Sampah Plastik di Masjid Al-Alam Kendari: Ketika Lingkungan Menegur Moral Kita


Oleh: Sumiman Udu
Rumah Ingatan Peradaban


Sampah plastik di sekitar Masjid Al-Alam Kendari bukan sekadar persoalan kebersihan, tetapi tanda melemahnya etika publik dan kesadaran moral dalam menjaga ruang ibadah, laut, dan wajah peradaban kota.



Masjid Al-Alam Kendari bukan sekadar bangunan ibadah yang berdiri di atas laut. Ia adalah simbol keindahan kota, wajah spiritual masyarakat Sulawesi Tenggara, dan ruang pertemuan antara manusia, Tuhan, dan alam. Dari kejauhan, masjid itu tampak agung: kubahnya memantulkan cahaya, tiangnya berdiri kokoh, dan laut di sekitarnya menjadi cermin kebesaran ciptaan Tuhan. Namun, di balik keindahan itu, ada pemandangan kecil yang menyayat hati: sampah plastik yang berserakan.

Sampah plastik di sekitar Masjid Al-Alam bukan hanya masalah kebersihan. Ia adalah tanda bahwa ada sesuatu yang retak dalam kesadaran moral kita. Sebab sampah tidak pernah jatuh begitu saja dari langit. Ia hadir karena tangan manusia. Ia tertinggal karena kelalaian. Ia berserakan karena ada orang yang merasa bahwa setelah ia selesai makan, minum, atau berkunjung, urusan sampah bukan lagi tanggung jawabnya.

Di sinilah kita harus jujur: sampah adalah cermin etika.

Sampah dan Krisis Moral Kecil yang Dianggap Biasa

Banyak orang menganggap membuang sampah sembarangan sebagai kesalahan kecil. Bungkus minuman, botol plastik, kantong makanan, tisu, dan sisa jajanan dianggap remeh. Padahal, peradaban besar tidak selalu runtuh oleh kejahatan besar. Ia bisa perlahan rusak oleh kebiasaan kecil yang dibiarkan: tidak antre, tidak disiplin, tidak menghargai ruang bersama, dan membuang sampah sembarangan.

Sampah plastik di halaman, jalan, selokan, pesisir, dan sekitar rumah ibadah adalah tanda bahwa pengetahuan agama belum selalu berubah menjadi perilaku sosial. Kita mungkin paham bahwa kebersihan adalah bagian dari iman, tetapi belum tentu mampu menjaga kebersihan ketika tidak ada orang yang melihat. Kita mungkin merasa saleh di dalam masjid, tetapi lupa bahwa halaman masjid, laut di sekitar masjid, dan jalan menuju masjid juga bagian dari ruang ibadah sosial kita.

Maka pertanyaannya bukan lagi sekadar: siapa yang membersihkan sampah ini?
Pertanyaannya adalah: mengapa kita tega mengotorinya?

Masjid, Laut, dan Amanah Peradaban

Masjid Al-Alam berdiri di ruang yang sangat simbolik: di atas laut. Laut adalah sumber kehidupan masyarakat pesisir. Dari laut, nelayan mencari rezeki. Dari laut, kota mendapatkan identitas. Dari laut pula, manusia belajar tentang keluasan, kedalaman, dan keseimbangan.

Ketika plastik dibuang sembarangan di sekitar masjid, ia tidak berhenti sebagai sampah di daratan. Angin dan air dapat membawanya ke laut. Di sana, plastik menjadi ancaman bagi ikan, biota laut, ekosistem pesisir, dan akhirnya kembali kepada manusia dalam bentuk krisis pangan, krisis kesehatan, dan krisis keindahan.

Namun lebih dari itu, sampah plastik di sekitar masjid adalah ironi spiritual. Bagaimana mungkin manusia datang ke rumah ibadah untuk menyucikan diri, tetapi meninggalkan jejak yang mengotori bumi? Bagaimana mungkin kita memohon rahmat Tuhan, sementara alam yang menjadi amanah-Nya kita perlakukan sebagai tempat pembuangan?

Etika Sampah: Dari Kesadaran Pribadi ke Budaya Publik

Sampah memiliki etika. Sampah memiliki moral. Artinya, cara kita memperlakukan sampah menunjukkan cara kita memperlakukan orang lain, alam, dan Tuhan.

Orang yang membuang sampah sembarangan sebenarnya sedang memindahkan beban moralnya kepada orang lain. Ia menikmati makanan, tetapi petugas kebersihan yang menanggung akibatnya. Ia menikmati keindahan masjid, tetapi pengunjung lain melihat kotorannya. Ia mengambil manfaat dari ruang publik, tetapi tidak mau ikut menjaganya.

Karena itu, membuang sampah pada tempatnya bukan hanya tindakan bersih. Itu tindakan beradab. Itu tanda bahwa seseorang memiliki rasa malu, rasa tanggung jawab, dan rasa hormat kepada sesama.

Masyarakat yang beradab tidak hanya dilihat dari bangunan megahnya, tetapi dari perilaku kecil warganya. Masjid yang indah harus didukung oleh jamaah dan pengunjung yang juga indah akhlaknya. Kota yang maju tidak cukup memiliki ikon wisata, tetapi harus memiliki warga yang menjaga ikon itu dengan kesadaran.

Dari Teguran Lingkungan ke Gerakan Moral

Masalah sampah plastik di Masjid Al-Alam Kendari harus menjadi teguran bersama. Pemerintah, pengelola masjid, komunitas pemuda, sekolah, kampus, pedagang, pengunjung, dan jamaah perlu menjadikannya sebagai gerakan moral.

Perlu ada tempat sampah yang cukup, papan imbauan yang tegas dan menyentuh, edukasi kepada pedagang dan pengunjung, patroli kebersihan, serta kampanye rutin yang melibatkan anak muda. Tetapi semua itu tidak akan cukup jika kesadaran pribadi tidak tumbuh.

Sebab tempat sampah tidak akan berarti bagi orang yang tidak punya rasa tanggung jawab. Spanduk imbauan tidak akan dibaca oleh orang yang hatinya sudah terbiasa abai. Aturan tidak akan kuat jika moral masyarakat lemah.

Maka pendidikan lingkungan harus dimulai dari pendidikan akhlak. Anak-anak harus diajarkan bahwa membuang sampah sembarangan bukan hanya kotor, tetapi juga tidak bermoral. Remaja harus diajak memahami bahwa menjaga ruang publik adalah bagian dari cinta kota. Orang dewasa harus memberi contoh bahwa kebersihan bukan tugas petugas kebersihan semata, melainkan kewajiban semua orang.

Masjid Al-Alam sebagai Sekolah Peradaban

Masjid Al-Alam Kendari dapat menjadi sekolah peradaban. Ia bukan hanya tempat salat, tetapi tempat belajar tentang kebersihan, tanggung jawab, keindahan, dan kesadaran ekologis. Dari masjid ini, pesan besar dapat dikirimkan kepada masyarakat: bahwa iman tidak berhenti pada doa, tetapi hadir dalam tindakan menjaga bumi.

Setiap botol plastik yang dipungut adalah sedekah moral. Setiap bungkus makanan yang dibuang pada tempatnya adalah tanda iman sosial. Setiap pengunjung yang membawa pulang sampahnya sendiri sedang menunjukkan bahwa ia tidak hanya datang melihat masjid, tetapi menghormati rumah Tuhan dan alam ciptaan-Nya.

Kendari tidak boleh membiarkan Masjid Al-Alam hanya menjadi latar foto yang indah, tetapi kotor oleh kelalaian. Keindahan arsitektur harus bertemu dengan keindahan perilaku. Kemegahan masjid harus disertai kemuliaan akhlak pengunjungnya.

Jangan Tinggalkan Sampah di Rumah Tuhan

Sampah plastik di Masjid Al-Alam Kendari adalah peringatan bahwa krisis lingkungan sering bermula dari krisis moral. Alam tidak pernah meminta banyak kepada manusia. Ia hanya meminta agar tidak dirusak, tidak dikotori, dan tidak diperlakukan sebagai tempat pembuangan.

Jika kita ingin Kendari menjadi kota yang bersih, indah, dan beradab, maka mulailah dari hal sederhana: jangan buang sampah sembarangan. Jika kita ingin Masjid Al-Alam tetap menjadi simbol kebanggaan, maka jagalah ia bukan hanya dengan renovasi bangunan, tetapi dengan revolusi kesadaran.

Sebab sampah bukan hanya urusan lingkungan. Sampah adalah urusan iman, etika, dan peradaban.


Komentar