Kita Terlalu Sibuk Menjadi Modern, Sampai Lupa Cara Menjaga Diri


Ada yang aneh dengan zaman ini.

Kita makin terdidik, tetapi tidak otomatis makin bijak.
Kita makin terhubung, tetapi makin mudah saling melukai.
Kita makin pandai berbicara tentang masa depan, tetapi makin miskin kemampuan menjaga apa yang ada di dalam diri kita sendiri.

Kita menyebut ini zaman kemajuan. Tetapi pertanyaannya: kemajuan untuk siapa, jika manusia semakin mudah marah, semakin ringan menghina, semakin cepat percaya fitnah, dan semakin terbiasa hidup tanpa rasa malu?

Mungkin masalah terbesar kita hari ini bukan kurangnya ilmu.
Mungkin masalah terbesar kita adalah hilangnya adab.

Coba lihat sekeliling. Orang begitu mudah memasukkan apa saja ke dalam dirinya. Kebencian masuk. Hoaks masuk. Gunjingan masuk. Iri masuk. Gaya hidup pamer masuk. Nafsu menjatuhkan orang lain masuk. Semua diterima mentah-mentah, seolah kepala dan hati ini hanyalah tong sampah zaman.

Setelah itu, yang keluar pun tidak kalah busuk. Kata-kata kasar keluar. Fitnah keluar. Amarah keluar. Ucapan yang melukai keluar. Keputusan yang merusak sesama keluar. Bahkan di ruang digital, orang merasa bebas menumpahkan racun batinnya seolah itu hak paling asasi dalam demokrasi.

Kita mungkin sedang hidup di era yang sangat pintar, tetapi juga sangat kotor secara batin.

Di titik inilah kita perlu jujur: ada sesuatu yang rusak dalam cara kita membentuk manusia. Sekolah sibuk mengajar kecakapan, tetapi sering gagal mengajarkan kendali diri. Rumah tangga sibuk mengejar kehidupan, tetapi kadang lupa menjaga bahasa di dalam rumah. Ruang publik penuh slogan moral, tetapi miskin teladan. Kita membesarkan generasi yang tahu cara tampil, tetapi tidak cukup diajari cara menjaga isi dirinya.

Karena itu, ketika sebuah karya sastra datang membawa ingatan lama tentang adab, kita seharusnya tidak buru-buru menganggapnya nostalgia. Bisa jadi justru di situlah kita sedang diselamatkan.

Salah satu karya yang layak dinantikan adalah Legenda Wa Ode Aulia: Amanat dari Gunung Tindoi karya Sumiman Udu, yang saat ini sedang dalam proses terbit. Novel ini bukan sekadar kisah legenda. Ia hadir seperti teguran halus, tetapi menghantam. Ia berbicara tentang perempuan, negeri, benteng, air, hutan, rempah, dan warisan budaya. Namun yang lebih penting, ia berbicara tentang sesuatu yang sekarang makin langka: cara menjaga diri agar tidak menjadi sumber kerusakan bagi dunia sekitar.

Di tengah budaya yang makin gaduh, Wa Ode Aulia hadir bukan sebagai tokoh yang sekadar elok untuk dikenang, tetapi sebagai suara yang mengusik. Ia membawa ajaran tentang kangkilo awalu dan kangkilo akhiri—dua konsep yang jika dipikir-pikir, justru sangat relevan untuk membaca penyakit zaman kita.

Secara sederhana, kangkilo awalu adalah ajaran untuk menjaga apa yang masuk ke dalam diri: apa yang kita makan, apa yang kita dengar, apa yang kita lihat, apa yang kita pikirkan, dan niat apa yang kita pelihara. Sedangkan kangkilo akhiri adalah ajaran untuk menjaga apa yang keluar dari diri: kata-kata, emosi, kemarahan, dengki, keputusan, dan seluruh racun hati yang bisa mencemari orang lain.

Bukankah itu tepat sekali dengan penyakit masyarakat hari ini?

Kita terlalu longgar terhadap apa yang masuk.
Dan terlalu liar terhadap apa yang keluar.

Kita biarkan pikiran kita dijejali hal-hal buruk, lalu heran mengapa ucapan kita penuh kebencian. Kita menikmati kabar kotor, lalu bingung mengapa hati kita cepat panas. Kita terbiasa melihat orang lain sebagai musuh, lalu merasa wajar jika ruang publik dipenuhi penghinaan. Kita bahkan merusak alam dengan logika yang sama: mengambil sebanyak mungkin, lalu meninggalkan kerusakan tanpa rasa bersalah.

Jadi, jangan anggap legenda hanya urusan masa lalu. Kadang legenda lebih jujur daripada pidato modern. Kadang cerita lama justru lebih tajam daripada seminar-seminar yang penuh istilah canggih tetapi miskin daya ubah.

Itulah yang membuat karya seperti Legenda Wa Ode Aulia penting. Ia mengingatkan kita bahwa kebudayaan lokal tidak pernah sesederhana “cerita rakyat.” Di dalamnya ada filsafat hidup. Ada etika. Ada cara membaca hubungan manusia dengan tubuhnya, dengan sesamanya, dengan alam, dan dengan Tuhannya.

Yang juga menarik, tokoh Wa Ode Aulia mengembalikan perempuan ke tempat yang semestinya dalam peradaban: bukan pelengkap cerita, bukan bayangan dari tokoh laki-laki, melainkan penjaga adab, penata rumah batin, dan benteng moral sebuah negeri. Ini penting, sebab terlalu lama kita membaca sejarah dengan cara yang miskin imajinasi—seolah yang besar hanya yang bersenjata, yang berteriak, atau yang duduk di pusat kuasa. Padahal banyak negeri bertahan justru karena ada perempuan-perempuan yang menjaga agar generasinya tidak tumbuh tanpa malu.

Novel ini, dengan demikian, bukan hanya bicara tentang Wa Ode Aulia. Ia bicara tentang kita. Tentang apa yang sudah kita hilangkan. Tentang apa yang mungkin masih bisa kita pulihkan.

Dan barangkali, itulah yang membuatnya sedikit mengganggu.

Sebab karya sastra yang baik memang tidak selalu membuat pembaca nyaman. Kadang ia membuka cermin yang selama ini sengaja kita hindari. Kadang ia memaksa kita bertanya: jangan-jangan benteng yang runtuh hari ini bukan benteng batu, melainkan benteng batin kita sendiri. Jangan-jangan yang hilang dari masyarakat bukan semata sopan santun, tetapi rasa malu yang dulu menjaga manusia tetap waras.

Di saat orang berlomba menjadi modern, karya seperti ini mengajukan pertanyaan yang tidak populer: apa gunanya modern kalau mulut tak terjaga, emosi tak tertata, niat tak dibersihkan, dan warisan budaya dianggap remeh?

Kita mungkin membutuhkan lebih sedikit kesombongan modern, dan lebih banyak kebijaksanaan yang tumbuh dari akar sendiri.

Karena itu, ketika Legenda Wa Ode Aulia: Amanat dari Gunung Tindoi terbit nanti, ia layak dibaca bukan hanya sebagai novel, tetapi sebagai peringatan. Sebagai ajakan untuk pulang sejenak ke dalam diri. Sebagai kesempatan untuk bertemu lagi dengan satu pelajaran lama yang justru terasa sangat mendesak untuk zaman sekarang: bahwa manusia harus berhati-hati terhadap apa yang ia biarkan masuk, dan bertanggung jawab atas apa yang ia keluarkan ke dunia.

Mungkin kita memang tidak kekurangan buku.
Tetapi kita sangat kekurangan bacaan yang bisa membuat kita malu kepada diri sendiri.

Dan jika sebuah novel mampu melakukan itu, maka ia bukan sekadar karya sastra.
Ia adalah amanat.


Komentar