Sasi Bajo Darawa: Ketika Laut Tidak Hanya Diambil, Tetapi Diajak Bernapas


Oleh: Dr. Hamiruddin Udu, M.Hum

Rumah Ingatan: Ada bangsa-bangsa yang membangun peradabannya dari batu, istana, benteng, dan prasasti. Tetapi ada pula masyarakat yang membangun peradabannya dari gelombang, angin, arus, musim ikan, terumbu karang, dan ingatan para tetua yang membaca laut seperti membaca kitab kehidupan. Masyarakat Bajo Darawa berada dalam barisan peradaban kedua itu: peradaban yang tidak selalu meninggalkan monumen besar di daratan, tetapi menyimpan naskah panjangnya pada tubuh laut.

Bagi masyarakat pesisir, laut bukan halaman belakang. Laut adalah dapur, jalan raya, pasar, sekolah, ruang doa, dan sekaligus makam ingatan. Di laut, manusia belajar bahwa hidup tidak boleh hanya diukur dari berapa banyak yang dapat diambil hari ini, tetapi dari berapa banyak yang masih dapat diwariskan kepada anak-anak esok hari. Di titik inilah sasi menemukan makna terdalamnya: bukan sekadar larangan menangkap ikan, bukan semata aturan adat, melainkan etika peradaban untuk menahan tangan manusia dari kerakusan.

Dalam banyak tradisi Indonesia Timur, sasi dipahami sebagai mekanisme adat yang menutup sementara pemanfaatan sumber daya tertentu agar alam memiliki kesempatan memperbarui dirinya. Dalam konteks laut, ia memberi waktu bagi ikan, teripang, lola, karang, padang lamun, dan biota pesisir untuk memulihkan siklus hidupnya. Prinsip ini sejalan dengan pengelolaan konservasi modern yang mengenal istilah penutupan kawasan, musim larangan tangkap, zona inti, zona pemanfaatan terbatas, dan pemulihan stok perikanan. Bedanya, sasi lahir bukan dari bahasa teknokrasi, melainkan dari bahasa batin masyarakat yang hidup bersama laut selama berabad-abad. (Blue Ventures - Beyond Conservation blog)

Pada masyarakat Bajo, laut bukan benda mati. Ia memiliki penunggu, tanda, pantangan, ritme, dan kehormatan. Penelitian tentang kearifan Bajo menunjukkan bahwa tradisi pamali atau pantangan menjadi salah satu bentuk pengetahuan lokal dalam menjaga sumber daya laut; ia mengatur perilaku manusia agar tidak merusak karang, tidak mengambil biota sembarangan, dan tidak mengabaikan relasi spiritual dengan penguasa laut. (Semantic Scholar) Maka, ketika masyarakat Bajo Darawa menghidupkan sasi, yang sedang dipulihkan bukan hanya ikan, melainkan juga akhlak ekologis manusia.

Inilah pelajaran besar yang sering dilupakan oleh kebijakan modern: konservasi tidak cukup dibangun dengan peta, garis koordinat, patroli, papan larangan, dan dokumen perencanaan. Semua itu penting, tetapi belum cukup. Konservasi membutuhkan jiwa sosial. Ia memerlukan rasa memiliki, rasa malu, rasa hormat, dan rasa takut untuk melukai rumah sendiri. Tanpa itu, laut hanya akan menjadi objek proyek; setelah proyek selesai, laut kembali dibiarkan sendirian menghadapi jaring, bom, racun, sampah, dan pasar yang lapar.

Sasi mengajarkan bahwa ketahanan pangan laut tidak dapat dipisahkan dari ketahanan moral. Ikan tidak akan terus ada jika manusia kehilangan kemampuan menunda. Terumbu tidak akan pulih jika masyarakat hanya diajari mengambil, bukan merawat. Pangan laut tidak akan berkelanjutan jika laut diperlakukan sebagai gudang tanpa pintu, tempat semua orang masuk dan membawa pulang apa saja.

Di sinilah masyarakat Bajo Darawa dapat menawarkan satu model penting: harmonisasi antara pengetahuan tradisional dan kebijakan konservasi modern. Negara memiliki regulasi, masyarakat memiliki ingatan. Negara memiliki perangkat hukum, adat memiliki perangkat kepatuhan sosial. Negara memiliki data ilmiah, nelayan memiliki pengetahuan musim, arus, bulan, angin, lokasi ikan bertelur, dan tanda-tanda perubahan laut. Bila keduanya dipertemukan, konservasi tidak lagi datang sebagai perintah dari luar, tetapi tumbuh sebagai kesepakatan dari dalam.

Kebijakan modern perlu mendengar bahasa lokal. Sebaliknya, pengetahuan tradisional juga perlu diperkuat dengan pencatatan, pemetaan partisipatif, monitoring ekologi, dokumentasi hukum adat, dan dukungan kelembagaan. Dengan demikian, sasi tidak hanya menjadi romantisme masa lalu, tetapi menjadi instrumen masa depan: bagian dari tata kelola laut berbasis masyarakat, ekonomi biru, pendidikan ekologi, dan ketahanan pangan pesisir.

Ketahanan pangan laut berkelanjutan tidak berarti mengambil ikan sebanyak-banyaknya. Ia berarti memastikan bahwa laut tetap mampu memberi makan tanpa kehilangan kemampuan hidupnya. Ia berarti anak-anak Bajo Darawa masih dapat belajar nama ikan dari ayahnya, membaca arus dari ibunya, mengenal musim dari kakeknya, dan memahami bahwa setiap rezeki dari laut selalu mengandung kewajiban untuk menjaga.

Maka sasi sesungguhnya adalah filsafat menahan diri. Di tengah dunia yang mengajarkan percepatan, ia mengajarkan jeda. Di tengah pasar yang mengajarkan eksploitasi, ia mengajarkan batas. Di tengah kebijakan pembangunan yang sering mengukur laut dengan angka produksi, ia mengingatkan bahwa laut juga memiliki hak untuk sembuh.

Masyarakat Bajo Darawa, melalui sasi, sedang mengirim pesan kepada zaman: bahwa masa depan pangan dunia tidak hanya ditentukan oleh teknologi, kapal besar, industri perikanan, atau pasar ekspor, tetapi juga oleh kesediaan manusia untuk kembali rendah hati di hadapan alam. Sebab laut yang dipaksa terus memberi, pada akhirnya akan diam. Dan ketika laut diam, manusia baru sadar bahwa yang habis bukan hanya ikan, melainkan juga satu peradaban.

Karena itu, menghidupkan sasi bukan sekadar menjaga tradisi. Ia adalah tindakan politik kebudayaan, tindakan ekologis, dan tindakan spiritual sekaligus. Ia adalah cara masyarakat Bajo Darawa mengatakan kepada negara dan dunia: kami tidak menolak modernitas, tetapi modernitas harus belajar sopan kepada laut. Kami tidak menolak kebijakan konservasi, tetapi konservasi harus menghormati pengetahuan yang telah lebih dahulu hidup di tubuh masyarakat.

Pada akhirnya, sasi adalah rumah ingatan. Di dalamnya tersimpan cara manusia memandang laut bukan sebagai milik, tetapi sebagai saudara tua yang memberi makan. Jika rumah ingatan itu roboh, maka yang hilang bukan hanya aturan adat, melainkan juga kompas moral yang menuntun manusia untuk tahu kapan mengambil dan kapan berhenti.

Dan mungkin, di masa depan yang makin panas, ketika iklim berubah, ikan berpindah, pangan menjadi rebutan, dan laut makin letih menanggung kerakusan manusia, dunia justru harus kembali belajar kepada masyarakat-masyarakat kecil seperti Bajo Darawa. Sebab dari kampung-kampung laut seperti inilah peradaban pernah diajari satu kebijaksanaan sederhana: laut tidak boleh hanya dipanen; laut harus diberi waktu untuk bernapas.

Komentar