Wajah Baru Kota Kendari dan Gagasan yang Tertinggal


Catatan tentang La Ode Kaimuddin, Modernisasi Kota, dan Hilangnya Pusat P2ID

Oleh: Sumiman Udu (Rumah Ingatan Peradaban)


Sebuah kota sesungguhnya tidak hanya dibangun dengan beton, jalan raya, dan gedung-gedung tinggi. Kota dibangun oleh gagasan. Oleh keberanian untuk membayangkan masa depan yang lebih baik dibanding hari ini.

Di Sulawesi Tenggara, nama menjadi salah satu tokoh penting dalam perubahan wajah menuju arah kota modern. Pada masanya, Kendari mulai bergerak dari wajah kota administratif biasa menuju kota yang mencoba tampil lebih tertata, lebih terbuka, dan lebih percaya diri sebagai ibu kota provinsi.

Perubahan itu bukan sekadar soal pembangunan fisik. Ia adalah perubahan cara pandang terhadap masa depan daerah.

Di masa kepemimpinannya, muncul berbagai upaya pembenahan infrastruktur, penataan kawasan kota, pembangunan ruang publik, hingga penguatan identitas Kendari sebagai pusat pertumbuhan Sulawesi Tenggara. Kota mulai bergerak dengan ritme modernitas. Jalan-jalan utama berkembang, aktivitas ekonomi tumbuh, dan optimisme masyarakat perlahan meningkat.

Namun salah satu gagasan yang paling menarik pada masa itu adalah pembangunan pusat P2ID.

P2ID bukan sekadar bangunan biasa. Ia dirancang sebagai pusat promosi, pusat informasi, dan ruang pengenalan potensi daerah Sulawesi Tenggara kepada publik yang lebih luas. Dalam semangat zamannya, gagasan itu sesungguhnya sangat visioner. Sebab sebuah daerah tidak cukup hanya memiliki sumber daya alam; daerah juga harus mampu memperkenalkan dirinya kepada dunia.

Di dalam ide besar P2ID, tersimpan mimpi tentang Sulawesi Tenggara yang percaya pada potensinya sendiri. Tempat di mana investasi, budaya, pariwisata, perdagangan, dan identitas daerah dapat dipertemukan dalam satu ruang promosi yang terintegrasi.

Tetapi sejarah pembangunan daerah sering menghadapi satu masalah besar:
ketidakberlanjutan gagasan.

Banyak ide lahir dengan penuh semangat, tetapi perlahan redup ketika kepemimpinan berganti. Program-program strategis yang semestinya dirawat justru berhenti di tengah jalan karena perubahan arah politik dan prioritas kekuasaan.

Demikian pula yang terjadi dengan P2ID.

Gagasan besar itu perlahan kehilangan denyutnya. Yang dahulu dibangun sebagai pusat promosi masa depan, akhirnya tidak lagi menjadi perhatian utama. Pergantian kepemimpinan membuat banyak program tidak dilanjutkan secara serius. Akibatnya, ruang yang dahulu dirancang untuk memperkenalkan potensi daerah justru menjadi simbol tentang rapuhnya kesinambungan pembangunan.

Padahal peradaban besar selalu dibangun melalui kesinambungan gagasan, bukan sekadar pergantian kekuasaan.

Di banyak negara maju, sebuah ide baik tetap dirawat meskipun pemimpinnya telah berganti. Karena yang dipertahankan bukan ego politik, melainkan kepentingan jangka panjang masyarakat.

Rumah Ingatan Peradaban melihat bahwa persoalan terbesar pembangunan daerah di Indonesia sering kali bukan kekurangan ide, melainkan lemahnya tradisi melanjutkan ide.

Kita terlalu sering memulai, tetapi jarang menyempurnakan.

Kita gemar meresmikan, tetapi kurang tekun merawat.

Akibatnya, banyak bangunan kehilangan makna sejarahnya. Banyak pusat kegiatan kehilangan ruhnya. Dan banyak mimpi pembangunan akhirnya tinggal menjadi kenangan.

Padahal sebuah pusat promosi seperti P2ID bisa saja berkembang menjadi ruang ekonomi kreatif, pusat pameran budaya, ruang diplomasi investasi, bahkan ikon identitas modern Sulawesi Tenggara. Ia dapat menjadi jendela yang memperlihatkan kekayaan daerah kepada Indonesia dan dunia.

Tetapi setiap gagasan besar membutuhkan dua hal:
visi dan keberlanjutan.

La Ode Kaimuddin mungkin telah meletakkan fondasi gagasan itu. Namun sejarah memperlihatkan bahwa fondasi saja tidak cukup jika tidak diteruskan oleh generasi berikutnya.

Hari ini, Kota Kendari terus berubah. Gedung bertambah. Jalan semakin ramai. Aktivitas ekonomi tumbuh lebih cepat. Tetapi pertanyaan pentingnya adalah: apakah pembangunan kita hanya bergerak secara fisik, atau juga bergerak secara peradaban?

Sebab kota modern bukan hanya kota dengan bangunan tinggi. Kota modern adalah kota yang mampu menjaga ingatan sejarah, menghargai gagasan pendahulunya, dan melanjutkan cita-cita besar untuk masa depan bersama.

Karena sesungguhnya, peradaban tidak dibangun oleh satu orang saja. Ia dibangun oleh kemampuan sebuah generasi untuk menjaga api yang telah dinyalakan generasi sebelumnya.

Komentar