Gotong Royong: Jejak Peradaban yang Hampir Hilang


Bangsa ini besar bukan hanya karena sumber dayanya, tetapi karena modal sosialnya. Saat gotong royong digantikan oleh hitung-hitungan materi, yang memudar bukan hanya tradisi, melainkan juga daya tahan peradaban.


Oleh: Sumiman Udu

Rumah Ingatan: Ada yang perlahan menghilang dari kehidupan kita, tetapi kehilangan itu nyaris tak lagi kita tangisi. Ia bukan gedung tua, bukan naskah kuno, bukan pula prasasti yang retak dimakan hujan. Ia adalah ruh kebersamaan yang dulu hidup dalam keseharian: gotong royong.

Kita pernah menjadi bangsa yang besar bukan semata-mata karena kekayaan alam, melainkan karena kemampuan kita merawat hidup bersama. Di kampung-kampung, di lorong-lorong desa, di tanah-tanah yang belum terlalu dikuasai logika pasar, orang-orang datang membantu tanpa harus menunggu undangan resmi, tanpa proposal, tanpa honorarium, tanpa daftar hadir. Mereka datang karena merasa bahwa beban sesama adalah juga beban dirinya. Mereka bekerja karena tahu bahwa kehidupan tidak dibangun sendirian.

Gotong royong dahulu bukan sekadar kegiatan sosial. Ia adalah cara pandang terhadap kehidupan. Ia lahir dari kesadaran bahwa manusia hanya bisa menjadi manusia di tengah manusia lain. Rumah dibangun bersama, jalan dibuka bersama, kebun dibersihkan bersama, hajatan dipikul bersama, bahkan duka pun ditanggung bersama. Dalam gotong royong, tenaga bukan hanya tenaga. Ia adalah tanda kasih, pengakuan atas hubungan, dan bukti bahwa masyarakat belum kehilangan jiwanya.

Namun zaman bergerak, dan bersama gerak itu, banyak hal ikut berubah. Materialisme pelan-pelan masuk ke ruang batin kita. Individualisme tumbuh bersama cara hidup yang makin menekankan kepentingan diri. Ukuran nilai mulai bergeser: sesuatu dianggap penting jika menghasilkan uang, jika bisa dihitung, jika dapat dibayar. Yang tak berupah dianggap tak bernilai. Yang tidak menghasilkan materi dianggap sekadar aktivitas sambilan.

Dalam arus perubahan itu, gotong royong mulai terdesak ke pinggir kesadaran. Ia masih disebut, tetapi tidak lagi sungguh-sungguh dihidupi.

Kita lalu memasuki masa-masa krisis. Krisis moneter 1997 bukan hanya mengguncang ekonomi, tetapi juga diam-diam mengubah watak sosial masyarakat. Salah satu jalan yang banyak ditempuh saat itu adalah program padat karya. Secara ekonomi, kebijakan itu dapat dipahami: negara perlu membuka ruang kerja, masyarakat perlu pendapatan, dan pekerjaan-pekerjaan publik harus tetap berjalan. Tetapi di dalam praktik sosial yang panjang, ada sesuatu yang perlahan ikut berubah dalam pikiran kolektif kita: kerja di ruang publik harus dibayar.

Sejak itulah, sedikit demi sedikit, publik tidak lagi selalu dipandang sebagai ruang pengabdian bersama, melainkan sebagai ruang kerja transaksional. Orang mulai bertanya, “Berapa upahnya?” sebelum bertanya, “Apa yang bisa saya bantu?” Pertanyaan itu terdengar biasa. Bahkan terdengar rasional. Namun justru di situlah perubahan peradaban itu berlangsung secara sunyi.

Bukan berarti upah itu salah. Bukan berarti kerja harus selalu gratis. Manusia tetap perlu hidup, perlu makan, perlu memenuhi kebutuhan rumah tangga. Tetapi persoalannya menjadi serius ketika seluruh hubungan sosial dibaca hanya melalui ukuran materi. Ketika semua tenaga harus dibeli. Ketika semua partisipasi harus diganti. Ketika kepedulian pun harus menunggu anggaran.

Pada titik itulah kita tidak hanya kehilangan gotong royong. Kita kehilangan modal sosial, akar terdalam yang selama ini membuat bangsa ini mampu bertahan melewati berbagai krisis. Sebab modal sosial bukan sekadar kumpulan orang yang hidup berdampingan. Ia adalah kepercayaan, kesediaan berbagi beban, kemauan menolong tanpa menghitung untung rugi, dan keyakinan bahwa kehidupan bersama lebih penting daripada kepentingan pribadi yang sempit.

Bangsa ini sesungguhnya dibangun di atas modal sosial semacam itu. Gotong royong adalah jembatan yang menghubungkan kepentingan individu dengan kepentingan kolektif. Ia menjaga agar masyarakat tidak retak oleh ego masing-masing. Ia mengajarkan bahwa kebersamaan bukan slogan, melainkan kerja nyata. Karena itu, ketika gotong royong melemah, yang melemah bukan hanya tradisi, tetapi juga daya tahan peradaban.

Hari ini kita hidup di zaman yang memuja kecepatan, efisiensi, dan keuntungan. Semua orang sibuk membangun dirinya sendiri. Semua orang ingin cepat sampai, cepat berhasil, cepat dikenal. Tetapi justru dalam kecepatan itu, kita kehilangan banyak ruang untuk berjalan bersama. Kita menjadi masyarakat yang ramai, tetapi sepi. Dekat secara fisik, tetapi jauh secara batin. Terkoneksi secara digital, tetapi terputus secara sosial.

Ironisnya, kita masih sering berbicara tentang pembangunan, tetapi lupa bahwa pembangunan yang paling mendasar bukanlah membangun beton, melainkan membangun ikatan antarmanusia. Jalan raya bisa diperlebar, kantor bisa diperindah, anggaran bisa diperbesar, tetapi jika rasa memiliki terhadap ruang bersama itu hilang, maka semua kemajuan itu hanya akan melahirkan masyarakat yang rapuh. Masyarakat yang mudah curiga, mudah pecah, dan mudah saling meninggalkan.

Gotong royong sesungguhnya adalah warisan peradaban yang sangat canggih. Ia mengajarkan efisiensi tanpa kehilangan empati. Ia mengajarkan kerja bersama tanpa birokrasi yang berlebihan. Ia mengajarkan solidaritas tanpa harus selalu diumumkan. Di dalamnya ada etika, ada tanggung jawab, ada rasa malu jika tidak ikut membantu, ada kebanggaan jika bisa ikut memikul. Gotong royong bukan tanda keterbelakangan. Ia justru tanda bahwa suatu masyarakat memiliki tingkat kepercayaan sosial yang tinggi.

Karena itu, kehilangan gotong royong bukanlah sekadar perubahan budaya. Ia adalah gejala dari krisis yang lebih dalam: krisis makna tentang hidup bersama.

Mungkin kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: bagaimana sebuah bangsa dapat bertahan jika setiap orang hanya mau bergerak ketika ada bayaran? Bagaimana ruang publik bisa terawat jika semua orang merasa itu bukan urusannya? Bagaimana masa depan bisa dibangun jika yang tersisa hanyalah hubungan-hubungan transaksional?

Rumah, kampung, desa, kota, bahkan bangsa, tidak pernah dibangun hanya oleh uang. Semua itu dibangun oleh kesediaan untuk saling menopang. Peradaban bertahan bukan hanya karena teknologi, tetapi karena solidaritas. Dan solidaritas itu dalam sejarah bangsa ini punya nama yang sangat indah: gotong royong.

Sudah waktunya kita memulihkan kembali ingatan itu. Bukan dengan romantisme kosong, tetapi dengan keberanian untuk menghidupkannya lagi dalam tindakan kecil sehari-hari. Membersihkan lingkungan bersama, membantu tetangga tanpa pamrih, merawat fasilitas umum dengan rasa memiliki, mendidik anak-anak agar tidak tumbuh sebagai manusia yang hanya mengenal hak tetapi lupa kewajiban sosialnya. Dari hal-hal kecil itulah peradaban besar sebenarnya disusun.

Gotong royong mungkin memang sedang memudar, tetapi ia belum sepenuhnya hilang. Ia masih tersisa di beberapa kampung, di beberapa keluarga, di beberapa hati yang belum sepenuhnya ditaklukkan oleh logika untung-rugi. Tugas kita adalah menjaga sisa api itu, sebelum benar-benar padam.

Sebab jika gotong royong benar-benar hilang, yang hilang bukan hanya satu tradisi. Yang hilang adalah salah satu jejak paling penting dari siapa kita sebagai bangsa.

Dan bangsa yang kehilangan ingatan tentang kebersamaan, perlahan akan kehilangan masa depannya.

Komentar