Karang Pasia Roka: Masa Depan Energi Indonesia dari Rahim Peradaban Buton
Oleh: Sumiman Udu
Rumah Ingatan Peradaban
Di timur Indonesia, di antara laut biru Wangi-Wangi, gugusan karang, dan ingatan panjang Kesultanan Buton, ada sebuah nama yang seharusnya tidak lagi hanya disebut dalam percakapan orang tua adat, nelayan, atau pemerhati kampung: Karang Pasia Roka.
Nama itu bukan sekadar titik geografi. Ia adalah tanda. Ia adalah rahasia bumi yang lama tidur di bawah tubuh kepulauan. Ia adalah kemungkinan besar bagi masa depan energi Indonesia.
Menurut informasi yang berkembang dari hasil survei perusahaan Jepang Mitsubishi Heavy Industries bekerja sama dengan PT Pertamina pada tahun 1969, sebagaimana dikaitkan dengan keterangan Syamsuddin Nane dari bagian eksplorasi PT Pertamina, wilayah Karang Pasia Roka di Sya’ra Liya, eks wilayah Kesultanan Buton, Kepulauan Wangi-Wangi, Kabupaten Wakatobi, disebut memiliki potensi geothermal atau panas bumi sekitar 668 juta metric ton dan diklaim mampu menyuplai kebutuhan listrik seluruh Sulawesi selama kurang lebih 150 tahun. Data historis ini perlu dibuka kembali, diverifikasi secara ilmiah, dan ditempatkan dalam agenda kebijakan energi nasional, sebab bila benar, maka Pasia Roka bukan hanya milik Liya, bukan hanya milik Wakatobi, tetapi bagian dari masa depan kedaulatan energi Indonesia.
Indonesia hari ini sedang mencari jalan keluar dari ketergantungan panjang pada energi fosil. Pemerintah melalui Kementerian ESDM menyebut Indonesia memiliki potensi panas bumi yang sangat besar, sekitar 23,6–23,7 GW, tetapi kapasitas terpasang baru sekitar 2,6–2,7 GW, atau kira-kira masih sebagian kecil dari total potensi nasional. Panas bumi juga disebut sebagai salah satu energi terbarukan yang andal karena dapat menjadi pembangkit base load, tidak seperti energi surya atau angin yang sangat tergantung cuaca.
Di sinilah Karang Pasia Roka harus dibaca kembali.
Bukan hanya sebagai batu karang.
Bukan hanya sebagai ruang laut.
Bukan hanya sebagai cerita lama yang tersimpan di arsip Pertamina.
Ia harus dibaca sebagai simpul energi, sejarah, adat, dan kedaulatan masa depan.
Dari Tanah Kesultanan ke Peta Energi Nasional
Sya’ra Liya bukan ruang kosong. Ia memiliki sejarah. Ia berada dalam lanskap kebudayaan Buton yang pernah mengenal tata pemerintahan, hukum adat, etika laut, serta hubungan sakral antara manusia dan alam. Karena itu, ketika kita berbicara tentang potensi geothermal Karang Pasia Roka, kita tidak boleh membicarakannya semata-mata sebagai urusan teknis pertambangan atau kelistrikan.
Di sana ada tanah sejarah.
Di sana ada laut adat.
Di sana ada memori Kesultanan Buton.
Di sana ada masyarakat Liya yang turun-temurun menjaga wilayahnya dengan pengetahuan lokal.
Inilah yang sering dilupakan dalam pembangunan Indonesia modern: sumber daya alam dilihat sebagai angka, tetapi masyarakat pemilik sejarahnya sering dipinggirkan sebagai catatan kaki. Padahal, energi yang besar tidak boleh lahir dari luka sosial. Listrik yang menerangi kota-kota tidak boleh berasal dari gelapnya ketidakadilan di kampung asal energi itu.
Jika Karang Pasia Roka benar menyimpan potensi sebesar yang disebut dalam data survei 1969, maka pertanyaan besarnya bukan hanya: berapa megawatt yang bisa dihasilkan?
Pertanyaan yang lebih mendasar adalah:
siapa yang akan dilibatkan?
siapa yang akan menikmati manfaatnya?
bagaimana adat Liya dihormati?
bagaimana Wakatobi tidak hanya menjadi penonton?
bagaimana Buton tidak kembali kehilangan masa depannya seperti banyak daerah kaya sumber daya lainnya?
Geothermal dan Jalan Baru Kedaulatan Energi
Panas bumi adalah energi yang lahir dari kedalaman bumi. Ia bukan sekadar bahan bakar; ia adalah napas planet. Tidak seperti batubara yang harus dibakar dan meninggalkan luka karbon, geothermal bekerja dengan memanfaatkan panas alami bumi. Inilah sebabnya panas bumi dipandang penting dalam agenda transisi energi dan dekarbonisasi Indonesia. Kementerian ESDM mencatat kontribusi panas bumi terhadap listrik nasional masih sekitar 5 persen, tetapi perannya sangat penting dalam bauran energi baru terbarukan.
Namun, energi masa depan tidak cukup hanya disebut “hijau”. Ia harus juga adil.
Energi hijau yang menggusur masyarakat adat bukanlah energi peradaban.
Energi hijau yang mengabaikan ruang hidup nelayan bukanlah energi masa depan.
Energi hijau yang mengambil manfaat dari kampung tetapi membawa keuntungannya ke luar daerah hanyalah wajah baru dari kolonialisme sumber daya.
Karang Pasia Roka harus menghindari jebakan itu.
Jika Pasia Roka ingin dijadikan proyek energi besar, maka ia harus dibangun dengan prinsip: adat dihormati, masyarakat dilibatkan, lingkungan dijaga, dan manfaat ekonomi dikembalikan kepada daerah asalnya.
Wakatobi Tidak Boleh Hanya Menjadi Peta Wisata
Selama ini Wakatobi lebih sering dipromosikan sebagai surga bawah laut, destinasi wisata, dan kawasan konservasi. Itu tidak salah. Tetapi Wakatobi tidak boleh diperkecil hanya sebagai tempat orang datang menyelam, mengambil gambar, lalu pergi.
Wakatobi juga memiliki pengetahuan.
Wakatobi memiliki sejarah.
Wakatobi memiliki energi.
Wakatobi memiliki hak untuk ikut menentukan masa depan Indonesia.
Karang Pasia Roka membuka satu kesadaran baru bahwa Wakatobi bukan hanya halaman depan pariwisata, tetapi juga mungkin menjadi salah satu simpul strategis energi nasional. Bila potensi geothermal itu terbukti secara ilmiah, maka Wakatobi harus masuk dalam percakapan besar tentang kedaulatan listrik Indonesia Timur.
Sulawesi membutuhkan energi untuk industri, pendidikan, rumah sakit, pelabuhan, teknologi, dan kehidupan rakyat. Jika benar Pasia Roka dapat menopang kebutuhan listrik Sulawesi dalam jangka panjang, maka negara harus turun bukan sebagai penguasa yang mengambil, tetapi sebagai pelayan yang menata.
Buka Kembali Arsip 1969
Yang paling mendesak hari ini adalah membuka kembali arsip survei 1969. Negara, Pertamina, Kementerian ESDM, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara, Pemerintah Kabupaten Wakatobi, perguruan tinggi, dan lembaga adat Liya perlu duduk bersama.
Ada beberapa langkah penting yang perlu dilakukan.
Pertama, verifikasi dokumen historis. Data Mitsubishi Heavy Industries dan Pertamina tahun 1969 harus dicari, dibuka, dibaca ulang, dan diperiksa status ilmiahnya.
Kedua, survei geologi dan geofisika terbaru. Teknologi 1969 tentu berbeda dengan teknologi hari ini. Maka perlu pemetaan ulang dengan standar modern, termasuk survei magnetotelluric, geokimia, geologi struktur, dan studi reservoir.
Ketiga, kajian sosial-budaya dan adat. Karena Pasia Roka berada dalam ruang sejarah Sya’ra Liya, masyarakat adat tidak boleh ditempatkan di ujung proses. Mereka harus menjadi bagian sejak awal.
Keempat, kajian lingkungan laut dan pulau kecil. Wakatobi adalah kawasan ekologis penting. Setiap proyek energi harus mempertimbangkan daya dukung pulau kecil, risiko terhadap ekosistem, air tanah, pesisir, dan ruang hidup nelayan.
Kelima, skema manfaat daerah. Bila kelak dikembangkan, harus ada desain manfaat langsung: listrik murah untuk masyarakat Wakatobi, dana abadi pendidikan anak-anak Liya/Wakatobi, pusat riset geothermal kepulauan, lapangan kerja lokal, dan penguatan ekonomi masyarakat.
Jangan Biarkan Pasia Roka Menjadi Cerita yang Hilang
Banyak daerah di Indonesia memiliki sumber daya besar, tetapi rakyatnya tetap miskin. Banyak tanah kaya, tetapi pemilik sejarahnya hanya menjadi penonton. Banyak proyek nasional berdiri megah, tetapi kampung asal sumber dayanya tetap gelap, rusak, dan tertinggal.
Karang Pasia Roka tidak boleh mengalami nasib seperti itu.
Pasia Roka harus menjadi contoh baru: bahwa pembangunan energi dapat berjalan bersama adat, ilmu pengetahuan, konservasi, dan keadilan sosial.
Jika negara sungguh-sungguh berbicara tentang transisi energi, maka jangan hanya melihat Jawa. Jangan hanya melihat pusat industri besar. Lihatlah pulau-pulau kecil. Lihatlah Wangi-Wangi. Lihatlah Liya. Lihatlah karang yang diam tetapi menyimpan api bumi.
Sebab sering kali masa depan tidak berteriak dari gedung tinggi.
Ia berbisik dari kampung tua.
Ia menyala dari karang sunyi.
Ia menunggu ditemukan kembali oleh anak-anak peradaban yang tidak lupa jalan pulang.
Karang Pasia Roka sebagai Gerakan Peradaban
Karang Pasia Roka harus diangkat menjadi gerakan pengetahuan. Pemerintah daerah, akademisi, tokoh adat, pemuda, dan masyarakat Wakatobi perlu mendorong lahirnya Forum Kajian Energi Geothermal Pasia Roka.
Forum ini dapat bekerja untuk mengumpulkan arsip, mewawancarai saksi sejarah, mencari dokumen Pertamina, menjalin komunikasi dengan Kementerian ESDM, dan menyusun naskah akademik agar Pasia Roka masuk dalam radar kebijakan energi nasional.
Universitas Halu Oleo, kampus-kampus teknik, lembaga riset geologi, dan ahli energi terbarukan perlu dilibatkan. Ini bukan hanya pekerjaan aktivis budaya. Ini pekerjaan peradaban: mempertemukan ingatan lokal dengan ilmu pengetahuan modern.
Karang Pasia Roka adalah ujian bagi Indonesia.
Apakah negara mampu melihat kekayaan dari pinggiran?
Apakah negara mampu menghormati sejarah Buton?
Apakah negara mampu menjadikan Wakatobi bukan hanya objek wisata, tetapi subjek masa depan energi?
Apakah pembangunan dapat berjalan tanpa merampas martabat masyarakat adat?
Jika jawabannya ya, maka Pasia Roka dapat menjadi bab baru dalam sejarah Indonesia Timur.
Penutup: Dari Karang, Api Bumi, dan Masa Depan Bangsa
Karang Pasia Roka adalah metafora besar bagi Indonesia. Di permukaan ia tampak sebagai karang. Tetapi di kedalamannya mungkin tersimpan energi raksasa. Begitu pula Buton dan Wakatobi. Di mata pusat, mungkin ia tampak sebagai daerah jauh. Tetapi dalam sejarah, ia adalah bangsa tua, peradaban maritim, penjaga laut, dan mungkin penjaga salah satu kunci energi masa depan.
Maka hari ini, kita tidak sedang sekadar berbicara tentang geothermal. Kita sedang berbicara tentang hak sebuah wilayah untuk dibaca kembali dengan hormat. Kita sedang berbicara tentang masa depan energi yang tidak boleh tercerabut dari akar sejarah.
Karang Pasia Roka harus dibuka kembali.
Bukan untuk dijarah.
Bukan untuk dijual murah.
Bukan untuk membuat rakyat lokal hanya menjadi penonton.
Tetapi untuk membangun masa depan energi Indonesia yang berkeadilan, berbasis ilmu pengetahuan, menghormati adat, dan menjaga martabat peradaban Buton.
Sebab dari rahim bumi Liya, mungkin Indonesia sedang dipanggil untuk belajar:
bahwa energi terbesar bukan hanya panas yang tersimpan di bawah tanah,
melainkan keberanian sebuah bangsa untuk tidak melupakan sumber kehidupannya sendiri.






Komentar
Posting Komentar