Nenek Moyangku Seorang Pelaut: Sope dan Ingatan yang Tak Pernah Tenggelam

Olah: La Ode Mansyur, S.Pi, M.Si 


Rumah Ingatan: Di pesisir Waha  Wakatobi, laut bukan sekadar bentang alam. Ia adalah ruang ingatan. Di sanalah jejak pelaut Onowa hidup dalam cerita, dalam nasihat para tetua, dan dalam warisan kapal tradisional bernama sope.

“Nenek moyangku seorang pelaut” bukan sekadar lirik lagu. Ia adalah penegasan identitas. Dalam tradisi pelaut Onowa, laut tidak pernah diposisikan sebagai objek yang harus ditaklukkan, melainkan sebagai ruang hidup yang harus dihormati.

Kapal sope menjadi simbol dari cara pandang itu. Dibangun dari kayu dengan teknik tradisional, ia tidak sekadar alat transportasi, tetapi representasi pengetahuan ekologis. Para pelaut Onowa membaca arah angin, memahami arus, dan menafsirkan tanda-tanda alam tanpa teknologi modern. Mereka berlayar bukan untuk melawan laut, tetapi untuk menyesuaikan diri dengannya.

“Kalau angin berubah, kita harus dengar laut, bukan melawan.” Filosofi ini sederhana, tetapi relevan hingga hari ini, terutama ketika dunia menghadapi krisis lingkungan dan perubahan iklim.

Namun, modernisasi perlahan menggeser praktik-praktik tersebut. Kapal bermesin menggantikan sope, efisiensi menggantikan kesabaran, dan laut mulai dipandang semata sebagai sumber ekonomi. Dalam proses ini, yang hilang bukan hanya perahu tradisional, tetapi juga cara berpikir yang lebih selaras dengan alam.

Di sisi lain, Wakatobi kini didorong sebagai destinasi unggulan ekowisata bahari nasional. Keindahan terumbu karang, kejernihan laut, dan kekayaan biodiversitas menjadi daya tarik utama. Namun, pembangunan pariwisata yang hanya bertumpu pada keunggulan alam berisiko kehilangan makna jika tidak disertai dengan penguatan budaya lokal.

Ekowisata sejatinya tidak hanya menjual lanskap, tetapi juga narasi. Ia tidak hanya menghadirkan keindahan, tetapi juga pemahaman. Dalam konteks ini, warisan pelaut Onowa dan sope memiliki nilai strategis.

Tradisi ini menyimpan pengetahuan ekologis yang dalam kajian akademik dikenal sebagai bagian dari sistem sosial-ekologis—relasi timbal balik antara manusia dan lingkungan. Masyarakat pesisir tidak hanya bergantung pada laut, tetapi juga menjaga keseimbangannya melalui praktik-praktik yang berakar pada pengalaman panjang.

Sayangnya, pendekatan pembangunan sering kali bersifat parsial. Infrastruktur dibangun, destinasi dipromosikan, tetapi masyarakat lokal tidak sepenuhnya dilibatkan sebagai aktor utama. Budaya ditempatkan sebagai pelengkap, bukan sebagai fondasi.

Akibatnya, ekowisata berisiko menjadi sekadar industri, bukan jalan menuju keberlanjutan.

Wakatobi memiliki peluang untuk menempuh jalan berbeda. Revitalisasi sope dan penguatan narasi pelaut Onowa dapat menjadi bagian dari strategi pembangunan yang lebih inklusif. Ini bukan sekadar pelestarian budaya, tetapi juga upaya membangun identitas destinasi yang kuat.

Wisatawan tidak hanya datang untuk melihat laut, tetapi juga untuk memahami cara hidup yang tumbuh darinya. Mereka tidak hanya menikmati pemandangan, tetapi juga belajar tentang nilai-nilai yang membentuk hubungan manusia dengan alam.

Lebih penting lagi, pendekatan ini dapat memperkuat posisi masyarakat lokal sebagai pelaku utama. Ketika budaya menjadi bagian dari sistem ekonomi, keberlanjutan tidak lagi bergantung pada proyek jangka pendek, tetapi tumbuh dari dalam komunitas.

Tentu, ini membutuhkan perubahan cara pandang. Pembangunan tidak selalu harus dimulai dari hal besar. Justru, sering kali kekuatan terbesar terletak pada hal-hal sederhana—pada cerita, pada tradisi, pada warisan yang selama ini dianggap biasa.

Sope mungkin hanya perahu kayu. Pelaut Onowa mungkin hanya bagian dari masa lalu. Tetapi di sanalah tersimpan kebijaksanaan yang hari ini kita butuhkan kembali.

Ketika laut semakin tertekan oleh eksploitasi dan perubahan iklim, kita diingatkan bahwa solusi tidak selalu datang dari teknologi baru. Kadang, jawabannya justru ada pada pengetahuan lama yang kita abaikan.

Menjadi bangsa maritim bukan hanya soal luas wilayah laut, tetapi tentang bagaimana kita memaknainya.

Dan di pesisir Waha dan Waelumu, ingatan itu belum tenggelam. Ia masih hidup menunggu untuk didengar kembali. 

Penulis. La Ode Mansyur, S.Pi.,M.Si. Dosen Ekowisata Bahari, Akademi Komunitas KP Wakatobi.

Komentar