Para Bela, Sara, dan Kangkilo: Rumah Ingatan Peradaban Cia-Cia
Para Bela adalah rumah Sara dan cahaya kangkilo yang menjaga masyarakat Cia-Cia agar tidak kehilangan ingatan, nilai, dan arah peradabannya di tengah perubahan zaman.
Oleh: Dr. La Ode Balawa, M.Hum.
Rumah Ingatan: Di tengah zaman yang bergerak cepat, ketika kehidupan semakin diatur oleh sistem, angka, dan administrasi, masyarakat Cia-Cia masih menyimpan satu kekuatan sunyi yang menjaga keseimbangan hidupnya: Para Bela. Ia bukan sekadar lembaga adat, melainkan ruang batin tempat Sara hidup, tempat nilai dijaga, dan tempat manusia belajar menjadi manusia.Para Bela tidak lahir dari ruang formal negara. Ia lahir dari pengalaman panjang masyarakat membaca kehidupan. Ia tumbuh dari kesadaran bahwa hidup bersama membutuhkan aturan, tetapi lebih dari itu, membutuhkan nilai. Nilai yang tidak tertulis dalam undang-undang, tetapi hidup dalam hati manusia. Nilai yang tidak dipaksakan, tetapi dijalankan karena kesadaran.
Dalam struktur kehidupan masyarakat Cia-Cia, Para Bela menjalankan fungsi yang sangat mendasar. Ia menjadi penjaga hukum adat, pengarah musyawarah, penyeimbang konflik, pengikat hubungan sosial, dan penjaga kehormatan kolektif. Para Bela bukan hanya mengatur kehidupan masyarakat, tetapi menjaga agar kehidupan itu tetap berada dalam jalur yang bermartabat.
Namun, fungsi Para Bela yang paling dalam bukanlah fungsi struktural, melainkan fungsi moral. Ia menjaga agar keputusan tidak lahir dari emosi, tetapi dari kejernihan. Ia memastikan bahwa musyawarah tidak berubah menjadi dominasi. Ia mengingatkan bahwa kekuasaan tidak boleh melampaui nilai. Di sinilah Para Bela bekerja sebagai penjaga peradaban, bukan sekadar penjaga adat.
Nilai dasar dari semua itu adalah kangkilo.
Kangkilo adalah fondasi etika dalam kehidupan masyarakat. Ia bukan sekadar konsep kebersihan lahiriah, tetapi kebersihan batin. Ia mengajarkan bahwa sebelum manusia mengatur orang lain, ia harus mampu mengatur dirinya sendiri. Sebelum berbicara tentang keadilan, ia harus membersihkan niatnya. Sebelum mengambil keputusan, ia harus memastikan pikirannya jernih dari kepentingan sempit.
Tanpa kangkilo, adat dapat berubah menjadi alat kekuasaan. Sara dapat kehilangan maknanya. Dan Para Bela dapat kehilangan arah. Karena itu, kangkilo bukan hanya nilai tambahan, tetapi inti dari seluruh sistem adat. Ia adalah cahaya yang menerangi setiap keputusan, setiap musyawarah, dan setiap tindakan dalam kehidupan masyarakat.
Sebagai seorang yang bergelut dalam kajian sastra dan kebudayaan, saya melihat bahwa Para Bela sesungguhnya adalah teks hidup. Ia bukan hanya lembaga sosial, tetapi narasi peradaban. Di dalamnya tersimpan bahasa, nilai, sejarah, dan pengalaman kolektif masyarakat Cia-Cia. Tradisi seperti ini tidak boleh dibiarkan hilang dalam sunyi. Ia harus ditulis, didokumentasikan, dan diwariskan sebagai bagian dari ingatan budaya.
Namun, kita tidak bisa menutup mata bahwa zaman telah berubah. Hari ini, kehidupan masyarakat bergerak dalam sistem yang semakin modern, administratif, dan digital. Keputusan sering diukur dengan data, program, dan regulasi. Dalam banyak hal, ini adalah kemajuan. Tetapi ketika nilai tidak ikut dibawa, kemajuan itu dapat menjadi kosong.
Kita mulai melihat gejala itu: musyawarah yang melemah, rasa malu yang menipis, konflik yang diselesaikan dengan emosi, dan generasi muda yang semakin jauh dari akar budayanya. Dalam kondisi seperti ini, Para Bela tidak boleh hanya dikenang. Ia harus dihidupkan kembali.
Penguatan Lembaga Adat Para Bela bukanlah upaya untuk kembali ke masa lalu, tetapi untuk menyelamatkan masa depan. Sebab masa depan tanpa akar adalah masa depan yang rapuh. Karena itu, diperlukan langkah strategis untuk memperkuat Para Bela, salah satunya melalui penyusunan Naskah Akademik Perda Hak Sara Lembaga Adat Para Bela.
Perda ini tidak boleh hanya menjadi dokumen hukum. Ia harus menjadi jembatan antara adat dan negara. Ia harus lahir dari suara masyarakat, dari pengalaman sejarah, dari nilai Sara, dan dari semangat kangkilo. Ia harus memberi ruang bagi Para Bela untuk hidup, bekerja, dan berkembang dalam sistem pemerintahan modern, tanpa kehilangan ruhnya.
Lebih dari itu, penguatan Para Bela harus menyentuh generasi muda. Sebab masa depan adat tidak berada di tangan masa lalu, tetapi di tangan mereka yang hari ini hidup di tengah dunia digital. Mereka perlu memahami bahwa kangkilo adalah nilai yang sangat relevan. Ia adalah dasar integritas, etika publik, dan tanggung jawab sosial yang justru semakin dibutuhkan di zaman ini.
Pada akhirnya, kita harus menyadari bahwa sebuah masyarakat tidak hilang hanya karena perubahan zaman. Ia hilang ketika kehilangan ingatan. Ketika tidak lagi mengenal nilai yang membentuknya. Ketika tidak lagi memiliki lembaga yang menjaga keseimbangannya.
Para Bela adalah penjaga ingatan itu.
Sara adalah jalan nilainya.
Kangkilo adalah cahaya batinnya.
Di tengah perubahan zaman, tugas kita bukan memilih antara adat dan modernitas. Tugas kita adalah memastikan bahwa modernitas tidak berjalan tanpa nilai, dan adat tidak bertahan tanpa pembaruan.
Sebab hanya masyarakat yang mampu menjaga akar sambil menulis masa depan yang akan bertahan sebagai peradaban.

Komentar
Posting Komentar