Lalo’a dan Masa Depan Pangan Dunia: Ketika Laut Mengajarkan Peradaban Menahan Diri

 

Oleh: Sumiman Udu

Rumah Ingatan: Ada saatnya peradaban manusia harus kembali bertanya: dari mana sesungguhnya pangan datang? Apakah dari pasar, dari kapal-kapal besar, dari mesin pendingin, dari angka ekspor, atau dari alam yang masih diberi kesempatan untuk bernapas?

Tradisi Lalo’a masyarakat adat Kadie Liya memberi jawaban yang sunyi, tetapi sangat dalam: pangan datang dari kehidupan yang dijaga. Ikan yang dimakan hari ini berasal dari telur yang kemarin diberi ruang untuk tumbuh. Laut yang memberi rezeki hari ini adalah laut yang kemarin tidak dirusak. Di sinilah Lalo’a bukan hanya tradisi lokal Wakatobi, tetapi filsafat pangan dunia.

Dalam model Lalo’a, pengelolaan laut dimulai dari kosmologi. Masyarakat membaca hubungan manusia, laut, alam, dan Tuhan sebagai satu kesatuan. Dari sana lahir pengetahuan ekologis: membaca musim, bulan, angin, habitat, dan masa bertelur ikan. Pengetahuan itu dituntun oleh nilai spiritual, lalu diwujudkan dalam aturan adat, dijalankan dalam praktik pengelolaan, menghasilkan ekosistem yang sehat, menopang kesejahteraan masyarakat, dan akhirnya memperkuat kembali kelembagaan serta nilai.

Ini adalah siklus pangan yang beradab.

Dunia modern sering membangun sistem pangan dengan logika percepatan: produksi harus naik, pasar harus luas, distribusi harus cepat, dan keuntungan harus bertambah. Tetapi dalam banyak hal, logika itu membuat manusia lupa bahwa pangan bukan hanya komoditas. Pangan adalah hasil dari hubungan panjang antara tanah, air, laut, musim, benih, ikan, petani, nelayan, dan nilai-nilai yang menjaga batas.

Ketika pangan hanya dilihat sebagai barang dagangan, laut akan diperas. Ikan ditangkap sebelum sempat berkembang biak. Hutan dibuka tanpa jeda. Tanah dipaksa berproduksi melampaui daya pulihnya. Sungai menjadi saluran limbah. Laut menjadi gudang eksploitasi. Maka krisis pangan global sesungguhnya bukan hanya krisis produksi, tetapi krisis cara pandang.

Lalo’a menawarkan koreksi filosofis terhadap krisis itu. Ia mengajarkan bahwa keberlanjutan pangan tidak dimulai dari mengambil lebih banyak, tetapi dari menjaga sumber kehidupan agar tetap mampu memberi. Dalam tradisi ini, telur ikan baronang tidak diperlakukan sebagai benda kecil yang tak berarti. Ia dilihat sebagai masa depan. Menjaga telur ikan berarti menjaga pangan yang belum lahir. Di sini, masyarakat adat Kadie Liya mengajarkan kepada dunia bahwa ketahanan pangan harus dimulai dari penghormatan terhadap proses reproduksi alam.

Pada tingkat nasional, Indonesia memiliki banyak model serupa. Di Maluku ada sasi, yang memberi waktu bagi alam untuk memulihkan diri. Di Bali ada subak, yang menyatukan air, sawah, pura, dan masyarakat dalam satu tata kelola pangan. Di Lombok ada awig-awig, yang mengatur pemanfaatan sumber daya melalui kesepakatan sosial. Di Wakatobi ada Lalo’a, yang menjaga laut melalui pengetahuan musim, adat, spiritualitas, dan pengendalian diri.

Semua ini menunjukkan bahwa Nusantara sesungguhnya memiliki modal besar dalam membangun sistem pangan berkelanjutan. Sayangnya, pembangunan modern sering lebih percaya pada proyek besar daripada kebijaksanaan kecil yang telah teruji oleh waktu. Padahal, di tengah krisis iklim, gangguan rantai pasok, perang, dan ketidakpastian pangan dunia, justru kearifan lokal semacam inilah yang dapat menjadi fondasi ketahanan pangan masa depan.

Pada tingkat global, Lalo’a dapat dibaca sebagai bagian dari percakapan besar tentang Indigenous and Local Knowledge. Banyak masyarakat adat dunia memiliki sistem larangan musiman, ruang sakral, tabu ekologis, dan aturan komunitas yang menjaga pangan tetap tersedia. Masyarakat Pasifik mengenal tabu laut. Jepang mengenal satoumi, hubungan harmonis antara manusia dan laut. Berbagai komunitas adat di dunia menjaga benih, hutan, sungai, padang rumput, dan wilayah tangkap bukan semata-mata karena aturan negara, tetapi karena mereka memahami bahwa hidup hanya mungkin berlanjut jika sumber pangan tidak dihancurkan.

Di sinilah Lalo’a memiliki pesan global: krisis pangan tidak bisa dijawab hanya dengan memperbanyak produksi, tetapi harus dijawab dengan memperbaiki hubungan manusia dengan alam.

Dunia boleh memiliki teknologi satelit, kapal besar, laboratorium benih, dan sistem perdagangan pangan lintas benua. Namun semua itu akan rapuh jika sumber ekologisnya rusak. Apa artinya kapal penangkap ikan yang canggih jika laut kehilangan ikan? Apa artinya pasar global jika tanah kehilangan kesuburan? Apa artinya pangan murah jika dibayar dengan hancurnya ekosistem?

Lalo’a mengajarkan bahwa pangan yang sejati tidak hanya cukup untuk hari ini, tetapi juga menyisakan kehidupan untuk esok. Itulah etika pangan yang hilang dalam banyak sistem modern. Manusia sering lupa bahwa generasi mendatang juga memiliki hak atas ikan yang belum bertelur, atas tanah yang belum rusak, atas laut yang belum mati, dan atas air yang belum tercemar.

Secara filosofis, Lalo’a mengembalikan pangan kepada martabatnya. Pangan bukan sekadar kalori. Pangan adalah hubungan. Hubungan antara manusia dan laut, antara adat dan ekosistem, antara kebutuhan dan batas, antara hari ini dan generasi yang belum lahir. Maka, ketika masyarakat Kadie Liya menjaga masa bertelur ikan baronang, mereka sesungguhnya sedang menjaga kontrak moral dengan masa depan.

Dalam kerangka pengelolaan pangan global, model Lalo’a memberi beberapa pelajaran penting. Pertama, sistem pangan harus berbasis ekosistem. Tidak ada pangan yang aman di atas alam yang rusak. Kedua, pengelolaan pangan harus melibatkan komunitas lokal sebagai penjaga pertama sumber daya. Ketiga, kebijakan pangan harus mengakui pengetahuan adat, bukan sekadar menjadikannya hiasan budaya. Keempat, ketahanan pangan harus dilihat sebagai persoalan etika, bukan hanya persoalan logistik. Kelima, keberlanjutan pangan membutuhkan kelembagaan yang hidup dalam masyarakat, bukan hanya regulasi dari atas.

Lalo’a juga mengajarkan bahwa masyarakat yang kuat bukanlah masyarakat yang mengambil semua yang tersedia. Masyarakat yang kuat adalah masyarakat yang mampu menunda, menahan diri, dan menjaga sumber kehidupan tetap hidup. Inilah pelajaran yang sangat mahal bagi dunia hari ini. Ketika perang, perubahan iklim, dan krisis ekonomi mengancam rantai pangan global, manusia perlu kembali pada prinsip paling dasar: jangan hancurkan rahim alam yang memberi makanmu.

Maka, Lalo’a bukan hanya cerita tentang ikan baronang. Ia adalah metafora besar tentang peradaban pangan. Ia mengajarkan bahwa setiap sumber pangan memiliki waktunya sendiri, ruangnya sendiri, dan batasnya sendiri. Jika manusia melanggar semua itu, kelaparan bukan hanya akibat kurang produksi, tetapi akibat hilangnya kebijaksanaan.

Pada akhirnya, masa depan pangan dunia tidak hanya ditentukan oleh siapa yang memiliki teknologi paling maju, tetapi oleh siapa yang masih memiliki etika untuk menjaga sumber kehidupan. Lalo’a mengajarkan bahwa laut akan memberi jika ia dihormati. Alam akan menopang jika ia tidak dikhianati. Pangan akan cukup jika manusia tidak rakus.

Dari Kadie Liya, sebuah kampung adat di Wakatobi, dunia dapat belajar satu hal sederhana tetapi mendasar: ketahanan pangan dimulai dari kemampuan peradaban untuk menahan diri.


Baca Juga Mencari Jalan Bisnis di Tengah Zaman yang Berubah

Komentar