Cinta di Tenggat Waktu: Melawan Lupa, Menolak Cinta yang Jinak

Ilustrasi Sampul
Di zaman ketika banyak orang ingin segala sesuatu serba cepat, serba ringan, serba bisa dilupakan setelah dibaca, lahirnya sebuah novel yang berani membawa ingatan sejarah perjuangan, prinsip hidup, cinta, dan petualangan sekaligus, patut dianggap sebagai peristiwa kebudayaan kecil yang penting. Cinta di Tenggat Waktu karya Hamiruddin Udu tampaknya tidak datang untuk menyenangkan pembaca yang ingin sekadar dimanjakan. Novel ini justru berpotensi mengganggu. Dan sastra yang baik, pada momen tertentu, memang harus berani mengganggu.

Kita terlalu lama dibiasakan dengan cinta yang jinak. Cinta yang dipoles sedemikian rupa agar tampak indah, lembut, dan aman dikonsumsi. Cinta yang dipisahkan dari sejarah. Cinta yang dibersihkan dari konflik nilai. Cinta yang seperti hidup di ruang steril, seolah-olah manusia jatuh cinta tanpa membawa masa lalu, tanpa membawa luka kolektif, tanpa membawa warisan perjuangan, tanpa membawa beban prinsip. Padahal dalam kenyataan, cinta tidak pernah sesederhana itu. Cinta selalu datang dengan jejak. Ia menempel pada ingatan, pada martabat, pada pilihan-pilihan yang kerap menyakitkan.

Di titik itulah Cinta di Tenggat Waktu menemukan relevansinya. Ia seperti hendak mengatakan bahwa cinta tidak layak dipahami sebagai urusan personal yang sempit. Cinta adalah arena benturan. Benturan antara hasrat dan kewajiban. Benturan antara masa lalu dan masa kini. Benturan antara keinginan untuk memiliki dan tuntutan untuk menjaga sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri. Dan ketika cinta diletakkan di bawah tekanan waktu, di bawah desakan sejarah, ia tidak lagi menjadi bunga yang harum. Ia menjadi api. Ia membakar. Ia menguji.

Judul novel ini menyimpan daya ganggu yang khas. Tenggat waktu bukan sekadar penanda akhir; ia adalah ancaman. Ia adalah suara jam yang terus berdetak di kepala. Ia adalah peringatan bahwa manusia tidak hidup dalam keluasan tanpa batas. Segala sesuatu pada akhirnya akan ditagih: keputusan, keberanian, kesetiaan, bahkan cinta. Dalam suasana demikian, novel ini tampak tidak tertarik merayakan asmara sebagai pelarian. Ia justru mendorong cinta masuk ke wilayah yang paling keras: wilayah pertanggungjawaban.

Dan justru karena itu, novel ini terasa penting di tengah budaya populer yang kian gemar menipiskan kedalaman. Kita hidup di masa ketika sejarah sering dipaksa menjadi slogan, ketika perjuangan cukup diingat pada upacara-upacara resmi, ketika prinsip hidup kerap dipertukarkan dengan kenyamanan sesaat, dan ketika cinta sendiri direduksi menjadi konsumsi emosional. Dalam ruang seperti itu, menghadirkan novel yang mengikat cinta dengan ingatan sejarah perjuangan adalah semacam tindakan pembangkangan estetik. Ia menolak lupa. Ia menolak cinta yang dimiskinkan. Ia menolak manusia yang tercerabut dari asal-usul batinnya.

Sejarah, dalam banyak karya fiksi yang lemah, sering hanya ditempel sebagai dekorasi agar cerita tampak berwibawa. Tetapi dari pengantar tema yang dibawa, Cinta di Tenggat Waktu tampaknya sedang bergerak ke arah sebaliknya. Sejarah di sini bukan hiasan. Ia adalah tekanan psikologis, beban moral, sekaligus sumber kemuliaan. Masa lalu bukan benda mati. Ia hadir sebagai sesuatu yang terus menagih jawaban dari generasi yang datang belakangan: apa yang akan kaulakukan dengan warisan itu? Akan kauteruskan, kaubela, atau kaubiarkan mati dalam kenyamanan zamanmu?

Pertanyaan seperti ini membuat novel tersebut melampaui fungsi hiburan. Ia masuk ke wilayah kebudayaan. Sebab kebudayaan, pada dasarnya, bukan hanya soal tari, lagu, bahasa, atau ritual, tetapi juga soal bagaimana sebuah masyarakat merawat ingatannya. Ketika ingatan rusak, yang rusak bukan hanya pengetahuan sejarah, melainkan juga watak manusia yang hidup di atasnya. Orang yang kehilangan sejarah akan mudah kehilangan ukuran. Ia tidak tahu lagi apa yang harus dihormati, apa yang harus diperjuangkan, dan apa yang tak boleh dijual murah. Maka novel yang berusaha merawat sejarah melalui kisah cinta sesungguhnya sedang melakukan pekerjaan yang jauh lebih penting daripada sekadar berkisah: ia sedang mempertahankan martabat memori.

Dalam konteks ini, Hamiruddin Udu tampaknya sedang mengambil posisi yang tidak populer, tetapi terhormat. Ia tidak sedang menawarkan cinta yang habis dibaca lalu menguap. Ia seperti hendak mengembalikan cinta kepada habitat aslinya: habitat yang berisi risiko, kehormatan, petualangan, dan luka. Cinta di sini bukan perkara siapa memiliki siapa, melainkan siapa berani memikul konsekuensi dari pilihan hatinya. Dan karena itu, cinta tidak lagi sentimental. Ia menjadi eksistensial.

Lebih jauh, ada hal yang menarik dari pertemuan antara prinsip hidup dan petualangan dalam novel ini. Dua unsur ini membuat cerita berpotensi tidak terjebak pada romantisme pasif. Petualangan menandakan gerak, pencarian, dan benturan dengan dunia luar. Sementara prinsip hidup menandakan sumbu batin, sesuatu yang menahan tokoh agar tidak tercerai-berai oleh keadaan. Ketika keduanya bertemu, pembaca tidak hanya diajak mengikuti alur, tetapi juga menyaksikan pertarungan terdalam manusia: apakah ia tetap menjadi dirinya ketika dunia memaksanya berubah?

Pertanyaan itu sangat politis, sangat kultural, dan sangat manusiawi sekaligus. Sebab seluruh tragedi besar manusia, pada dasarnya, selalu bertumpu pada pertanyaan serupa: sampai di mana seseorang dapat mempertahankan prinsipnya ketika cinta, kekuasaan, waktu, dan sejarah datang bersamaan menekannya? Di tangan penulis yang peka, ini bisa menjadi medan sastra yang subur. Dan dari premis yang dibawa, Cinta di Tenggat Waktu menjanjikan medan itu.

Di sinilah kita bisa memahami mengapa novel semacam ini layak dipromosikan bahkan sebelum terbit. Bukan semata-mata agar publik tahu ada buku baru, tetapi agar pembaca disiapkan menghadapi sebuah karya yang tampaknya tidak mau tunduk pada selera yang serba dangkal. Novel ini berpotensi hadir sebagai tandingan atas kecenderungan sastra populer yang terlalu cepat akrab dengan yang manis-manis, tetapi gugup ketika berhadapan dengan sejarah, martabat, dan prinsip. Ia seperti hendak mengingatkan bahwa sastra tidak diciptakan hanya untuk membuat kita terhibur, tetapi juga untuk membuat kita gelisah secara terhormat.

Kegelisahan itu penting. Bangsa yang sehat bukan bangsa yang sekadar pandai merayakan, tetapi juga bangsa yang sanggup diganggu oleh ingatannya sendiri. Masyarakat yang dewasa bukan masyarakat yang hanya mencari hiburan, tetapi juga berani membaca kisah-kisah yang memaksa mereka memikirkan kembali hubungan antara cinta dan tanggung jawab, antara sejarah dan harga diri, antara waktu dan keberanian. Dalam makna itulah, Cinta di Tenggat Waktu patut dibaca sebagai bagian dari usaha kecil melawan pembusukan batin yang diam-diam terjadi di zaman yang terlalu ramai tetapi terlalu dangkal ini.

Kita membutuhkan lebih banyak karya yang tidak takut pada kedalaman. Karya yang tidak malu berbicara tentang prinsip hidup ketika dunia sibuk menertawakannya. Karya yang tidak alergi pada sejarah ketika publik lebih mudah terpikat oleh sensasi. Karya yang berani memaksa cinta keluar dari ruang nyaman dan menempatkannya di bawah cahaya yang keras: cahaya waktu, perjuangan, kehilangan, dan keputusan.

Maka ketika novel ini segera sampai ke tangan pembaca, ia semestinya tidak disambut sebagai sekadar tambahan judul baru di rak bacaan. Ia patut disambut sebagai pernyataan. Sebuah pernyataan bahwa sastra masih punya keberanian. Bahwa cinta belum seluruhnya dijinakkan pasar. Bahwa sejarah masih mungkin hidup di dalam fiksi. Dan bahwa manusia, betapapun dikejar tenggat zaman, tetap dituntut menjawab pertanyaan yang sama: apa yang akan ia pertahankan ketika semuanya hampir terlambat?

Cinta di Tenggat Waktu bukan janji tentang kisah cinta yang aman. Ia justru pertaruhan tentang apakah cinta masih sanggup berdiri tegak di hadapan sejarah dan waktu. Dan justru di situlah letak bahayanya. Sekaligus keindahannya.

Segera terbit: Cinta di Tenggat Waktu karya Hamiruddin Udu.
Sebuah novel yang tidak sekadar bercerita tentang cinta, tetapi menggugat cara kita mengingat sejarah, menjaga prinsip, dan memahami arti pengorbanan.


Komentar