Huma: Peradaban Kecil di Tengah Pasi Tomia
Oleh: Sumiman Udu
Rumah Ingatan Peradaban
![]() |
| Foto: Saleh Hanan |
Di tengah hamparan laut biru Wakatobi, berdiri bangunan-bangunan sederhana yang oleh masyarakat nelayan dikenal sebagai Huma. Bagi orang luar, Huma mungkin hanya tampak sebagai tempat singgah sementara di atas karang. Namun bagi nelayan Wakatobi, Huma adalah ruang kehidupan yang menyimpan pengetahuan, etika, dan peradaban maritim yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Huma berdiri di kawasan Pasi Tomia, sebuah bentangan karang yang oleh masyarakat setempat diyakini sebagai salah satu hamparan karang terpanjang di Indonesia. Di sinilah laut dan manusia membangun hubungan yang tidak sekadar ekonomi, tetapi juga hubungan sosial dan ekologis yang saling menjaga.
Setiap kali melaut, nelayan menjadikan Huma sebagai tempat beristirahat. Mereka membersihkan hasil tangkapan, mengolah ikan, memasak makanan, memperbaiki alat tangkap, hingga bermalam ketika cuaca tidak memungkinkan untuk kembali ke kampung. Asap tipis dari tungku masak yang mengepul di atas karang menjadi tanda kehidupan yang terus berdenyut di tengah lautan.
Namun fungsi Huma jauh melampaui kebutuhan fisik. Di tempat inilah para nelayan membangun dan memperkuat hubungan sosial. Mereka berbagi cerita tentang musim, arus laut, lokasi ikan, hingga pengalaman menghadapi badai. Pengetahuan yang tidak tertulis itu berpindah dari mulut ke mulut, dari generasi tua kepada generasi muda.
Lebih dari itu, Huma juga menjadi ruang peneguhan aturan adat dalam pengelolaan sumber daya laut. Para nelayan memahami bahwa karang adalah rumah bagi kehidupan. Karena itu mereka menaati berbagai norma yang mengatur pemanfaatan kawasan tersebut. Mereka memasang bubu, menebar jaring, dan melakukan panah ikan dengan memperhatikan keseimbangan ekosistem yang telah menjadi sumber penghidupan mereka selama berabad-abad.
Dalam pandangan masyarakat Wakatobi, menjaga karang bukan sekadar kewajiban ekologis, tetapi juga tanggung jawab moral. Nelayan bukan hanya pencari ikan, melainkan sekaligus penjaga laut. Mereka memahami bahwa rusaknya karang berarti hilangnya rumah bagi ikan-ikan yang menjadi sumber kehidupan mereka sendiri.
Pasi Tomia merupakan salah satu kawasan yang memperlihatkan kekayaan biodiversitas laut Indonesia. Beragam jenis ikan karang hidup di sana, membentuk jaringan kehidupan yang kompleks dan menakjubkan. Karang bukan sekadar batu yang terendam air laut, melainkan sebuah kota bawah laut yang menjadi tempat tinggal ribuan organisme.
Menariknya, kehidupan di Huma juga memperlihatkan bagaimana manusia membawa unsur daratan ke tengah laut. Di salah satu Huma, tumbuh rumpun serai yang sengaja ditanam oleh para nelayan. Tanaman sederhana itu menjadi rempah penting dalam memasak ikan hasil tangkapan. Kehadiran serai di atas karang menunjukkan kemampuan manusia maritim untuk menciptakan ruang hidup yang nyaman di lingkungan yang tampaknya keras dan terbatas.
Serai itu bukan sekadar bumbu dapur. Ia menjadi simbol adaptasi, kreativitas, dan kecintaan nelayan terhadap tempat hidup mereka. Di tengah laut yang luas, mereka tetap menghadirkan sentuhan rumah melalui tanaman yang dirawat bersama.
Huma mengajarkan bahwa peradaban tidak selalu lahir dari kota-kota besar dengan gedung megah. Peradaban juga dapat tumbuh dari pondok sederhana di atas karang, dari tungku yang menyala, dari ikan yang dibersihkan bersama, dari aturan yang dihormati, dan dari kesadaran kolektif untuk menjaga laut sebagai warisan bagi generasi mendatang.
Di tengah berbagai ancaman terhadap ekosistem laut—mulai dari perubahan iklim, penangkapan ikan yang merusak, hingga tekanan ekonomi modern—Huma menjadi pengingat bahwa masyarakat pesisir sesungguhnya memiliki pengetahuan dan kearifan yang telah teruji oleh waktu. Mereka tidak hanya hidup dari laut, tetapi juga hidup bersama laut.
Karena itu, menjaga Huma berarti menjaga ingatan maritim Nusantara. Menjaga Huma berarti menjaga Pasi Tomia. Dan menjaga Pasi Tomia berarti menjaga salah satu simpul penting peradaban bahari Indonesia yang telah lama tumbuh dan berakar di jantung Wakatobi.






Komentar
Posting Komentar