Ketika Hak Asasi Manusia Kehilangan Wajahnya
Oleh: Sumiman Udu
Dunia modern dibangun di atas satu janji besar: bahwa setiap manusia memiliki hak yang sama untuk hidup, aman, dan bermartabat. Janji itu kemudian dirumuskan dalam berbagai deklarasi hak asasi manusia yang banyak dipromosikan oleh negara-negara Barat, terutama Eropa dan Amerika Serikat. Namun, sejarah selalu menguji apakah sebuah nilai benar-benar diyakini atau hanya menjadi alat politik.
Tragedi kemanusiaan yang berlangsung di Palestina telah membuka pertanyaan besar tentang konsistensi dunia dalam membela hak asasi manusia. Ketika ribuan warga sipil menjadi korban perang, ketika rumah sakit, sekolah, dan tempat pengungsian ikut terdampak konflik, banyak masyarakat dunia mempertanyakan mengapa suara yang selama ini lantang membela HAM justru terdengar begitu lemah.
Bukan berarti konsep hak asasi manusia salah. Yang dipersoalkan adalah praktik dan standar ganda dalam penerapannya. Sebuah nilai akan kehilangan wibawanya ketika diterapkan secara selektif. Hak hidup seorang anak di Palestina seharusnya memiliki nilai yang sama dengan hak hidup seorang anak di Eropa, Amerika, Asia, atau Afrika.
Sejarah menunjukkan bahwa peradaban runtuh bukan hanya karena perang, tetapi juga karena hilangnya konsistensi moral. Ketika kekuatan politik lebih menentukan daripada nilai kemanusiaan, maka yang tersisa hanyalah hukum bagi yang kuat dan penderitaan bagi yang lemah.
Dunia membutuhkan keberanian moral untuk mengatakan bahwa setiap korban sipil adalah tragedi, siapa pun pelakunya dan dari pihak mana pun asalnya. Kemanusiaan tidak boleh dibatasi oleh agama, ras, ideologi, maupun kepentingan geopolitik.
Bagi bangsa-bangsa yang pernah mengalami penjajahan, termasuk Indonesia, penderitaan Palestina mengingatkan bahwa kemerdekaan dan martabat manusia bukanlah hadiah, melainkan hak yang harus diperjuangkan. Karena itu, solidaritas terhadap Palestina bukan semata soal politik internasional, tetapi juga soal menjaga nurani kemanusiaan.
Hak asasi manusia akan tetap menjadi cita-cita luhur peradaban. Namun, cita-cita itu hanya akan dihormati jika diterapkan secara adil dan universal. Jika tidak, dunia akan melihat bahwa yang dipertahankan bukanlah hak asasi manusia, melainkan kepentingan politik yang mengenakan topeng kemanusiaan.
Pada akhirnya, sejarah akan mencatat bukan hanya siapa yang berperang, tetapi juga siapa yang memilih diam ketika kemanusiaan dipertaruhkan.
Rumah Ingatan Peradaban mengajarkan bahwa ukuran kemajuan sebuah bangsa bukanlah kekuatan senjatanya, melainkan kemampuan menjaga martabat manusia. Sebab ketika kemanusiaan kehilangan tempatnya, peradaban sesungguhnya sedang menuju kemundurannya.






Komentar
Posting Komentar