Sastra: Tambang Emas yang Sering Kita Abaikan


Oleh: Sumiman Udu 

Rumah Ingatan Peradaban


Di banyak daerah di Indonesia, cerita-cerita lama masih hidup dalam ingatan para tetua. Mereka mengisahkan asal-usul kampung, perjalanan leluhur, kisah cinta, kepahlawanan, hingga petuah-petuah kehidupan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Namun ironisnya, ketika dunia bergerak menuju ekonomi kreatif, kita sering menganggap cerita-cerita itu hanya sebagai peninggalan masa lalu yang tidak memiliki nilai ekonomi.

Padahal dunia modern telah membuktikan sebaliknya. Banyak negara membangun kekuatan ekonominya bukan hanya dari sumber daya alam, tetapi juga dari cerita. Film, novel, serial televisi, animasi, permainan digital, hingga destinasi wisata lahir dari kekuatan narasi. Ekonomi kreatif yang kini dipromosikan sebagai mesin pertumbuhan baru Indonesia bertumpu pada kreativitas, budaya, dan kekayaan intelektual sebagai sumber utama nilai ekonomi.

Di sinilah sastra menemukan relevansinya.

Sastra bukan sekadar kumpulan kata-kata indah. Sastra adalah gudang imajinasi. Ia menyimpan identitas, nilai, pengetahuan lokal, dan pengalaman sejarah suatu masyarakat. Ketika sebuah cerita ditulis, dibacakan, dipentaskan, direkam, atau diadaptasi ke medium lain, sesungguhnya sedang terjadi proses penciptaan nilai ekonomi.

Sayangnya, kita sering memandang sastra hanya sebagai bagian dari pendidikan atau kebudayaan, bukan sebagai bagian dari pembangunan ekonomi.

Padahal, lihatlah bagaimana dunia bekerja.

Sebuah novel dapat melahirkan film. Film melahirkan industri pariwisata. Pariwisata menghidupkan hotel, restoran, transportasi, dan UMKM. Semua bermula dari sebuah cerita.

Dengan kata lain, sastra bukan sekadar produk budaya. Sastra adalah bahan baku industri kreatif.

Kabanti dan Harta yang Belum Ditemukan

Jika kita menoleh ke Buton, sesungguhnya kita sedang berdiri di atas sebuah tambang emas kebudayaan.

Kabanti, hikayat Kesultanan Buton, kisah Wa Kaa Kaa, legenda La Elangi, tradisi Lalo'a, dan berbagai narasi maritim yang hidup di Wakatobi bukan hanya warisan budaya. Semua itu adalah sumber daya kreatif yang dapat diolah menjadi buku, film dokumenter, animasi, pertunjukan budaya, podcast, wisata sejarah, hingga konten digital.

Masalahnya bukan karena kita tidak memiliki cerita.

Masalahnya adalah kita belum melihat cerita sebagai aset ekonomi.

Kita masih sibuk menggali tanah, sementara harta yang tersimpan dalam ingatan kolektif masyarakat belum disentuh secara serius.

Padahal UNESCO menegaskan bahwa budaya dan industri kreatif merupakan instrumen penting dalam pembangunan berkelanjutan, penciptaan lapangan kerja, pengurangan kemiskinan, dan penguatan identitas masyarakat. Sektor budaya bahkan menciptakan puluhan juta pekerjaan di berbagai negara dan menjadi bagian penting dari pembangunan ekonomi masa depan.

Dari Ingatan Menjadi Kesejahteraan

Masyarakat sering dihadapkan pada pilihan yang seolah-olah bertentangan: menjaga budaya atau mengejar pembangunan ekonomi.

Padahal keduanya tidak harus dipertentangkan.

Budaya dapat menjadi jalan menuju kesejahteraan.

Kabanti dapat menjadi buku anak.

Cerita rakyat dapat menjadi animasi.

Benteng Keraton Buton dapat menjadi ruang pertunjukan sastra.

Tradisi lisan dapat menjadi podcast budaya.

Narasi maritim Wakatobi dapat menjadi wisata edukasi.

Ketika budaya dikelola secara kreatif, pelestarian dan kesejahteraan berjalan beriringan.

Inilah yang dilakukan banyak bangsa maju. Mereka tidak sekadar menjaga warisan budaya dalam museum. Mereka menghidupkannya dalam ekonomi masyarakat.

Rumah Ingatan dan Masa Depan Peradaban

Peradaban besar tidak dibangun hanya oleh gedung-gedung tinggi. Ia dibangun oleh kemampuan suatu masyarakat menjaga ingatannya.

Bangsa yang kehilangan cerita akan kehilangan arah. Sebaliknya, bangsa yang mampu mengubah ingatannya menjadi energi kreatif akan memiliki masa depan yang lebih kuat.

Karena itu, tugas kita hari ini bukan hanya mendokumentasikan cerita-cerita lama. Tugas yang lebih besar adalah mengubah cerita itu menjadi sumber inspirasi, pendidikan, dan kesejahteraan.

Sastra harus keluar dari rak-rak perpustakaan.

Ia harus hadir di sekolah, di ruang digital, di panggung budaya, di destinasi wisata, bahkan dalam strategi pembangunan daerah.

Sebab pada akhirnya, masa depan tidak hanya dibangun oleh apa yang kita miliki di bawah tanah, tetapi juga oleh apa yang kita simpan di dalam ingatan.

Dan bagi masyarakat Buton, Wakatobi, Muna, serta seluruh Nusantara, ingatan itu masih hidup dalam sastra.

Tinggal menunggu apakah kita akan membiarkannya menjadi kenangan, atau mengubahnya menjadi peradaban.

Komentar