Ketika Ego Lebih Tinggi dari Sujud


Catatan Rumah Ingatan Peradaban tentang rendah hati, gaya hidup, dan tipu daya dunia

Oleh: Sumiman Udu 


Ada kalimat yang sederhana, tetapi menusuk jauh ke dalam kesadaran manusia: “Kalau ego lebih tinggi daripada sujud, dunia sudah menipu kamu.” Kalimat ini bukan sekadar nasihat agama, bukan pula sekadar kutipan motivasi. Ia adalah cermin. Ia memaksa kita bertanya: sudah sejauh mana manusia hari ini ditipu oleh gaya, jabatan, harta, gelar, panggung, dan tepuk tangan?

Sebab ada manusia yang rajin berdiri di depan banyak orang, tetapi lupa merendah di hadapan Tuhan. Ada yang sibuk meninggikan nama, tetapi pelan-pelan kehilangan makna. Ada yang merasa besar karena kendaraan, rumah, pakaian, jabatan, atau pengikut di media sosial, padahal semua itu hanyalah bayangan yang bisa hilang sebelum matahari tenggelam.

Dunia memang pandai menipu. Ia tidak selalu menipu dengan kemiskinan, kadang ia menipu dengan kemewahan. Ia tidak selalu menjatuhkan manusia dengan penderitaan, kadang ia menjatuhkan manusia dengan pujian. Ia tidak selalu membuat manusia lupa melalui kekurangan, kadang justru melalui keberlimpahan.

Manusia sering menyangka bahwa derajatnya ditentukan oleh apa yang tampak di luar dirinya. Maka ia mengejar gaya, memoles wajah, memperbesar nama, membangun citra, dan menata panggung agar terlihat tinggi. Tetapi dalam ruang batin yang sunyi, Tuhan tidak menilai manusia dari seberapa tinggi kursinya, melainkan seberapa rendah hatinya.

Sujud adalah simbol tertinggi dari kerendahan manusia. Dalam sujud, kepala yang sering merasa paling tinggi diletakkan sejajar dengan tanah. Dahi yang sering dipakai untuk menatap orang lain dari atas, akhirnya tunduk. Tubuh yang sering membanggakan kekuatan, menyerah. Di situlah manusia diingatkan bahwa sehebat apa pun dirinya, ia tetap berasal dari tanah dan akan kembali kepada tanah.

Tetapi ego bekerja sebaliknya. Ego selalu ingin naik. Ia ingin dipuji, ingin diakui, ingin menang, ingin terlihat lebih hebat daripada orang lain. Ego membuat manusia sulit meminta maaf, sulit menerima nasihat, sulit mengakui kesalahan, dan sulit melihat kebaikan orang lain. Ego menjadikan manusia merasa dirinya pusat dunia, padahal hidup ini hanya titipan sebentar.

Di sinilah peradaban diuji. Peradaban tidak runtuh hanya karena jembatan roboh, ekonomi melemah, atau teknologi tertinggal. Peradaban juga runtuh ketika manusia kehilangan rendah hati. Ketika orang kaya meremehkan yang miskin. Ketika pejabat menjauh dari rakyat. Ketika orang berilmu menghina yang belum belajar. Ketika orang saleh merasa paling suci. Ketika sujud hanya menjadi gerakan tubuh, tetapi tidak menjadi akhlak dalam kehidupan.

Sujud yang benar seharusnya melahirkan kesantunan sosial. Orang yang benar-benar sujud tidak mudah menyakiti. Tidak mudah merendahkan. Tidak mudah merasa paling benar. Ia tahu bahwa setiap manusia membawa luka, beban, dan perjalanan masing-masing. Ia tidak memandang orang lain dari bajunya, rumahnya, pekerjaannya, atau status sosialnya. Ia melihat manusia sebagai sesama hamba yang sama-sama sedang berjalan pulang.

Maka, rendah hati bukan kelemahan. Rendah hati adalah kekuatan batin. Orang rendah hati tidak kehilangan martabat ketika meminta maaf. Ia tidak menjadi kecil ketika menghargai orang lain. Ia tidak menjadi hina ketika hidup sederhana. Justru di situlah keagungan manusia tampak: ketika ia mampu besar tanpa membesarkan diri.

Di zaman ini, manusia mudah sekali tergoda untuk terlihat hebat. Media sosial mengajarkan manusia menampilkan yang indah, menyembunyikan yang rapuh, memamerkan pencapaian, dan kadang membandingkan hidupnya dengan orang lain. Akhirnya banyak orang kelelahan bukan karena kurang rezeki, tetapi karena terlalu sibuk mempertahankan citra. Banyak orang gelisah bukan karena hidupnya buruk, tetapi karena selalu ingin terlihat lebih baik daripada orang lain.

Padahal hidup ini tidak lama. Gelar akan ditinggalkan. Jabatan akan selesai. Kecantikan akan berubah. Kekayaan bisa berpindah. Popularitas bisa padam. Yang tersisa hanyalah jejak kebaikan, doa orang-orang yang pernah kita tolong, dan catatan amal yang kita bawa ketika pulang.

Karena itu, sebelum ego terlalu tinggi, belajarlah kembali kepada sujud. Sebelum merasa paling penting, ingatlah bahwa napas pun bukan milik kita. Sebelum merendahkan orang lain, ingatlah bahwa bisa jadi orang yang kita pandang kecil justru lebih mulia di sisi Tuhan. Sebelum mengejar gaya hidup yang melelahkan, tanyakan kepada hati: apakah semua ini membuatku lebih dekat kepada kebaikan, atau hanya membuatku semakin jauh dari diri sendiri?

Rumah Ingatan Peradaban mencatat bahwa bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang mampu membangun gedung tinggi, jalan panjang, dan ekonomi kuat. Bangsa yang besar adalah bangsa yang manusia-manusianya masih tahu cara merendahkan hati. Masih tahu malu ketika salah. Masih tahu berterima kasih ketika ditolong. Masih tahu menghormati orang tua, guru, tetangga, fakir miskin, dan siapa pun yang hadir dalam hidupnya.

Sebab peradaban yang kehilangan sujud akan melahirkan manusia-manusia keras kepala. Tetapi peradaban yang menjaga sujud akan melahirkan manusia-manusia yang lembut hatinya, kuat moralnya, dan jernih pikirannya.

Pada akhirnya, manusia tidak diminta menjadi paling tinggi di mata dunia. Manusia diminta menjadi tulus di hadapan Tuhan dan bermanfaat bagi sesama. Sebab derajat manusia bukan pada gaya, bukan pada pangkat, bukan pada harta, bukan pada riuh tepuk tangan, melainkan pada rendah hati dan kesadaran bahwa hidup ini hanya sebentar.

Kalau ego mulai lebih tinggi daripada sujud, berhentilah sejenak. Dunia mungkin sedang menipu kita.

Komentar