Menunggu Nahkoda Peradaban: Siapa yang Mampu Membawa UHO Menjadi Mercusuar Indonesia Timur?
Oleh Sumiman Udu
Artikel Khas Rumah Ingatan Peradaban
Pemilihan rektor bukan sekadar memilih seorang administrator kampus. Ia adalah memilih seorang nahkoda yang akan membawa kapal besar bernama Universitas Halu Oleo (UHO) menembus gelombang zaman. Di atas pundak seorang rektor, tersimpan harapan ribuan mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, alumni, bahkan masyarakat Sulawesi Tenggara yang menjadikan kampus ini sebagai simbol kemajuan daerah.
Tahun 2026 menjadi momentum penting bagi UHO. Sebanyak sebelas akademisi terbaik telah mendaftarkan diri sebagai bakal calon rektor periode 2026–2030. Nama-nama yang muncul bukanlah figur sembarangan. Mereka adalah para profesor, dekan, wakil rektor, hingga pelaksana tugas rektor yang telah lama mengabdikan diri di kampus hijau tersebut. Di antaranya Prof. Ruslin, Prof. Takdir Saili, Assoc. Prof. Baru Sadarun, Prof. Azhar Bafadal, Prof. Edy Karno, Prof. Santiaji Bande, Prof. Ida Usman, Prof. Ma'ruf Kasim, Dr. Muliddin, Dr. Herman, dan Prof. Yusuf Sabilu.
Namun pertanyaan yang sesungguhnya bukanlah siapa yang paling populer. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: siapa yang memiliki kapasitas untuk membawa UHO menjadi universitas yang diperhitungkan di Indonesia Timur bahkan di tingkat regional Asia Tenggara?
Universitas Besar Tidak Dilahirkan oleh Gedung
Banyak kampus membangun gedung megah, tetapi sedikit yang membangun reputasi akademik. Dunia perguruan tinggi hari ini tidak lagi menilai universitas dari luas kampusnya, melainkan dari jumlah publikasi internasional, kualitas riset, inovasi teknologi, jejaring global, serta dampak sosial yang dihasilkan.
Karena itu, calon rektor ideal bukan sekadar manajer birokrasi. Ia harus memiliki tiga kemampuan utama:
Pertama, kemampuan membangun reputasi akademik global.
UHO harus mampu keluar dari zona regional dan mulai hadir dalam percakapan akademik nasional serta internasional. Kampus-kampus besar seperti Institut Pertanian Bogor, Universitas Gadjah Mada, dan Institut Teknologi Bandung tidak menjadi besar karena usia mereka, tetapi karena konsistensi membangun budaya riset.
Kedua, kemampuan mengelola sumber daya manusia.
Dosen adalah jantung universitas. Ketika dosen sejahtera, produktivitas akademik meningkat. Ketika dosen merasa dihargai, inovasi tumbuh. Sebaliknya, jika dosen sibuk memikirkan kebutuhan hidup sehari-hari, energi intelektual kampus akan terkuras.
Ketiga, kemampuan membangun jejaring dan pendanaan.
Era ketika universitas hanya bergantung pada APBN telah berlalu. Kampus masa depan harus mampu menarik hibah penelitian, investasi pendidikan, kerja sama industri, dan kolaborasi internasional.
Mimpi tentang Kesejahteraan Dosen
Di ruang-ruang diskusi kampus, satu isu selalu hadir: kesejahteraan dosen.
Banyak dosen berharap hadirnya skema penghargaan yang setara dengan tunjangan kinerja (tukin) yang dinikmati ASN di berbagai kementerian. Harapan ini wajar. Dosen bukan hanya pengajar, tetapi peneliti, penulis, inovator, dan penjaga peradaban ilmu.
Namun penting dipahami bahwa seorang rektor tidak dapat secara sepihak menjanjikan tukin setara kementerian. Kebijakan tersebut bergantung pada regulasi pemerintah pusat dan kementerian terkait. Yang dapat dilakukan rektor adalah memperjuangkan berbagai sumber peningkatan kesejahteraan melalui remunerasi, insentif kinerja, hibah riset, kerja sama industri, serta tata kelola keuangan yang sehat.
Karena itu, pertanyaan yang lebih realistis bukanlah "siapa yang bisa menjamin tukin", melainkan:
Siapa yang memiliki rekam jejak dan kemampuan untuk memperjuangkan sistem kesejahteraan dosen yang lebih baik?
Jawaban atas pertanyaan itu harus diuji melalui visi, program kerja, dan rekam jejak nyata setiap kandidat.
UHO dan Tanggung Jawab Sejarah
UHO bukan sekadar universitas terbesar di Sulawesi Tenggara. Ia adalah pusat produksi pengetahuan bagi kawasan kepulauan yang kaya sumber daya laut, pertambangan, kehutanan, budaya maritim, dan keanekaragaman hayati.
Karena itu, rektor masa depan harus mampu menjadikan UHO sebagai:
- Pusat riset maritim Indonesia Timur.
- Pusat inovasi hilirisasi sumber daya alam Sulawesi Tenggara.
- Pusat studi budaya dan peradaban kepulauan.
- Kampus yang menjadi rujukan akademik kawasan Wallacea.
- Universitas yang melahirkan wirausahawan dan inovator muda.
Jika visi itu terwujud, maka UHO tidak hanya dikenal di Kendari. Ia akan menjadi magnet intelektual Indonesia Timur.
Siapa yang Paling Layak?
Jawaban jujur atas pertanyaan itu hari ini adalah: belum ada yang dapat dipastikan.
Publik baru mengetahui nama-nama kandidat. Visi, program strategis, indikator kinerja, serta peta jalan pembangunan kampus masing-masing kandidat belum sepenuhnya diuji secara terbuka. Sebagian kandidat telah menyampaikan komitmen menuju kampus berkelas dunia dan penguatan mutu akademik, tetapi efektivitasnya baru dapat dinilai setelah pemaparan resmi visi dan misi.
Maka tugas sivitas akademika bukan mencari figur yang paling kuat secara politik, melainkan figur yang paling kuat secara gagasan.
Penutup
Pada akhirnya, sejarah tidak akan mengingat siapa yang menang dalam pemilihan rektor. Sejarah hanya akan mengingat apa yang ditinggalkannya.
Apakah ia meninggalkan universitas yang lebih unggul?
Apakah ia meninggalkan budaya akademik yang lebih sehat?
Apakah ia meningkatkan kesejahteraan dosen?
Apakah ia memperluas mimpi mahasiswa?
Dan yang terpenting, apakah ia menjadikan Universitas Halu Oleo sebagai mercusuar ilmu pengetahuan di Indonesia Timur?
Sebelas kandidat telah maju dengan keberanian dan keyakinan. Kini yang dibutuhkan bukan sekadar kompetisi personal, melainkan adu gagasan tentang masa depan peradaban.
Karena rektor sejati bukanlah orang yang berhasil menduduki kursi kepemimpinan.
Rektor sejati adalah mereka yang mampu membuat universitas hidup lebih lama daripada masa jabatannya.






Komentar
Posting Komentar