Ketika Satu Bahasa Hilang, Dunia Kehilangan Satu Rantai Peradaban

 

Oleh: Sumiman Udu

Rumah Ingatan Peradaban


Di tengah derasnya arus globalisasi, manusia sering kali mengukur kemajuan dengan gedung-gedung tinggi, kecanggihan teknologi, kecepatan internet, dan kemampuan menguasai bahasa-bahasa global. Namun, di balik semua itu, ada satu kehilangan yang sering luput dari perhatian: hilangnya bahasa-bahasa lokal yang selama berabad-abad menjadi rumah bagi ingatan sebuah peradaban.

Prof. La Ode Sidu Marafad pernah menyampaikan sebuah pandangan yang sangat mendalam: "Kehilangan satu bahasa berarti dunia telah kehilangan satu rantai peradaban dan sekaligus nilai-nilainya." Kalimat ini sesungguhnya bukan sekadar ungkapan akademik, melainkan sebuah peringatan bagi umat manusia.

Bahasa bukan sekadar alat untuk berbicara. Bahasa adalah arsip hidup yang berjalan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Di dalamnya tersimpan sejarah, filsafat hidup, pengetahuan lingkungan, sistem sosial, hukum adat, sastra, hingga cara manusia memandang dirinya sendiri dan alam semesta.

Ketika seorang anak belajar bahasa ibunya, sesungguhnya ia tidak hanya mempelajari kata-kata. Ia sedang mewarisi cara berpikir leluhurnya. Ia sedang menerima warisan peradaban yang telah dibangun selama ratusan bahkan ribuan tahun.

Karena itu, hilangnya sebuah bahasa bukan hanya persoalan linguistik. Ia adalah tragedi peradaban.

Bayangkan jika suatu hari bahasa Wolio, Muna, Cia-Cia, Moronene, Kulisusu, Pancana, atau bahasa-bahasa lain di Sulawesi Tenggara tidak lagi dituturkan oleh generasi mudanya. Mungkin masih ada kamus yang tersimpan di perpustakaan. Mungkin masih ada penelitian yang tersimpan di rak-rak kampus. Namun bahasa itu telah kehilangan jiwanya karena tidak lagi hidup dalam percakapan sehari-hari.

Bersamaan dengan itu, berbagai pengetahuan lokal ikut terancam menghilang.

Bagaimana generasi mendatang memahami falsafah kehidupan masyarakat Buton jika mereka tidak lagi memahami bahasa yang melahirkan falsafah itu? Bagaimana mereka memahami syair-syair kabanti, petuah adat, cerita rakyat, dan berbagai bentuk sastra lisan yang menjadi penyangga identitas budaya mereka?

Sesungguhnya setiap bahasa adalah sebuah perpustakaan. Bedanya, perpustakaan itu tidak terbuat dari batu dan semen, melainkan dari ingatan manusia. Ketika bahasa hilang, perpustakaan itu terbakar tanpa asap.

Di wilayah kepulauan seperti Sulawesi Tenggara, bahasa-bahasa lokal juga menyimpan pengetahuan ekologis yang sangat berharga. Nama-nama ikan, musim, arus laut, jenis tanah, tumbuhan obat, hingga tanda-tanda perubahan cuaca sering kali hanya dapat dipahami secara utuh melalui bahasa lokal. Pengetahuan tersebut lahir dari pengalaman panjang masyarakat dalam berinteraksi dengan lingkungannya.

Masyarakat Kapota mengenal laut bukan sekadar hamparan air. Laut adalah lumbung pangan. Laut adalah ruang sosial. Laut adalah sekolah kehidupan. Demikian pula masyarakat Kulati yang memandang laut sebagai "bank ikan", tempat menyimpan sumber kehidupan untuk masa depan. Cara pandang seperti ini tidak lahir secara tiba-tiba. Ia tumbuh bersama bahasa yang digunakan untuk menamai, memahami, dan memaknai lingkungan tersebut.

Karena itu, ketika bahasa hilang, bukan hanya identitas yang hilang, tetapi juga pengetahuan yang dibutuhkan manusia untuk menghadapi masa depan.

Ironisnya, ancaman terbesar terhadap bahasa daerah hari ini bukanlah larangan atau penindasan seperti yang pernah terjadi di berbagai belahan dunia. Ancaman terbesar justru datang dari sikap abai. Banyak orang tua tidak lagi berbicara dengan anak-anaknya menggunakan bahasa ibu. Banyak anak muda merasa bahasa daerah tidak memiliki nilai ekonomi. Banyak lembaga pendidikan belum menempatkan bahasa daerah sebagai aset strategis kebudayaan.

Padahal bangsa-bangsa besar di dunia justru menjaga bahasa mereka sebagai bagian dari kekuatan nasional. Mereka memahami bahwa bahasa adalah identitas, dan identitas adalah fondasi keberlanjutan peradaban.

Di era kecerdasan buatan, digitalisasi, dan ekonomi kreatif, bahasa daerah tidak boleh hanya menjadi penghuni museum budaya. Bahasa daerah harus masuk ke ruang digital. Ia harus hadir dalam buku, film, lagu, media sosial, permainan digital, aplikasi pembelajaran, hingga teknologi kecerdasan buatan. Bahasa yang tidak hadir dalam ruang masa depan akan semakin sulit bertahan.

Menyelamatkan bahasa daerah berarti menyelamatkan ingatan kolektif masyarakat. Menyelamatkan bahasa berarti menjaga agar nilai-nilai kearifan lokal tetap hidup. Menyelamatkan bahasa berarti menjaga agar generasi mendatang tetap memiliki akar yang kuat di tengah dunia yang terus berubah.

Peradaban manusia ibarat sebuah rantai panjang yang tersusun dari ribuan mata rantai budaya dan bahasa. Setiap bahasa adalah satu mata rantai yang menghubungkan masa lalu dengan masa depan. Ketika satu mata rantai putus, kekuatan keseluruhan rantai ikut berkurang.

Karena itu, menjaga bahasa bukanlah pekerjaan romantik untuk mengenang masa lalu. Menjaga bahasa adalah pekerjaan strategis untuk merawat masa depan.

Sebab ketika satu bahasa hilang, dunia tidak hanya kehilangan kata-kata.

Dunia kehilangan cara berpikir.

Dunia kehilangan pengetahuan.

Dunia kehilangan nilai-nilai.

Dan pada akhirnya, dunia kehilangan satu rantai penting dalam bangunan besar yang bernama peradaban manusia.

— Rumah Ingatan Peradaban
"Bahasa adalah jembatan antara leluhur dan generasi yang belum lahir."

Komentar