Ketika Negara Ikut Berkurban: Membaca Makna Peradaban di Balik Sapi Kurban Presiden


Oleh: Sumiman Udu
Rumah Ingatan Peradaban


Setiap tahun, menjelang Iduladha, perhatian masyarakat selalu tertuju pada sapi-sapi kurban yang disalurkan oleh Presiden ke berbagai daerah di Indonesia. Tidak sedikit yang memberikan apresiasi. Tidak sedikit pula yang mempertanyakan mengapa negara harus mengalokasikan anggaran untuk pengadaan sapi kurban.

Perdebatan itu wajar dalam negara demokrasi.

Namun di balik angka-angka anggaran dan perdebatan administratif, terdapat sebuah dimensi yang sering luput dibaca: dimensi simbolik dan peradaban.

Bangsa tidak hanya dibangun oleh kebijakan yang menghasilkan angka pertumbuhan ekonomi. Bangsa juga dibangun oleh simbol-simbol yang memperkuat ikatan sosial, mempertebal rasa kebersamaan, dan menghadirkan negara di tengah kehidupan rakyat.

Dalam perspektif itulah, kurban Presiden dapat dibaca.

Seekor sapi mungkin terlihat sederhana. Namun ketika sapi itu hadir di sebuah desa terpencil, di sebuah pulau kecil, atau di sebuah wilayah yang jarang tersentuh perhatian nasional, ia membawa pesan yang lebih besar daripada nilai ekonominya.

Pesan bahwa negara hadir.

Pesan bahwa rakyat di daerah juga diperhatikan.

Pesan bahwa kebahagiaan hari raya adalah milik seluruh bangsa, bukan hanya milik mereka yang hidup di pusat-pusat ekonomi.

Dalam ilmu antropologi, simbol sering kali lebih kuat daripada benda itu sendiri.

Bendera bukan sekadar kain.

Lagu kebangsaan bukan sekadar rangkaian nada.

Dan sapi kurban yang dikirimkan seorang Presiden bukan sekadar hewan ternak.

Ia adalah simbol hubungan antara negara dan rakyatnya.

Hari Tasyrik mengajarkan bahwa nikmat tidak berhenti pada rasa syukur pribadi. Nikmat harus bergerak menjadi kebahagiaan sosial. Kurban adalah bentuk distribusi kebahagiaan yang paling nyata.

Mereka yang selama setahun mungkin tidak pernah menikmati daging dalam jumlah cukup, pada hari-hari kurban dapat merasakan kegembiraan yang sama dengan masyarakat lainnya.

Dalam konteks ini, kurban Presiden dapat dipahami sebagai upaya memperluas lingkaran kebahagiaan itu.

Tentu saja nilai ekonominya mungkin tidak akan menyelesaikan seluruh persoalan kemiskinan. Seekor sapi tidak akan menghapus ketimpangan sosial. Namun tidak semua kebijakan publik harus diukur hanya dari dampak ekonominya.

Ada kebijakan yang bekerja pada wilayah psikologis.

Ada yang bekerja pada wilayah sosial.

Ada pula yang bekerja pada wilayah kebudayaan.

Kurban Presiden berada pada persimpangan ketiganya.

Ia memperkuat solidaritas sosial.

Ia membangun rasa kedekatan antara negara dan masyarakat.

Dan ia menjaga tradisi berbagi yang menjadi salah satu fondasi kebudayaan Indonesia.

Lebih jauh lagi, program ini memiliki dampak ekonomi yang sering tidak terlihat.

Sapi-sapi kurban Presiden dibeli dari peternak lokal di berbagai daerah. Artinya, anggaran yang digunakan tidak berhenti pada pembelian hewan semata, tetapi ikut menggerakkan ekonomi peternakan rakyat.

Di balik seekor sapi terdapat peternak yang merawatnya bertahun-tahun.

Terdapat pedagang pakan.

Terdapat tenaga kerja.

Terdapat rantai ekonomi desa yang ikut bergerak.

Karena itu, kurban bukan hanya peristiwa keagamaan, tetapi juga peristiwa ekonomi kerakyatan.

Hari Tasyrik sesungguhnya mengajarkan filosofi penting dalam pembangunan bangsa: bahwa keberhasilan harus dibagikan.

Negara yang memperoleh penerimaan dari pajak, sumber daya alam, dan aktivitas ekonomi nasional pada akhirnya harus mengembalikan manfaat itu kepada rakyat dalam berbagai bentuk.

Sebagian hadir dalam bentuk jalan dan jembatan.

Sebagian hadir dalam bentuk sekolah dan rumah sakit.

Sebagian hadir dalam bentuk bantuan sosial.

Dan sebagian hadir dalam bentuk simbol-simbol kebersamaan yang mengingatkan bahwa bangsa ini dibangun di atas semangat gotong royong.

Mungkin karena itu, masyarakat di berbagai daerah selalu menanti kedatangan sapi kurban Presiden. Bukan semata-mata karena ukuran tubuh hewannya yang besar, tetapi karena ada perasaan bahwa negara ikut merayakan hari raya bersama mereka.

Dalam dunia yang semakin individualistis, pesan seperti ini menjadi semakin penting.

Sebab sebuah bangsa tidak hanya membutuhkan pembangunan fisik.

Bangsa juga membutuhkan pembangunan rasa.

Rasa memiliki.

Rasa diperhatikan.

Rasa menjadi bagian dari Indonesia.

Pada akhirnya, perdebatan mengenai anggaran mungkin akan terus berlangsung. Itu adalah bagian dari mekanisme demokrasi yang sehat. Namun di luar perdebatan tersebut, Hari Tasyrik mengajak kita melihat persoalan dari sudut yang lebih luas.

Bahwa berbagi adalah bahasa universal yang dipahami semua orang.

Bahwa kepemimpinan bukan hanya soal mengelola kekuasaan, tetapi juga menghadirkan kepedulian.

Dan bahwa seekor sapi kurban terkadang membawa pesan yang jauh lebih besar daripada tubuhnya sendiri: pesan tentang negara yang ingin hadir, berbagi, dan ikut bersyukur bersama rakyatnya.

Karena pada akhirnya, peradaban yang kuat bukanlah peradaban yang hanya pandai mengumpulkan kekayaan, melainkan peradaban yang mampu mengubah kekayaan itu menjadi kebahagiaan bersama.

Komentar