Indonesia yang Tahan Banting: Antara Kekayaan Alam dan Manusia yang Sering Dilupakan

Indonesia disebut sebagai negara nomor dua paling tahan terhadap guncangan energi global setelah Afrika Selatan; tetapi ketahanan sejati bangsa ini bukan hanya terletak pada batu bara, gas, nikel, hutan, laut, dan panas bumi, melainkan pada manusia Indonesia yang selama ini terlalu sering dilupakan oleh angka-angka ekonomi global.


Oleh Sumiman Udu 

Rumah Ingatan: Ada kabar yang datang dari luar pagar bangsa ini: Indonesia dinobatkan sebagai salah satu negara paling tahan terhadap guncangan energi global. Dalam sejumlah pemberitaan yang merujuk pada laporan J.P. Morgan, Indonesia ditempatkan pada peringkat kedua dunia setelah Afrika Selatan dalam hal ketahanan menghadapi gejolak energi global. Indonesia disebut memiliki insulation factor sekitar 77 persen, di bawah Afrika Selatan 79 persen, dan di atas Tiongkok serta Amerika Serikat.

Di atas kertas, ini tampak seperti kabar ekonomi. Tetapi bagi Rumah Ingatan Peradaban, kabar ini tidak cukup hanya dibaca sebagai statistik. Ia harus dibaca sebagai cermin: bahwa bangsa ini sesungguhnya memiliki daya hidup yang panjang, daya lenting yang tua, dan daya tahan yang lahir bukan hanya dari tambang, hutan, laut, sawah, dan energi, tetapi juga dari manusia-manusia yang dibesarkan oleh tanah, adat, kerja, dan penderitaan sejarah.

J.P. Morgan mungkin benar ketika membaca kekuatan Indonesia dari sisi energi domestik: batu bara, gas bumi, energi terbarukan, serta kemampuan bangsa ini memenuhi sebagian kebutuhan energinya dari sumber sendiri. Beberapa laporan menyebut bahwa posisi Indonesia ditopang oleh besarnya kontribusi energi domestik dalam konsumsi nasional, termasuk batu bara dan gas. Namun, ada satu hal yang sering luput dari mata lembaga keuangan global: Indonesia bukan hanya negeri sumber daya alam; Indonesia adalah negeri sumber daya manusia yang belum selesai dibangunkan.

Di sinilah letak kekeliruan banyak pembacaan global atas Indonesia. Mereka menghitung batubara, tetapi tidak menghitung keringat buruh tambang. Mereka menghitung gas, tetapi tidak menghitung nelayan yang membaca angin dan arus. Mereka menghitung nikel, tetapi lupa menghitung anak-anak muda yang merantau, guru-guru di pelosok, petani yang tetap menanam meski harga pupuk naik, perempuan-perempuan desa yang menjaga dapur keluarga ketika negara sedang goyah.

Indonesia tahan bukan semata-mata karena bumi di bawahnya kaya. Indonesia tahan karena manusia di atasnya terlalu lama dilatih oleh krisis.

Bangsa ini pernah melewati kolonialisme, kelaparan, perang, krisis moneter, reformasi, pandemi, bencana alam, konflik sosial, kenaikan harga, dan ketidakpastian politik. Tetapi di setiap patahan sejarah itu, rakyat kecil selalu menemukan cara untuk bertahan. Ketika pasar runtuh, warung kecil tetap hidup. Ketika negara terlambat hadir, keluarga besar bekerja. Ketika industri terguncang, desa menjadi tempat pulang. Ketika ekonomi modern kehilangan napas, gotong royong masih menjadi oksigen terakhir.

Itulah daya tahan yang tidak selalu masuk dalam laporan keuangan.

Indonesia tidak hanya punya sumber daya alam, tetapi punya sumber daya kebudayaan. Ada lumbung sosial bernama gotong royong. Ada etika hidup bernama malu. Ada tanggung jawab kolektif bernama adat. Ada kesabaran panjang bernama ibu. Ada keberanian sunyi bernama guru. Ada ketekunan bernama petani. Ada kecerdasan ekologis bernama nelayan. Ada daya cipta bernama pemuda. Ada spiritualitas bernama doa.

Sayangnya, justru kekuatan manusia inilah yang sering diabaikan dalam pembangunan. Kita terlalu lama memuja investasi, tetapi lupa merawat pendidikan. Kita terlalu bangga pada hilirisasi mineral, tetapi kurang sungguh-sungguh melakukan hilirisasi kecerdasan. Kita sibuk membangun pabrik, tetapi guru honorer masih menunggu keadilan. Kita bangga menjadi pusat energi dunia, tetapi masih banyak anak muda kehilangan arah karena sekolah tidak selalu mengajarkan imajinasi peradaban.

Padahal bangsa besar tidak hanya lahir dari tanah yang kaya. Bangsa besar lahir dari manusia yang berkarakter.

Afrika Selatan dan Indonesia dalam laporan itu mungkin sama-sama dibaca sebagai negara yang tahan terhadap guncangan energi. Tetapi Indonesia memiliki lapisan ketahanan yang jauh lebih tua: ketahanan kampung, ketahanan keluarga, ketahanan adat, ketahanan bahasa, ketahanan iman, ketahanan laut, dan ketahanan ingatan. Di negeri kepulauan ini, daya tahan tidak hanya dibangun oleh kilang dan tambang, tetapi oleh perahu kecil yang berani menyeberangi ombak.

Maka, ketika dunia memuji Indonesia karena kuat menghadapi krisis energi, kita harus bertanya lebih dalam: apakah bangsa ini juga kuat menghadapi krisis moral? Apakah kita tahan menghadapi krisis pendidikan? Apakah kita tahan menghadapi krisis kejujuran? Apakah kita tahan menghadapi krisis pangan, krisis ekologi, krisis kebudayaan, dan krisis imajinasi bersama?

Sebab tidak ada gunanya menjadi bangsa kaya energi jika miskin arah. Tidak ada gunanya memiliki tambang melimpah jika manusia di sekitarnya tetap miskin. Tidak ada gunanya memiliki laut luas jika nelayan tetap menjadi tamu di rumahnya sendiri. Tidak ada gunanya disebut negara tangguh jika rakyat kecil hanya menjadi catatan kaki dari pembangunan besar.

J.P. Morgan mungkin melihat Indonesia sebagai negara yang terlindungi dari guncangan harga energi dunia. Tetapi Rumah Ingatan Peradaban ingin membacanya lebih jauh: Indonesia hanya akan benar-benar tangguh apabila kekayaan alamnya disambungkan dengan keadilan sosial, pendidikan bermutu, kedaulatan pangan, kebudayaan hidup, dan penghormatan kepada manusia.

Sumber daya alam bisa habis. Batubara bisa digali sampai tandas. Nikel bisa diangkut sampai gunung kehilangan tubuhnya. Gas bisa menipis. Hutan bisa hilang. Laut bisa rusak. Tetapi manusia yang berilmu, berkarakter, berakar, dan berimajinasi tidak akan pernah habis. Ia justru akan melahirkan energi baru: energi moral, energi sosial, energi kebudayaan, dan energi peradaban.

Karena itu, kabar bahwa Indonesia berada di peringkat kedua dunia dalam ketahanan energi jangan hanya dijadikan bahan kebanggaan pemerintah. Ia harus dijadikan panggilan untuk membangun manusia Indonesia. Jangan sampai dunia memuji tanah kita, sementara kita sendiri melupakan anak-anak yang berjalan di atas tanah itu.

Indonesia memang kaya. Tetapi kekayaan terbesar bangsa ini bukan berada di bawah bumi. Ia berada di dalam dada manusia Indonesia: keberanian untuk bertahan, kesabaran untuk bekerja, dan kemampuan untuk bangkit berkali-kali meski sejarah sering tidak adil.

Di situlah Indonesia sesungguhnya dinobatkan: bukan hanya sebagai negara tahan guncangan energi, tetapi sebagai bangsa yang masih menyimpan api peradaban di tengah badai dunia.

Komentar