Anak Muda dan Pangan: Jalan Sunyi Menuju Kekuatan Bangsa

Oleh: Sumiman Udu 


Ada satu kebenaran tua yang sering dilupakan oleh bangsa modern: peradaban tidak lahir pertama-tama dari gedung tinggi, jalan tol, atau mesin industri, tetapi dari tanah yang mampu memberi makan manusia. Sebelum sebuah bangsa berbicara tentang teknologi, militer, diplomasi, dan kekuasaan global, ia harus terlebih dahulu menjawab pertanyaan paling dasar dalam sejarah manusia: siapa yang menanam makanan untuk rakyatnya?

Di situlah pangan menjadi inti kekuatan bangsa.

Bangsa yang tidak mampu mengurus pangannya sendiri akan selalu berada dalam posisi rapuh. Ia bisa memiliki banyak uang, tetapi ketika rantai pasok dunia terganggu, ketika perang membuat harga gandum naik, ketika perubahan iklim merusak panen, ketika pupuk menjadi mahal, maka uang tidak selalu mampu membeli keselamatan. Sebab dalam krisis besar, setiap bangsa akan lebih dahulu menyelamatkan dapurnya sendiri.

Maka pangan bukan sekadar urusan pertanian. Pangan adalah urusan kedaulatan. Pangan adalah urusan harga diri. Pangan adalah urusan masa depan negara.

Indonesia sesungguhnya diberkahi oleh Tuhan dengan kekayaan yang luar biasa. Tanahnya luas, lautnya membentang, hujannya cukup, mataharinya panjang, hutannya kaya, sungainya mengalir, dan manusianya banyak. Tetapi kekayaan itu belum sepenuhnya menjadi kekuatan. Masih banyak tanah tidur. Masih banyak lahan negara yang belum produktif. Masih banyak anak muda yang menganggur, sementara negeri ini masih terus berbicara tentang impor pangan.

Inilah ironi besar sebuah bangsa agraris: tanah ada, tenaga muda ada, kebutuhan pangan ada, tetapi kebijakan belum sepenuhnya mempertemukan ketiganya.

Anak muda terlalu lama dididik untuk mencari pekerjaan, bukan menciptakan sumber kehidupan. Mereka diarahkan menuju kota, kantor, pabrik, dan dunia jasa. Sementara desa, kebun, sawah, ladang, tambak, dan laut sering dianggap sebagai masa lalu yang harus ditinggalkan. Menjadi petani masih dipandang sebagai keterpaksaan, bukan sebagai profesi strategis. Mengolah tanah masih dianggap pekerjaan orang tua, bukan jalan masa depan generasi muda.

Padahal, di abad krisis ini, justru anak muda yang menguasai pangan akan menjadi pemilik masa depan.

Negara harus berani mengubah arah kebijakan. Anak muda tidak cukup diberi seminar kewirausahaan, pelatihan motivasi, atau lomba inovasi sesaat. Anak muda harus diberi akses nyata kepada sumber produksi. Mereka harus diberi kesempatan mengelola tanah negara yang tidak produktif. Mereka perlu didukung dengan subsidi pupuk, bibit unggul, alat pertanian modern, irigasi, teknologi digital, pendampingan ahli, modal murah, koperasi produksi, dan jaminan pasar.

Sebab tanpa akses tanah, anak muda hanya menjadi penonton. Tanpa pupuk dan bibit, semangat mereka akan patah di tengah jalan. Tanpa pasar, hasil panen mereka akan dipermainkan tengkulak. Tanpa teknologi, mereka akan kalah bersaing. Tanpa keberpihakan negara, mereka akan kembali meninggalkan desa.

Bayangkan jika setiap daerah memiliki gerakan besar pemuda pangan. Anak-anak muda diberi hak kelola atas tanah negara yang tidur, bukan untuk dimiliki secara liar, tetapi untuk diolah secara produktif, legal, terukur, dan berkelanjutan. Mereka membentuk koperasi pangan. Mereka menanam padi, jagung, sagu, ubi, pisang, kelapa, kakao, cabai, bawang, sayur, buah, dan tanaman pangan lokal. Mereka mengembangkan peternakan ayam, sapi, kambing, ikan air tawar, tambak, rumput laut, dan perikanan terpadu.

Perguruan tinggi mendampingi risetnya. Pemerintah daerah membuka akses lahannya. Desa menyediakan kelembagaannya. Bank menyediakan pembiayaan murah. BUMN dan swasta menjamin pembelian hasilnya. Teknologi digital menghubungkan mereka dengan pasar. Maka desa tidak lagi menjadi ruang yang ditinggalkan, tetapi pusat baru ekonomi bangsa.

Di tangan anak muda, pertanian tidak boleh lagi dibayangkan sebagai cangkul tua dan lumpur penderitaan. Pertanian harus menjadi industri kehidupan. Ada teknologi di sana. Ada data cuaca. Ada irigasi pintar. Ada pengolahan pascapanen. Ada kemasan. Ada merek. Ada ekspor. Ada koperasi digital. Ada rantai nilai dari hulu ke hilir.

Anak muda harus menjadi petani modern, pengusaha pangan, pengelola lahan, ahli benih, teknisi irigasi, pengolah hasil, pemilik merek lokal, dan penjaga kedaulatan dapur bangsa.

Inilah yang harus disebut sebagai nasionalisme baru: nasionalisme pangan.

Nasionalisme tidak cukup hanya diteriakkan dalam upacara. Nasionalisme harus hidup di sawah, di kebun, di ladang, di tambak, di pasar, dan di dapur rakyat. Nasionalisme adalah ketika seorang anak muda memilih menanam jagung agar desanya hidup. Nasionalisme adalah ketika sekelompok pemuda mengolah tanah tidur menjadi kebun produktif. Nasionalisme adalah ketika negara memastikan petani muda tidak dibiarkan sendirian melawan harga pupuk, tengkulak, cuaca, dan pasar yang tidak adil.

Bangsa ini harus berhenti memandang pertanian sebagai sektor belakang. Pangan adalah garis depan pertahanan negara. Petani muda adalah tentara pangan. Mereka mungkin tidak memegang senjata, tetapi mereka menjaga bangsa dari kelaparan. Mereka mungkin tidak berdiri di perbatasan, tetapi mereka menjaga kedaulatan dari dalam dapur. Mereka mungkin tidak disebut pahlawan, tetapi tanpa mereka, seluruh mesin negara akan berhenti.

Karena itu, subsidi pupuk dan bibit untuk anak muda bukanlah beban anggaran. Itu adalah investasi peradaban. Akses tanah negara untuk pemuda bukanlah pemberian cuma-cuma. Itu adalah strategi membangunkan kekuatan bangsa. Pendampingan teknologi bukanlah proyek sesaat. Itu adalah jalan agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar pangan dunia, tetapi menjadi lumbung pangan dunia.

Namun, gerakan ini harus dikelola dengan hati-hati. Tanah negara yang diberikan kepada anak muda tidak boleh jatuh ke tangan spekulan. Tidak boleh menjadi proyek elite. Tidak boleh hanya menjadi nama kelompok di atas kertas. Harus ada kontrak produksi, pendampingan, evaluasi, dan keberlanjutan. Anak muda yang benar-benar bekerja harus dilindungi. Yang hanya ingin mengambil keuntungan dari program negara harus disingkirkan.

Kita membutuhkan desain besar: Tanah untuk Pemuda Produktif, Pupuk untuk Petani Muda, Bibit untuk Kedaulatan Pangan, dan Pasar untuk Keadilan Ekonomi.

Di dalam desain itu, pangan lokal harus mendapat tempat terhormat. Indonesia tidak boleh hanya berpikir tentang beras. Negeri ini punya sagu, jagung, ubi, pisang, sukun, keladi, sorgum, kacang-kacangan, ikan, rumput laut, kelapa, dan ribuan sumber pangan lokal lainnya. Setiap pulau memiliki ingatan pangannya sendiri. Setiap masyarakat adat memiliki pengetahuan ekologisnya sendiri. Setiap desa memiliki cara bertahan hidup yang diwariskan oleh leluhur.

Membangun pangan Indonesia berarti juga membangunkan ingatan peradaban Nusantara.

Di Wakatobi, Buton, Muna, Konawe, Kolaka, hingga pulau-pulau kecil Nusantara, tanah dan laut selalu menjadi ibu kehidupan. Leluhur tidak mengenal istilah ketahanan pangan, tetapi mereka telah mempraktikkannya dalam kebun, ladang, laut, musim, ritual, dan gotong royong. Mereka tahu kapan menanam, kapan melaut, kapan menahan diri, kapan berbagi. Itulah pengetahuan yang tidak boleh hilang.

Anak muda harus mewarisi pengetahuan itu, tetapi dengan alat baru. Leluhur memberi nilai. Ilmu pengetahuan memberi teknologi. Negara memberi kebijakan. Pasar memberi nilai tambah. Jika semua ini dipertemukan, Indonesia akan berdiri sebagai kekuatan pangan yang berakar pada tradisi dan bergerak dengan inovasi.

Maka seruan hari ini sederhana tetapi mendesak: jangan biarkan anak muda hanya menjadi pencari kerja di negeri yang tanahnya luas. Jangan biarkan desa kosong dari generasi produktif. Jangan biarkan tanah negara tidur sementara rakyat membutuhkan pangan. Jangan biarkan petani muda kalah sebelum bertanding karena pupuk mahal, bibit sulit, modal tidak ada, dan pasar tidak pasti.

Negara harus hadir. Bukan hanya dalam pidato, tetapi dalam pupuk. Bukan hanya dalam slogan, tetapi dalam bibit. Bukan hanya dalam baliho, tetapi dalam tanah yang bisa diolah. Bukan hanya dalam rencana besar, tetapi dalam harga panen yang adil.

Jika generasi muda diberi subsidi pupuk, bibit unggul, akses tanah negara, teknologi, modal, dan pasar, maka Indonesia akan memiliki pasukan pangan yang luar biasa. Dari desa-desa akan lahir kekuatan baru. Dari tanah yang selama ini diam akan tumbuh kehidupan. Dari tangan anak muda akan bangkit ekonomi rakyat. Dari kebun dan sawah akan lahir kedaulatan bangsa.

Sebab masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh siapa yang menguasai tambang, jalan, pelabuhan, atau industri digital. Masa depan Indonesia juga ditentukan oleh siapa yang menguasai benih, tanah, air, dan pangan.

Bangsa yang menguasai pangan, menguasai masa depannya.

Dan jika anak muda Indonesia kembali mencintai tanah, menanam kehidupan, menjaga air, mengolah hasil, membangun koperasi, dan menjadikan pangan sebagai jalan perjuangan, maka republik ini tidak hanya akan bertahan. Ia akan tumbuh menjadi bangsa besar yang mampu memberi makan dirinya sendiri, bahkan memberi makan dunia.

Di sanalah Indonesia menemukan kembali dirinya:
bukan sekadar negara kepulauan,
bukan sekadar pasar besar,
tetapi rumah pangan dunia yang dijaga oleh anak-anak mudanya sendiri.

Komentar