemewahan istana atau luas wilayah kekuasaannya, melainkan dari kemampuannya menjaga keadilan, amanah, dan kesejahteraan rakyat.
Karena itu, dalam tradisi Buton, seorang pemimpin yang kehilangan integritas sesungguhnya telah kehilangan kemuliaannya, meskipun masih memegang kekuasaan.
Ajonga Yinda Malusa dan Keberanian Moral
Dunia modern sering memahami keberanian sebagai kemampuan melawan musuh. Namun Stoisisme mengajarkan bahwa keberanian terbesar adalah kemampuan tetap melakukan yang benar meskipun sulit.
Dalam tradisi Buton, keberanian seperti itu banyak ditemukan dalam nasihat-nasihat moral yang terkandung dalam naskah kabanti.
Ajonga Yinda Malusa bukan sekadar karya sastra. Ia adalah panduan etika yang mengingatkan manusia agar tidak diperbudak oleh hawa nafsu, keserakahan, dan kepentingan sesaat.
Keberanian sejati bukanlah menaklukkan orang lain, melainkan menaklukkan diri sendiri.
Pengendalian Diri sebagai Fondasi Peradaban
Salah satu kebajikan utama Stoisisme adalah temperance atau pengendalian diri. Manusia diajak untuk tidak berlebihan dalam kesenangan, kemarahan, ambisi, maupun kesedihan.
Peradaban-peradaban besar runtuh bukan hanya karena serangan dari luar, tetapi juga karena hilangnya kemampuan mengendalikan diri dari dalam.
Masyarakat Buton mengenal berbagai norma adat yang mengatur perilaku individu agar tidak merusak harmoni sosial. Tradisi musyawarah, penghormatan kepada orang tua, tata krama berbicara, hingga etika dalam kehidupan bersama merupakan bentuk-bentuk pengendalian diri yang diwariskan secara turun-temurun.
Tanpa pengendalian diri, tidak mungkin lahir masyarakat yang beradab.
Bolimo Karo Somanamo Lipu: Stoisisme Ala Buton
Mungkin titik temu paling menarik antara Stoisisme dan kearifan Buton terdapat pada falsafah:
"Bolimo karo somanamo lipu."
Jangan mengutamakan diri sendiri, tetapi utamakan negeri.
Di dalam satu kalimat pendek ini terkandung kebijaksanaan, keadilan, keberanian, dan pengendalian diri sekaligus. Seseorang harus cukup bijaksana untuk memahami kepentingan bersama, cukup adil untuk menghormati hak orang lain, cukup berani untuk berkorban, dan cukup mampu mengendalikan diri agar tidak diperbudak oleh ego.
Nilai ini sangat relevan ketika masyarakat modern semakin terjebak dalam budaya individualisme.
Menjaga Rumah Ingatan Peradaban
Stoisisme hari ini menjadi populer karena manusia modern sedang mencari ketenangan. Namun sesungguhnya, banyak jawaban yang mereka cari telah lama tersimpan dalam rumah-rumah ingatan peradaban lokal.
Buton tidak mengenal Marcus Aurelius. Marcus Aurelius juga tidak mengenal Buton. Tetapi keduanya bertemu dalam satu titik yang sama: keyakinan bahwa manusia yang baik adalah manusia yang mampu mengendalikan dirinya, berlaku adil kepada sesama, berani menghadapi kesulitan, dan tetap teguh memegang kebajikan.
Mungkin karena itulah peradaban yang besar tidak dibangun oleh orang-orang yang paling kaya, melainkan oleh orang-orang yang paling mampu mengendalikan dirinya.
Dan ketika dunia terus berubah dengan cepat, warisan kebijaksanaan seperti inilah yang perlu terus dirawat, agar generasi mendatang tidak hanya mewarisi teknologi, tetapi juga mewarisi kebijaksanaan untuk menggunakannya.
**Sebab peradaban yang kehilangan ingatannya akan kehilangan arah, tetapi peradaban yang menjaga kebijaksanaannya akan selalu menemukan jalan pulang.**






Komentar
Posting Komentar