Mercusuar Waha dan Masa Depan Cagar Budaya Maritim Wakatobi


Oleh: La Ode Mansyur, S.Pi., M.Si.


Di pesisir Waha, Wakatobi, ada sebuah menara tua yang masih berdiri menghadap laut. Tubuhnya mungkin telah dimakan usia, tetapi ingatannya belum runtuh. Ia adalah Mercusuar Waha, sebuah penanda laut yang dibangun pada tahun 1901, ketika gelombang Nusantara masih menjadi jalur panjang perdagangan, pelayaran, pertemuan bangsa-bangsa, dan pergulatan sejarah.

Lebih dari satu abad, mercusuar itu menyaksikan kapal datang dan pergi. Ia melihat layar-layar tradisional bergerak mengikuti angin. Ia menyaksikan para pelaut membaca bintang, arus, ombak, dan tanda-tanda alam. Ia berdiri di antara darat dan laut, di antara sejarah dan masa depan, di antara ingatan kolonial dan kebudayaan maritim masyarakat Wakatobi.

Namun hari ini, pertanyaannya menjadi getir: apakah kita masih mampu membaca makna mercusuar itu? Ataukah kita hanya melihatnya sebagai bangunan tua, sebagai latar foto, sebagai benda bisu yang kebetulan berdiri di tepi laut?

Di tengah geliat pembangunan pariwisata Wakatobi sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional, Mercusuar Waha belum sepenuhnya ditempatkan sebagai aset budaya maritim yang strategis. Ia belum benar-benar diperlakukan sebagai ruang pengetahuan, ruang pendidikan, ruang identitas, dan ruang peradaban. Padahal, di dalam tubuh menara itu tersimpan cerita panjang tentang bagaimana laut membentuk manusia Wakatobi, dan bagaimana manusia Wakatobi belajar hidup bersama laut.

Mercusuar bukan sekadar menara penunjuk arah. Dalam sejarah peradaban pesisir, mercusuar adalah simbol keselamatan, penanda wilayah, sekaligus tanda bahwa manusia pernah membangun hubungan yang sangat serius dengan laut. Ia adalah teknologi, tetapi juga kebudayaan. Ia adalah bangunan, tetapi juga ingatan. Ia adalah penanda navigasi, tetapi juga penanda bahwa laut bukan ruang kosong.

Laut adalah halaman depan peradaban Wakatobi.

Selama ini, citra pariwisata Wakatobi lebih banyak bertumpu pada keindahan bawah laut: terumbu karang, ikan warna-warni, penyelaman, dan panorama tropis. Semua itu tentu merupakan anugerah besar. Tetapi Wakatobi tidak boleh dipahami hanya sebagai akuarium raksasa untuk dikunjungi wisatawan. Wakatobi adalah ruang hidup. Di sana ada sejarah, adat, pengetahuan lokal, jalur pelayaran, kampung pesisir, cerita para nelayan, dan jejak panjang manusia yang menafsirkan laut sebagai ibu kehidupan.

Mercusuar Waha dapat menjadi pintu masuk untuk membaca kembali Wakatobi secara lebih utuh. Ia dapat dikembangkan sebagai pusat ekowisata edukatif yang menghubungkan alam, sejarah, budaya, dan ekologi. Wisatawan yang datang ke Waha tidak hanya melihat matahari terbenam, tidak hanya mengambil gambar, tidak hanya menikmati pemandangan. Mereka dapat diajak memahami sejarah pelayaran, teknologi navigasi, budaya pesisir, perubahan ekologi laut, dan nilai-nilai kearifan lokal masyarakat Waha dan Waelumu.

Inilah yang sering hilang dalam pembangunan pariwisata kita: kedalaman makna.

Banyak daerah pesisir berlomba membangun jalan, dermaga, resort, taman, beton, dan spot foto. Tetapi sering kali lupa membangun narasi. Akibatnya, tempat wisata menjadi indah secara visual, tetapi miskin secara kultural. Laut dijual sebagai panorama, tetapi sejarah maritimnya dibiarkan sunyi. Pantai dipoles sebagai komoditas, tetapi memori masyarakat pesisirnya perlahan terhapus.

Jika cara pandang seperti ini terus berlanjut, Wakatobi dapat kehilangan kekuatan terbesarnya: harmoni antara alam dan budaya.

Padahal, masa depan pariwisata Wakatobi tidak cukup dibangun hanya dengan promosi dan infrastruktur. Ia membutuhkan identitas. Ia membutuhkan cerita yang kuat. Ia membutuhkan akar yang membuat wisatawan tidak sekadar datang, tetapi belajar; tidak sekadar menikmati, tetapi menghormati; tidak sekadar mengonsumsi keindahan, tetapi memahami peradaban yang melahirkannya.

Dalam konteks itulah, Mercusuar Waha perlu ditempatkan sebagai cagar budaya maritim. Penguatan status, perlindungan kawasan, dan revitalisasi fungsinya menjadi sangat penting. Bukan untuk membekukan mercusuar itu sebagai benda mati, tetapi untuk menghidupkannya kembali sebagai ruang pendidikan publik.

Pemerintah daerah, akademisi, komunitas lokal, pelaku wisata, dan masyarakat adat perlu bergerak bersama. Kawasan Mercusuar Waha dapat dikembangkan melalui papan interpretasi sejarah, museum mini maritim, jalur wisata edukatif, arsip foto dan cerita pelayaran, ruang belajar navigasi tradisional, serta narasi ekologis tentang hubungan masyarakat Wakatobi dengan laut.

Anak-anak sekolah dapat belajar di sana bahwa laut bukan hanya tempat mencari ikan, tetapi juga ruang ilmu pengetahuan. Wisatawan dapat memahami bahwa mercusuar bukan sekadar bangunan kolonial, melainkan saksi sejarah jalur laut Nusantara. Masyarakat lokal dapat menemukan kembali kebanggaan terhadap warisan maritimnya sendiri.

Lebih jauh, cagar budaya maritim juga dapat menjadi pintu untuk membangun kesadaran ekologis. Di tengah perubahan iklim, abrasi, tekanan pembangunan pesisir, dan krisis ekologi laut, warisan maritim mengingatkan kita bahwa laut tidak boleh diperlakukan semata-mata sebagai objek ekonomi. Laut adalah ruang hidup. Laut adalah ingatan. Laut adalah masa depan.

Betonisasi pesisir, pembangunan yang abai terhadap budaya, dan eksploitasi ruang pantai tanpa sensitivitas ekologis hanya akan melukai peradaban pesisir. Kita mungkin membangun hotel, jalan, dan fasilitas wisata, tetapi pada saat yang sama kehilangan jiwa tempat itu sendiri.

Wakatobi tidak boleh menjadi destinasi yang kehilangan ruhnya.

Mercusuar Waha mengajarkan bahwa arah tidak selalu ditunjukkan oleh peta modern. Kadang-kadang arah masa depan justru ditunjukkan oleh bangunan tua yang berdiri diam di tepi laut. Ia tidak berteriak. Ia tidak meminta perhatian. Tetapi ia terus mengingatkan bahwa bangsa maritim yang besar adalah bangsa yang mampu merawat ingatannya.

Karena itu, Mercusuar Waha bukan hanya peninggalan masa lalu. Ia adalah pesan untuk masa depan. Ia berdiri sebagai tanda bahwa Wakatobi pernah, sedang, dan harus terus menjadi peradaban laut.

Pada akhirnya, pertanyaan terbesar bukan apakah mercusuar itu masih berdiri. Ia masih berdiri. Bukan pula apakah ia masih menyimpan sejarah. Ia menyimpan begitu banyak sejarah.

Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah kita masih memiliki kesadaran untuk membaca cahaya yang dipancarkannya?

Mercusuar tua itu masih menyala di pesisir Waha.

Dan dari sana, ia seolah berbisik kepada Wakatobi:
jangan kehilangan arah, jangan kehilangan laut, jangan kehilangan ingatan.

Komentar