Sampe’a: Ketika Masyarakat Adat Kadie Liya Menimbang Martabat dengan Manfaat

Di banyak tempat, jabatan dirawat sebagai simbol kemuliaan. Namun dalam tradisi masyarakat adat Kadie Liya, jabatan tidak cukup dihormati hanya karena disandang. Ia harus dibuktikan melalui manfaat. Di situlah Sampe’a berdiri sebagai ingatan peradaban: bahwa kehormatan lahir dari pengabdian, bukan dari kemegahan. 


Oleh Sumiman Udu

Rumah Ingatan: Di tengah dunia yang semakin gaduh oleh perebutan kedudukan, masyarakat adat Kadie Liya menyimpan satu ingatan penting tentang makna jabatan. Ingatan itu bernama Sampe’a. Ia bukan sekadar sebuah tradisi, bukan pula hanya peristiwa adat yang datang dan pergi mengikuti musim. Sampe’a adalah cara masyarakat adat Kadie Liya menjaga agar jabatan tidak berubah menjadi kemegahan kosong. Ia adalah ruang di mana seseorang ditimbang bukan karena gelarnya, bukan karena pakaian kebesarannya, bukan karena suaranya yang lantang, melainkan karena manfaat yang sungguh-sungguh ia hadirkan bagi kehidupan bersama.

Dalam pengertian yang paling dalam, Sampe’a adalah tradisi masyarakat adat Kadie Liya untuk mengapresiasi sekaligus mengevaluasi para pemangku adat berdasarkan hasil nyata dari amanat yang mereka emban. Sebab dalam pandangan kebudayaan, jabatan tidak pernah berdiri sendiri. Ia selalu terikat pada tanggung jawab. Ia selalu melekat pada kerja. Ia selalu menuntut pembuktian. Karena itu, Sampe’a mengajarkan sesuatu yang sangat mendasar: kehormatan tidak lahir dari posisi, melainkan dari pengabdian.

Betapa agung pandangan seperti ini.

Hari ini, kita hidup di zaman ketika banyak orang ingin dihormati sebelum memberi manfaat. Banyak yang ingin dipanggil pemimpin, tetapi enggan memikul beban kepemimpinan. Banyak yang menyukai kursi, tetapi lupa bahwa setiap kursi adalah tempat duduk yang suatu hari akan ditanya: apa yang telah engkau lakukan bagi mereka yang mempercayaimu? Dalam tradisi masyarakat adat Kadie Liya, pertanyaan semacam itu tidak dibiarkan menggantung. Ia dijelmakan ke dalam Sampe’a, agar amanat tidak terlepas dari martabat, dan martabat tidak terlepas dari manfaat.

Di sinilah kita melihat betapa kebudayaan sesungguhnya lebih bijaksana daripada sekadar tata aturan. Kebudayaan tidak hanya membuat orang taat, tetapi juga membuat orang sadar. Sampe’a bukan sekadar forum penilaian. Ia adalah cermin sosial. Di hadapannya, seorang pemangku adat melihat dirinya bukan menurut yang ia kira tentang dirinya, tetapi menurut yang sungguh dirasakan masyarakat. Bila hasil kerjanya menghadirkan kebaikan, maka masyarakat memberi apresiasi. Bila amanatnya dijalankan dengan sungguh-sungguh, maka ia dipertahankan dengan hormat. Tetapi bila ia gagal, Sampe’a menjadi ruang kejujuran: bahwa jabatan tidak boleh dipertahankan hanya demi nama, jika maknanya telah hilang.

Dalam kehidupan maritim masyarakat Kadie Liya, ukuran itu tampak sangat nyata. Pada tradisi Lalo’a, misalnya, ketika hasil laut hadir, ketika ikan boronang melintas dalam jumlah banyak, ketika masyarakat bisa merasakan nikmat dari laut yang terjaga, maka keberhasilan seorang Sabandara sebagai pemangku urusan laut mendapat pengakuan. Di sini kita belajar bahwa dalam masyarakat adat, kepemimpinan tidak diukur dari seberapa sering seseorang berbicara tentang tugasnya, tetapi dari seberapa nyata kehidupan menjadi lebih baik karena tugas itu dijalankan. Laut yang memberi hasil bukan hanya tanda kelimpahan alam, tetapi juga tanda bahwa ada amanat yang dijaga dengan sungguh-sungguh.

Namun Sampe’a tidak hanya mengenal apresiasi. Ia juga mengenal rasa malu. Dan dalam kebudayaan, rasa malu bukan kelemahan. Ia adalah kekuatan batin. Ia adalah tanda bahwa seseorang masih memiliki nurani, masih mampu mendengar suara masyarakat, masih sanggup mengukur dirinya dengan ukuran yang lebih tinggi daripada pujian. Bila hasil tidak baik, bila amanat tidak memberi manfaat sebagaimana mestinya, maka seorang pemangku adat dapat merasa malu, lalu berusaha memperbaiki diri. Malu di sini bukan akhir dari kehormatan. Justru dari rasa malu itulah kehormatan bisa diselamatkan, sebab hanya orang yang masih punya malu yang masih mungkin kembali kepada hakikat tugasnya.

Barangkali inilah yang perlahan hilang dari dunia modern kita. Kita menyaksikan terlalu banyak orang yang gagal, tetapi tak mau bercermin. Terlalu banyak yang lalai, tetapi tetap menuntut hormat. Terlalu banyak yang mempertahankan jabatan seolah jabatan itu miliknya, bukan titipan. Padahal masyarakat adat Kadie Liya sejak lama telah mengajarkan bahwa jabatan bukan hak milik; jabatan adalah amanat. Dan amanat tidak akan mulia hanya karena disandang. Ia baru menjadi mulia ketika dijalankan dengan ketulusan dan tanggung jawab.

Di dalam tradisi Sampe’a, tugas juga tidak dilihat semata sebagai perkara teknis. Ia menyentuh dimensi yang lebih dalam: spiritualitas. Ketika kampung memerlukan ikan untuk pesta adat, untuk sukacita maupun dukacita, ketika kehidupan bersama menuntut hadirnya pertolongan, maka para pemangku tidak hanya bekerja secara lahiriah. Mereka juga menempuh ikhtiar batin, melakukan amala, berdoa, dan merawat hubungan dengan Yang Mahakuasa agar rezeki dari laut tetap mengalir. Dengan demikian, Sampe’a tidak hanya menilai hasil, tetapi juga mengingatkan bahwa segala amanat mesti dipikul dengan kejernihan hati. Dalam masyarakat adat Kadie Liya, kerja, doa, dan tanggung jawab sosial bukanlah tiga hal yang terpisah. Semuanya menyatu dalam laku kebudayaan.

Maka Sampe’a sesungguhnya adalah pelajaran besar tentang peradaban. Ia mengajarkan bahwa masyarakat yang beradab bukanlah masyarakat yang mengagungkan kuasa, melainkan masyarakat yang menundukkan kuasa di hadapan etika bersama. Ia mengajarkan bahwa pemimpin bukan orang yang berdiri paling tinggi, tetapi orang yang paling dirasakan manfaatnya. Ia mengajarkan bahwa pujian harus lahir dari kerja nyata, dan kritik harus diterima sebagai bagian dari upaya menjaga keseimbangan hidup bersama.

Bahkan lebih dari itu, Sampe’a menunjukkan bahwa masyarakat adat Kadie Liya memiliki cara yang sangat halus namun kuat untuk mengontrol kekuasaan. Melalui tradisi bhanti-bhanti, masyarakat dapat memberi isyarat, sindiran, dan kritik secara kultural kepada para pemangku adat. Suara masyarakat tidak dibungkam; ia justru dihidupkan dalam bentuk yang beradab. Ini menunjukkan bahwa kebudayaan tidak hanya menyimpan nilai-nilai keindahan, tetapi juga menyimpan mekanisme etik untuk menjaga agar seorang pemangku tidak berjalan terlalu jauh dari amanatnya. Di tengah dunia sekarang yang sering memahami kritik sebagai permusuhan, masyarakat adat justru memperlihatkan bahwa kritik bisa menjadi bentuk kasih sayang sosial: cara komunitas menyelamatkan martabat pemimpinnya agar tidak jatuh lebih jauh.

Karena itu, membicarakan Sampe’a berarti membicarakan satu warisan penting tentang bagaimana sebuah masyarakat menjaga akal sehat peradabannya. Tradisi masyarakat adat Kadie Liya ini mengingatkan kita bahwa jabatan hanyalah jalan, bukan tujuan; bahwa kuasa hanyalah alat, bukan kemuliaan; bahwa manusia akan dihormati bukan karena ia ingin dihormati, tetapi karena ia menghadirkan kebaikan yang dapat dirasakan bersama.

Di tengah bangsa yang kadang terlalu sibuk membesarkan simbol dan melupakan isi, Sampe’a datang sebagai bisikan tua dari dunia adat: bahwa yang paling layak dipertahankan bukan kursi, melainkan amanat; bukan nama besar, melainkan kerja yang memberi manfaat; bukan kemegahan jabatan, melainkan martabat yang lahir dari pengabdian.

Dan mungkin, justru di situlah peradaban yang sesungguhnya bermula: ketika sebuah masyarakat berani menimbang manusia bukan dari apa yang dikenakannya, tetapi dari apa yang ia berikan kepada sesamanya.


Komentar