Ibu, Kartini, dan Wa Ode Wau: Bangsa Ini Akan Runtuh Jika Terus Meremehkan Perempuan
Oleh: Sumiman Udu
Opini untuk Rumah Ingatan Peradaban
Rumah Ingatan: Setiap 21 April, kita kembali mengucapkan nama Kartini. Kita unggah poster, kita pakai kebaya, kita tulis kalimat-kalimat manis tentang perempuan. Tetapi sesudah itu, bangsa ini sering kembali ke kebiasaan lama: memuji perempuan di bibir, lalu melupakannya dalam kenyataan. Padahal Hari Kartini seharusnya bukan sekadar peringatan seremonial, melainkan hari untuk bertanya dengan jujur: masihkah kita percaya bahwa perempuan adalah penentu watak bangsa? Peringatan Hari Kartini sendiri memang dipusatkan setiap 21 April dan dimaknai sebagai momentum menghidupkan semangat kemajuan perempuan melalui pendidikan dan martabat kemanusiaan.Bangsa ini terlalu lama salah paham tentang sumber kekuatannya sendiri. Kita mengira karakter bangsa dibangun oleh pidato para elite, oleh kantor-kantor kekuasaan, atau oleh program-program besar negara. Padahal, karakter bangsa mula-mula dibangun di ruang yang nyaris tak pernah masuk statistik pembangunan: di pangkuan ibu, di rumah, di meja makan, di suara perempuan yang mengajarkan anaknya tentang malu, hormat, sabar, keberanian, dan batas antara yang pantas dan yang hina.
Negeri ini sesungguhnya tidak kekurangan orang pintar. Yang mulai langka adalah manusia yang punya watak. Dan watak itu, sebelum diajarkan kampus, undang-undang, atau negara, lebih dahulu ditanamkan oleh ibu. Karena itu, meremehkan perempuan sama saja dengan merusak pabrik paling awal pembentuk peradaban.
Kartini telah lama mengingatkan bahwa perempuan bukan makhluk pinggiran. Ia adalah pusat kesadaran. Ia bukan sekadar pelengkap rumah tangga, melainkan pemilik hak berpikir, hak tumbuh, hak bersuara, dan hak mengambil bagian dalam membentuk masa depan bangsanya. Namun persoalan kita hari ini justru lebih dalam: kita memuji Kartini, tetapi sering tidak sungguh-sungguh meneruskan pelajarannya. Kita merayakan nama perempuan, tetapi belum tentu memuliakan perempuan.
Di titik itulah tanah Buton memberi kita cermin yang sangat penting. Buton tidak hanya memiliki sejarah laki-laki, sultan, perang, dan kekuasaan. Buton juga menyimpan jejak perempuan-perempuan besar yang menegakkan marwah negeri. Salah satu nama itu adalah Wa Ode Wau. Dalam berbagai penulisan sejarah populer lokal, Wa Ode Wau dikenang sebagai figur perempuan Buton yang kaya, berpengaruh, dan dermawan; ia bahkan kerap disebut sebagai sosok yang menunjukkan bahwa perempuan Buton bukan hanya penghuni belakang panggung sejarah, melainkan penggerak ekonomi dan kehormatan negeri.
Wa Ode Wau penting bukan hanya karena ia perempuan besar di masa lalu. Ia penting karena ia menghancurkan prasangka modern yang diam-diam masih hidup sampai sekarang: seolah perempuan bernilai hanya ketika ia diam, patuh, manis, dan tidak terlalu menentukan. Wa Ode Wau justru hadir sebagai kebalikan dari itu. Ia mengajarkan bahwa perempuan dapat menjadi ukuran kecerdasan sosial, kekuatan ekonomi, dan kehormatan budaya.
Hari ini kita perlu mengatakan sesuatu yang lebih keras: bangsa yang terus mengecilkan perempuan sedang menyiapkan kehancurannya sendiri. Sebab ia sedang merobohkan tiang rumahnya dari dalam. Lihatlah kenyataan kita: kekerasan dalam rumah tangga masih terjadi, suara perempuan sering dipotong, kerja pengasuhan dianggap biasa saja, ibu dituntut sempurna tetapi tidak selalu diberi penghormatan yang setara, dan perempuan masih kerap dinilai dari tubuhnya sebelum dinilai dari pikirannya. Dalam situasi seperti ini, memperingati Kartini tanpa memperbaiki cara kita memperlakukan perempuan hanyalah kemunafikan budaya.
Yang membuat pelajaran Buton semakin penting adalah pandangan politik-kebudayaannya yang sangat halus tetapi mendalam: kelayakan seorang sultan tidak berdiri sendirian; ada bobot moral dan adat yang juga melekat pada kelayakan perempuan yang akan mendampinginya sebagai permaisuri. Dalam literatur klasik tentang adat Buton, disebut bahwa selain sultan, permaisuri juga dilantik dan diambil sumpahnya. Ini menunjukkan bahwa permaisuri bukan sosok tambahan, melainkan bagian penting dari tatanan legitimasi kekuasaan.
Ini gagasan yang luar biasa tinggi. Buton seperti hendak berkata kepada dunia: kekuasaan tidak cukup diukur dari keberanian laki-laki yang naik takhta. Kekuasaan juga harus diukur dari keluhuran perempuan yang akan menjaga batin istana. Sebab yang rusak dari sebuah negeri sering kali bukan pertama-tama tampak pada gedungnya, melainkan pada adabnya. Dan adab itu sangat ditentukan oleh mutu manusia yang mengisi ruang paling dekat dengan pusat kekuasaan.
Dengan kata lain, Buton telah memahami sejak lama sesuatu yang sering tidak dipahami politik modern: seorang pemimpin tidak hanya dinilai dari pidatonya, tetapi juga dari ekosistem moral yang menopangnya. Di sana, perempuan tidak diposisikan sebagai aksesoris kuasa. Ia adalah penjaga martabat kuasa.
Bayangkan betapa agungnya cara pandang ini. Saat banyak peradaban menempatkan perempuan di pinggir sejarah, Buton justru memberi isyarat bahwa kualitas kepemimpinan laki-laki tidak bisa dipisahkan dari kualitas perempuan di sisinya. Ini bukan soal menempelkan kehormatan laki-laki kepada perempuan, tetapi pengakuan bahwa peradaban yang sehat dibangun oleh kesatuan moral, bukan oleh kesombongan individual.
Karena itu, pembicaraan tentang ibu, Kartini, dan Wa Ode Wau seharusnya tidak berhenti pada romantisme. Ini harus menjadi kritik sosial yang tajam bagi bangsa hari ini.
Mengapa kita begitu sibuk mencari pemimpin, tetapi malas membangun ibu-ibu yang kuat secara pendidikan, ekonomi, dan martabat?
Mengapa kita bicara tentang masa depan generasi, tetapi abai pada beban pengasuhan yang hampir seluruhnya ditumpukan ke pundak perempuan?
Mengapa kita memuji perempuan dalam pidato, tetapi dalam praktik sosial masih sering mengurung mereka dalam peran sempit?
Mengapa kita bangga pada sejarah besar bangsa, tetapi tidak sungguh-sungguh membaca sejarah perempuan yang menjaga bangsa itu tetap waras?
Pertanyaan-pertanyaan ini penting karena bangsa pada akhirnya tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi atau tinggi gedung-gedungnya. Bangsa diukur dari cara ia memperlakukan perempuan. Jika perempuan dihormati, dididik, dikuatkan, dan diberi ruang bermartabat, di situ masa depan memiliki akar. Tetapi jika perempuan dilemahkan, dihinakan, atau hanya dijadikan simbol, maka yang tumbuh bukan peradaban, melainkan kemunduran yang dipoles sopan santun.
Ibu adalah sekolah pertama. Kartini adalah kesadaran pertama. Wa Ode Wau adalah bukti bahwa perempuan lokal Nusantara dapat berdiri sebagai pilar sejarah. Dan tradisi Buton mengajarkan bahwa perempuan bahkan ikut menentukan wibawa pusat kekuasaan. Maka sesungguhnya kita tidak sedang kekurangan teladan. Yang kurang adalah keberanian untuk belajar sungguh-sungguh dari teladan itu.
Dalam rangka Hari Kartini, kita harus berhenti menjadikan perempuan sekadar tema tahunan. Perempuan harus kembali ditempatkan sebagai pusat pembicaraan tentang karakter bangsa. Sebab di rahim perempuanlah manusia lahir, di tangan perempuanlah nilai-nilai pertama diwariskan, dan di dalam keteguhan perempuanlah sebuah negeri sering diselamatkan tanpa banyak tepuk tangan.
Rumah Ingatan Peradaban patut mengingatkan hal ini dengan suara yang jernih tetapi keras:
jangan main-main dengan perempuan jika bangsa ini ingin selamat.
Jangan remehkan ibu jika kita masih ingin berbicara tentang moral.
Jangan kecilkan peran perempuan jika kita masih bermimpi tentang Indonesia yang berkarakter.
Dan jangan pernah mengira bahwa sejarah besar hanya ditulis laki-laki. Sebab sering kali, yang membuat sebuah bangsa tetap berdiri bukan tangan yang memegang tongkat kuasa, melainkan tangan ibu yang diam-diam menegakkan jiwa manusia.
Pada akhirnya, bangsa yang besar bukan bangsa yang hanya melahirkan banyak pejabat. Bangsa yang besar adalah bangsa yang memuliakan ibu, mencerdaskan perempuan, menghormati martabatnya, dan mengakui bahwa dari perempuanlah watak peradaban dijaga.
Itulah pelajaran Kartini.
Itulah jejak Wa Ode Wau.
Itulah kebijaksanaan Buton.
Dan itulah pekerjaan rumah bangsa ini yang belum selesai.






Komentar
Posting Komentar