Ratusan Mahasiswa UHO Mengikuti Kuliah Umum dari Ketua Pusat Bahasa: Bahasa sebagai Jalan Peradaban

Oleh: Sumiman Udu 


Rumah Ingatan:
Ada peristiwa yang tampaknya sederhana di ruang akademik: ratusan mahasiswa Universitas Halu Oleo mengikuti kuliah umum dari Ketua Pusat Bahasa. Mereka hadir, duduk, mendengar, mencatat, dan mungkin sebagian bertanya. Tetapi di balik pertemuan itu, sesungguhnya sedang berlangsung sesuatu yang lebih dalam: sebuah ikhtiar mengembalikan bahasa ke tempatnya yang mulia, bukan hanya sebagai alat komunikasi, melainkan sebagai jalan membangun manusia.

Bahasa adalah rumah pertama peradaban. Sebelum manusia membangun gedung, jalan, teknologi, dan lembaga negara, manusia lebih dahulu membangun makna melalui bahasa. Dengan bahasa, manusia memberi nama kepada dunia. Dengan bahasa, manusia menyimpan ingatan. Dengan bahasa, manusia mewariskan nilai. Dengan bahasa pula, ilmu pengetahuan berjalan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Karena itu, kuliah umum tentang bahasa di perguruan tinggi bukan sekadar kegiatan akademik biasa. Ia adalah panggilan untuk menyadarkan mahasiswa bahwa masa depan mereka tidak hanya ditentukan oleh ijazah, indeks prestasi, dan keterampilan teknis, tetapi juga oleh kemampuan berbahasa, berpikir, menulis, membaca, berdialog, dan menyampaikan gagasan secara bermartabat.

Bahasa dan Martabat Mahasiswa

Mahasiswa adalah generasi yang sedang berdiri di persimpangan zaman. Di satu sisi, mereka hidup dalam dunia digital yang cepat, pendek, instan, dan sering kali dangkal. Di sisi lain, mereka dituntut menjadi manusia akademik yang mampu berpikir panjang, membaca dalam, menulis tertib, dan berbicara dengan tanggung jawab.

Di sinilah bahasa menjadi penentu martabat.

Mahasiswa yang tidak mampu mengelola bahasa akan kesulitan mengelola pikiran. Sebab bahasa bukan hanya bunyi yang keluar dari mulut atau huruf yang tersusun di layar. Bahasa adalah bentuk dari cara manusia berpikir. Kalimat yang kacau sering lahir dari pikiran yang belum tertata. Tulisan yang lemah sering menunjukkan gagasan yang belum matang. Sebaliknya, bahasa yang jernih menunjukkan kejernihan nalar.

Maka kehadiran Ketua Pusat Bahasa dalam kuliah umum itu menjadi penting. Ia tidak hanya berbicara tentang tata bahasa, ejaan, atau keterampilan berbicara, tetapi tentang bagaimana mahasiswa harus membangun disiplin intelektual melalui bahasa. Sebab seorang sarjana tidak cukup hanya mengetahui sesuatu; ia harus mampu menjelaskan sesuatu. Tidak cukup hanya memiliki gagasan; ia harus mampu menyampaikan gagasan itu dengan benar, indah, dan bertanggung jawab.

Pusat Bahasa sebagai Penjaga Gerbang Akademik

Dalam perguruan tinggi, Pusat Bahasa memiliki peran yang sangat strategis. Ia bukan sekadar lembaga pendukung administrasi akademik. Ia adalah penjaga gerbang literasi, komunikasi ilmiah, dan perjumpaan antarbudaya.

Pusat Bahasa membantu mahasiswa memahami bahasa Indonesia akademik, memperkuat kemampuan bahasa asing, membangun keterampilan menulis ilmiah, serta membuka jalan bagi mahasiswa untuk memasuki ruang global. Di tengah dunia yang semakin terhubung, penguasaan bahasa menjadi syarat penting untuk membaca ilmu pengetahuan dunia, mengikuti konferensi internasional, menulis artikel jurnal, dan menjalin kerja sama lintas bangsa.

Tetapi Pusat Bahasa juga tidak boleh hanya dipahami sebagai tempat belajar bahasa asing. Ia harus menjadi ruang pemuliaan bahasa Indonesia dan bahasa daerah. Sebab universitas yang besar bukan hanya yang mampu berbicara kepada dunia, tetapi juga yang tidak kehilangan akar budayanya sendiri.

Universitas Halu Oleo berdiri di tanah Sulawesi Tenggara, wilayah yang kaya dengan bahasa, tradisi lisan, kabanti, cerita rakyat, nyanyian, doa, ungkapan adat, dan kosakata kearifan lokal. Di tanah ini, bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga arsip kebudayaan. Di dalam bahasa Muna, Tolaki, Wolio, Cia-Cia, Culambatu, Wakatobi, Bajo, dan berbagai bahasa lokal lainnya, tersimpan cara masyarakat memahami laut, hutan, tanah, tubuh, pangan, adat, dan Tuhan.

Maka Pusat Bahasa di UHO memiliki mandat peradaban: menghubungkan mahasiswa dengan bahasa dunia, tetapi sekaligus menjaga agar mereka tidak tercerabut dari bahasa ibu dan ingatan lokalnya.

Bahasa di Era Algoritma

Mahasiswa hari ini hidup di tengah banjir kata. Setiap detik mereka membaca status, komentar, caption, berita pendek, potongan video, pesan WhatsApp, dan unggahan media sosial. Kata-kata beredar begitu cepat, tetapi tidak semua kata membawa makna. Banyak kata hanya menjadi bunyi digital yang lewat, ramai sebentar, lalu hilang.

Di era algoritma, bahasa sering dipakai untuk menarik perhatian, bukan membangun pemahaman. Judul dibuat sensasional. Kalimat dibuat provokatif. Komentar ditulis tanpa empati. Hoaks menyamar sebagai informasi. Kebencian dibungkus sebagai keberanian. Kepalsuan dipasarkan sebagai kebenaran.

Karena itu, mahasiswa harus belajar menjadi manusia bahasa yang beradab. Mereka harus mampu membedakan informasi dan manipulasi, opini dan fitnah, kritik dan penghinaan, kebebasan berbicara dan kekerasan verbal.

Kuliah umum dari Ketua Pusat Bahasa menjadi ruang penting untuk mengingatkan mahasiswa bahwa literasi bukan hanya kemampuan membaca huruf, tetapi kemampuan membaca zaman. Bukan hanya mampu menulis kalimat, tetapi mampu menulis masa depan. Bukan hanya mampu berbicara, tetapi mampu menjaga kehormatan dalam berbicara.

Bahasa sebagai Jalan Menuju Dunia

Di masa depan, mahasiswa UHO tidak hanya akan bersaing di tingkat lokal. Mereka akan memasuki dunia kerja, dunia riset, dunia industri, dunia pendidikan, dunia kreatif, bahkan dunia internasional. Dalam semua ruang itu, bahasa menjadi modal utama.

Seorang dokter membutuhkan bahasa untuk menjelaskan kondisi pasien. Seorang guru membutuhkan bahasa untuk membuka pikiran murid. Seorang peneliti membutuhkan bahasa untuk menulis temuan. Seorang pengacara membutuhkan bahasa untuk membela keadilan. Seorang pemimpin membutuhkan bahasa untuk membangun kepercayaan. Seorang wirausahawan membutuhkan bahasa untuk menawarkan nilai. Seorang seniman membutuhkan bahasa untuk memberi jiwa pada karya.

Tanpa bahasa yang kuat, ilmu bisa terkurung. Gagasan bisa gagal dipahami. Keahlian bisa tidak terbaca. Bahkan kebaikan pun bisa disalahmengerti bila disampaikan dengan bahasa yang tidak tepat.

Karena itu, kuliah umum ini harus dibaca sebagai ajakan agar mahasiswa UHO tidak meremehkan bahasa. Bahasa bukan mata kuliah pinggiran. Bahasa adalah fondasi seluruh ilmu. Tidak ada ilmu yang tumbuh tanpa bahasa. Tidak ada peradaban yang berdiri tanpa kata-kata.

Dari Ruang Kuliah Menuju Peradaban

Ratusan mahasiswa yang mengikuti kuliah umum itu mungkin datang dengan berbagai alasan. Ada yang karena kewajiban akademik. Ada yang karena ingin menambah pengetahuan. Ada yang karena tertarik pada bahasa. Ada pula yang mungkin hanya ikut bersama teman.

Tetapi peristiwa akademik sering bekerja secara diam-diam. Satu kalimat yang didengar hari ini bisa menjadi kesadaran di masa depan. Satu gagasan yang dicatat hari ini bisa menjadi arah hidup beberapa tahun kemudian. Satu pertemuan dengan seorang narasumber bisa membuka pintu baru bagi seorang mahasiswa untuk mencintai membaca, menulis, berbicara, dan berpikir lebih dalam.

Di sinilah universitas menjalankan tugas peradabannya. Universitas bukan hanya tempat memberi gelar. Universitas adalah tempat membentuk manusia. Ia harus membangun nalar, karakter, bahasa, etika, dan tanggung jawab sosial.

UHO sebagai rumah ilmu di Sulawesi Tenggara harus terus menjadi ruang yang menghidupkan bahasa. Bahasa Indonesia harus diperkuat sebagai bahasa akademik dan bahasa kebangsaan. Bahasa asing harus diajarkan sebagai jembatan menuju dunia. Bahasa daerah harus dijaga sebagai akar kebudayaan dan memori leluhur.

Penutup: Merawat Kata, Merawat Bangsa

Kuliah umum dari Ketua Pusat Bahasa kepada ratusan mahasiswa UHO adalah pengingat bahwa masa depan tidak hanya dibangun oleh teknologi, modal, dan infrastruktur. Masa depan juga dibangun oleh kata-kata yang benar, kalimat yang jernih, pikiran yang tertib, dan percakapan yang beradab.

Bangsa yang kehilangan bahasanya akan kehilangan ingatannya. Mahasiswa yang lemah bahasanya akan lemah dalam menyatakan pikirannya. Universitas yang mengabaikan bahasa akan kehilangan salah satu fondasi terpenting dari ilmu pengetahuan.

Maka dari ruang kuliah itu, kita berharap lahir generasi baru mahasiswa UHO: generasi yang mampu berbicara dengan santun, menulis dengan tertib, membaca dengan kritis, berpikir dengan jernih, dan menjaga bahasa sebagai jalan menuju peradaban.

Sebab bahasa bukan hanya alat untuk mengatakan sesuatu.

Bahasa adalah cara manusia menjaga dirinya tetap manusia.

Komentar