Benteng Tindoi dan Ingatan Peradaban yang Tak Boleh Runtuh

Oleh: Sumiman Udu

Ketika orang menyebut Wakatobi, yang segera terbayang biasanya adalah laut biru, terumbu karang, dan kekayaan bawah airnya. Padahal, Wakatobi tidak hanya menyimpan peradaban laut, tetapi juga jejak peradaban darat yang penting untuk dibaca ulang. Salah satu jejak itu adalah Benteng Tindoi di Pulau Wangi-Wangi, sebuah situs budaya yang tidak hanya menghadirkan sisa bangunan masa lalu, tetapi juga membuka pemahaman tentang bagaimana masyarakat lama membangun ruang hidup, pertahanan, ingatan, dan nilai-nilai kebudayaannya. Sejumlah kajian menyebut Benteng Tindoi sebagai situs budaya peninggalan masa lampau di Pulau Wangi-Wangi yang masih dijaga oleh masyarakat lokal, khususnya komunitas Tindoi Raya.

Saya memandang Benteng Tindoi bukan sekadar objek sejarah, melainkan arsip peradaban. Ia adalah bukti bahwa di wilayah kepulauan seperti Wakatobi, masyarakat masa lalu telah memiliki kemampuan memilih lokasi strategis, membangun sistem perlindungan, dan menata kehidupan komunal dalam satu kawasan yang terhubung dengan alam serta kepercayaan. Letak Benteng Tindoi di kawasan tinggi Pulau Wangi-Wangi bukanlah hal yang kebetulan. Sumber akademik dan laporan lapangan sama-sama menggambarkan benteng ini berada di titik tinggi dengan panorama luas, disertai jejak pemukiman lama, reruntuhan benteng, dan area pemakaman di sekitarnya. Semua ini menunjukkan bahwa benteng tersebut dahulu bukan ruang kosong, melainkan ruang hidup yang utuh.

Di sinilah letak pentingnya: kita terlalu sering memahami benteng hanya sebagai bangunan pertahanan. Padahal, benteng dalam banyak tradisi lokal Nusantara juga merupakan pusat kehidupan sosial. Di Benteng Tindoi, keberadaan makam, bekas pemukiman, dan kawasan yang masih dipandang sakral oleh masyarakat memperlihatkan bahwa situs ini adalah tempat berjalinnya politik ruang, memori leluhur, dan etika kebudayaan. Bahkan kajian tentang Wakatobi menempatkan Benteng Tindoi bersama benteng-benteng lain di empat pulau besar sebagai bagian dari situs sejarah yang terkait erat dengan penyebaran Islam dan perkembangan sejarah kawasan, termasuk jejaring kekuasaan Buton, Tidore, dan Ternate.

Karena itu, Benteng Tindoi sesungguhnya lebih tepat dibaca sebagai jejak peradaban lama, bukan sekadar warisan wisata. Dalam benteng itu tersimpan pesan bahwa masyarakat Wakatobi masa lalu telah mengenal tata ruang yang sadar keamanan, sadar simbol, dan sadar keberlanjutan. Mereka memilih tempat tinggi, menjaga kawasan, menandai ruang-ruang penting, dan mewariskan makna pada lanskapnya. Ini adalah tanda adanya peradaban yang tidak sederhana. Peradaban bukan hanya tentang istana besar atau prasasti batu. Peradaban juga tampak dari bagaimana manusia memberi makna pada tempat, menghubungkan hidup dengan lingkungan, dan membangun tata sosial yang bertahan dalam ingatan kolektif.

Yang membuat Benteng Tindoi semakin bernilai adalah kenyataan bahwa ia belum sepenuhnya mati sebagai memori budaya. Di mata masyarakat, kawasan ini masih memiliki makna spiritual. Ada etika masuk kawasan, ada larangan tertentu, ada penghormatan terhadap makam dan wilayah hutan di sekitarnya. Dalam laporan lapangan, pengunjung bahkan disebut harus mematuhi norma adat tertentu saat memasuki kawasan benteng. Bagi saya, ini penting, sebab situs sejarah yang masih hidup dalam kesadaran masyarakat jauh lebih bermakna daripada situs yang hanya dipagari, difoto, lalu ditinggalkan tanpa pemahaman. (telisik.id)

Namun, di sinilah juga letak tantangannya. Kita sering terlalu cepat mengubah situs budaya menjadi komoditas wisata, tanpa terlebih dahulu membangun kesadaran bahwa yang dijual itu adalah martabat sejarah suatu masyarakat. Kajian tahun 2024 memang menilai Benteng Tindoi memiliki nilai historis, budaya, dan potensi wisata yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan. Tetapi pengembangan semacam itu seharusnya dimulai dari pelestarian, riset, penataan narasi sejarah, dan pelibatan masyarakat adat sebagai pemilik ingatan budaya. Jika tidak, maka yang tersisa hanyalah “tempat bagus untuk dikunjungi”, bukan “tempat penting untuk dipahami”.

Menurut saya, negara dan pemerintah daerah harus memandang Benteng Tindoi sebagai sumber pengetahuan peradaban lokal. Situs seperti ini dapat menjadi ruang pendidikan sejarah, kebudayaan, identitas daerah, bahkan penguatan karakter generasi muda. Anak-anak Wakatobi perlu tahu bahwa tanah mereka tidak hanya terkenal karena lautnya, tetapi juga karena jejak kebudayaannya yang panjang. Mereka harus mengenal bahwa leluhur mereka pernah membangun sistem hidup yang tertib, bermakna, dan berwibawa. Kesadaran semacam ini penting agar pembangunan daerah tidak tercerabut dari akar sejarahnya.

Lebih jauh lagi, Benteng Tindoi mengajarkan kita satu hal mendasar: masa lalu tidak pernah benar-benar pergi. Ia tetap hadir dalam nama tempat, dalam cerita rakyat, dalam makam, dalam reruntuhan batu, dalam etika masuk kawasan, dan dalam rasa hormat masyarakat kepada ruang yang dianggap tua dan sakral. Selama semua itu masih hidup, selama itu pula Benteng Tindoi bukan sekadar peninggalan, melainkan bagian dari identitas yang terus berbicara kepada masa kini.

Karena itu, merawat Benteng Tindoi bukan hanya pekerjaan konservasi fisik. Ia adalah pekerjaan kebudayaan. Ia menuntut riset yang serius, dokumentasi yang baik, penetapan perlindungan yang kuat, dan narasi publik yang bermartabat. Benteng Tindoi harus diletakkan sebagai salah satu simpul penting untuk memahami sejarah Wakatobi. Bila situs seperti ini diabaikan, maka yang hilang bukan hanya batu tua, tetapi juga jejak cara sebuah masyarakat memahami dunia, mengatur hidup, dan mewariskan nilainya.

Pada akhirnya, Benteng Tindoi layak ditempatkan sebagai cermin peradaban lama Wakatobi. Ia berdiri bukan hanya sebagai reruntuhan, tetapi sebagai pengingat bahwa sejarah besar sering kali tersembunyi di tempat-tempat yang sunyi. Yang dibutuhkan hari ini adalah keberanian untuk membaca kembali kesunyian itu, lalu menjaganya agar tidak runtuh oleh kelalaian zaman.

Komentar

Posting Komentar