Ari-Ari, Sel Punca, dan Ingatan Tubuh yang Tidak Pernah Selesai

 Membaca Kembali Kebijaksanaan Buton dalam Cahaya Ilmu Regeneratif


Artikel ini adalah diskusi Panjang dengan AI
Oleh: Sumiman Udu

Rumah Ingatan: Ada bagian dari tubuh manusia yang sering kita anggap selesai setelah kelahiran. Ia keluar bersama bayi, lalu dikuburkan, disimpan, atau diperlakukan menurut adat. Dalam bahasa medis, ia disebut plasenta. Dalam bahasa banyak tradisi Nusantara, ia disebut ari-ari. Tetapi dalam pandangan orang Buton, ari-ari bukan sekadar sisa biologis. Ia adalah “kakak”: yang lebih dahulu bekerja sebelum bayi mampu bernapas sendiri, yang memberi makan sebelum mulut mengenal air susu, yang menyaring kehidupan sebelum manusia mengenal dunia.

Di situlah kebijaksanaan lama menyimpan pertanyaan besar: mungkinkah tubuh manusia sebenarnya tidak pernah sepenuhnya terpisah dari asal-usulnya?

Dalam ilmu modern, plasenta adalah organ luar biasa. Ia menjadi jembatan antara ibu dan janin, mengalirkan oksigen, nutrisi, sinyal pertumbuhan, dan perlindungan imunologis. Dari jaringan perinatal seperti plasenta, tali pusat, amnion, dan Wharton’s jelly, ilmu kedokteran regeneratif menemukan potensi sel punca yang besar. Sel-sel ini diteliti karena kemampuannya berkembang, mengatur peradangan, mendukung perbaikan jaringan, dan membuka harapan baru dalam terapi regeneratif.

Namun, sebelum ilmu menyebutnya “sel punca”, tradisi telah mengenal ari-ari sebagai saudara awal kehidupan. Ia tidak dijelaskan dengan mikroskop, tetapi dengan doa. Ia tidak dipahami sebagai jaringan mesenkimal, tetapi sebagai kakak batin. Ia tidak dipanggil dalam laboratorium, tetapi dihadirkan dalam ingatan spiritual manusia.

Di sinilah peradaban lama dan ilmu modern dapat saling menyapa.

Sel punca mengajarkan bahwa tubuh bukan benda mati. Tubuh adalah sistem yang memperbaiki dirinya sendiri. Kulit yang luka menutup kembali. Darah terus diperbarui. Tulang dapat menyambung. Jaringan tertentu mampu memperbaiki kerusakan. Tubuh, pada dasarnya, membawa bengkel rahasia di dalam dirinya. Ia membaca luka, merespons kerusakan, lalu menyusun kembali kehidupan dalam diam.

Tetapi penuaan menunjukkan bahwa bengkel itu memiliki batas. Seiring usia, kemampuan regenerasi menurun. DNA rusak, telomer memendek, mitokondria melemah, peradangan meningkat, dan cadangan sel punca tidak lagi bekerja sekuat masa muda. Maka, impian manusia untuk tidak menua selamanya masih berada jauh dari kepastian ilmiah. Yang lebih mungkin hari ini bukanlah menghapus penuaan, melainkan memperpanjang masa hidup sehat: membuat manusia menua dengan lebih lambat, lebih bermartabat, dan lebih sadar.

Namun, tradisi Buton membawa pertanyaan yang lebih dalam daripada sekadar umur panjang. Ia tidak hanya bertanya bagaimana tubuh bisa bertahan, tetapi bagaimana manusia bisa tetap mengingat asal-usul tubuhnya.

Bagi orang Buton, ari-ari harus dihadirkan dalam doa. Ia bukan hanya bagian dari masa lalu biologis, tetapi bagian dari memori spiritual. Doa kepada ari-ari bukan berarti manusia dewasa ingin kembali menjadi bayi. Ia adalah cara untuk mengingat bahwa manusia pernah hidup dalam keadaan paling murni: dilindungi, diberi makan, dipelihara, dan sepenuhnya bergantung pada kehidupan lain.

Manusia dewasa sering lupa bahwa sebelum ia menjadi “aku”, ia pernah menjadi “kita”. Aku dan ibu. Aku dan rahim. Aku dan air ketuban. Aku dan ari-ari. Aku dan napas yang belum bisa kuusahakan sendiri. Dalam ari-ari, manusia belajar bahwa hidup pertama-tama bukanlah kemandirian, melainkan keterhubungan.

Maka, ketika orang Buton menyebut ari-ari sebagai kakak, sesungguhnya mereka sedang menyusun filsafat tubuh. Kakak adalah yang mendahului, menjaga, mengantar, dan mengingatkan. Ari-ari mendahului kesadaran manusia. Ia bekerja sebelum nama diberikan. Ia melindungi sebelum kata perlindungan dipahami. Ia memberi kehidupan sebelum manusia mampu berdoa untuk dirinya sendiri.

Dalam kerangka ilmu, setelah kelahiran, ari-ari tidak lagi menjadi organ aktif dalam tubuh manusia. Ia tidak lagi secara fisik mengatur darah, oksigen, atau nutrisi anak. Tetapi dalam kerangka kebudayaan, ari-ari tetap aktif sebagai ingatan. Ia hidup bukan sebagai jaringan, melainkan sebagai relasi. Ia hadir bukan sebagai organ, melainkan sebagai tanda bahwa manusia tidak boleh memutus hubungan dengan asal-usulnya.

Di sinilah kita perlu memahami perbedaan antara bukti biologis dan kebenaran simbolik. Ilmu modern belum dapat membuktikan bahwa ari-ari yang telah dikubur masih melindungi tubuh dewasa secara langsung. Tetapi ilmu juga tidak dapat begitu saja menertawakan kebudayaan yang menempatkan ari-ari sebagai saudara spiritual. Sebab tidak semua yang menyembuhkan manusia bekerja melalui obat. Ada yang menyembuhkan melalui ingatan, rasa hormat, doa, dan kesadaran moral.

Tradisi tidak selalu berbicara dalam bahasa laboratorium. Kadang tradisi berbicara dalam bahasa lambang. Ketika dikatakan bahwa ari-ari melindungi manusia dewasa, mungkin yang dimaksud bukan perlindungan fisik seperti antibodi atau sel imun, melainkan perlindungan batin: agar manusia tidak menjadi tubuh yang sombong, tidak menjadi jiwa yang lupa asal, tidak menjadi makhluk dewasa yang merasa dirinya lahir dari dirinya sendiri.

Sebab salah satu penyakit manusia modern adalah lupa bahwa ia pernah ditolong. Ia lupa bahwa tubuhnya dibangun oleh ibu, oleh makanan, oleh tanah, oleh air, oleh udara, oleh leluhur, oleh doa, oleh jaringan kehidupan yang jauh lebih besar daripada dirinya. Manusia modern merasa otonom, padahal tubuhnya adalah hasil gotong royong biologis dan kosmik.

Di tengah diskusi tentang sel punca, anti-penuaan, dan kedokteran regeneratif, tradisi Buton memberi arah etik yang penting. Ilmu bertanya: bagaimana tubuh diperbaiki? Tradisi bertanya: untuk apa tubuh diperpanjang umurnya? Ilmu mencari cara agar sel tetap muda. Tradisi mengingatkan agar jiwa tidak menjadi tua karena lupa asal-usul.

Maka, kemungkinan terbesar dari dialog ini bukanlah bahwa manusia akan menemukan jalan untuk hidup abadi. Kemungkinan yang lebih indah adalah bahwa manusia akan belajar kembali menghormati tubuhnya. Tubuh bukan mesin yang boleh dieksploitasi tanpa batas. Tubuh adalah rumah ingatan. Di dalamnya ada jejak ibu, air, darah, makanan, tanah, leluhur, dan masa depan.

Ari-ari adalah naskah pertama tubuh. Sel punca adalah aksara regeneratif yang ditulis oleh kehidupan. Doa adalah cara kebudayaan membaca kembali naskah itu. Ketiganya bertemu dalam satu kesadaran: manusia tidak hanya hidup karena organ bekerja, tetapi karena hubungan dijaga.

Mungkin, inilah sumbangan besar tradisi Buton bagi percakapan ilmu masa depan. Ia mengajarkan bahwa regenerasi tidak cukup dipahami sebagai perbaikan jaringan. Regenerasi juga berarti memperbaiki hubungan manusia dengan asal-usulnya. Menjadi sehat bukan hanya berarti organ berfungsi, tetapi juga berarti ingatan tidak putus. Menjadi panjang umur bukan hanya berarti menambah tahun, tetapi menjaga agar manusia tidak kehilangan kebijaksanaan dalam tubuhnya sendiri.

Di masa depan, ilmu mungkin akan semakin jauh membaca plasenta, sel punca, eksosom, gen, biomarker, dan mekanisme penuaan. Tetapi tradisi telah lama mengingatkan bahwa tubuh yang sehat adalah tubuh yang tahu berterima kasih. Tubuh yang tidak melupakan rahim. Tubuh yang masih mendengar suara “kakak” sunyi bernama ari-ari.

Sebab manusia yang lupa ari-arinya, pada akhirnya, bukan hanya lupa pada kelahirannya. Ia lupa bahwa hidup adalah titipan dari jaringan kasih yang lebih tua daripada dirinya. Dan manusia yang lupa bahwa hidup adalah titipan, akan mudah merusak tubuh, merusak alam, merusak sesama, bahkan merusak masa depannya sendiri.

Ari-ari, dalam pandangan Buton, adalah penjaga ingatan itu. Bukan agar manusia kembali ke masa bayi, tetapi agar manusia dewasa tidak menjadi terlalu keras untuk diingatkan oleh asal-usulnya.

Di situlah ilmu dan tradisi bertemu: sel punca memperlihatkan bahwa tubuh memiliki kemampuan memperbaiki diri; ari-ari mengingatkan bahwa hidup manusia sejak awal adalah peristiwa perlindungan. Ilmu memberi pengetahuan tentang mekanisme. Tradisi memberi pengetahuan tentang makna.

Dan peradaban yang baik adalah peradaban yang mampu menjaga keduanya.

Komentar